Ledek Gogek, Kesenian Tradisional Jawa yang Semakin Terlupakan

Ledek Gogek Bocil (Tengah) dengan busana kekinian, salah satu peserta karnaval di Kampung Suryoputran, Yogyakarta. (Tedy Kartyadi/ bernasnews)

bernasnews — Ledek Gogek (Gogik) adalah sebuah karya tarian yang berasal dari Jawa. Tarian ini menggambar seseorang laki-laki yang menggendong boneka sebesar manusia sehingga tampak seperti dua orang yang satunya digendong.

Jenis tarian ini kekinian sudah jarang ditampilkan, bahkan anak-anak generasi mineal bisa dikatakan tak ada yang mengenalnya. Sebuah tarian yang memberikan pesan moral berupa keteladanan yaitu kolaborasi atau kerjasama antara si tuna daksa (cacat kaki) dengan si tuna netra bertubuh kuat dalam berkesenian untuk mencari makan.

Ledek Gogek dari bahasa Jawa, ledek adalah seseorang yang berprofesi penari yang sekaligus menembang (menyanyi). Sedang kata gogek ada yang mengartikan gojek atau bercanda, namun ada juga yang menyebut gogik yaitu bahan makanan yang berasal dari thiwul yang dikeringkan sebagai pengganti beras.

Penyebutan Ledek Gogik menurut Sukirman (almarhum) salah seorang pelaku seni Ledek Gogik dari Jogja yang pernah disampaikan pada media ini kala masih berbentuk media cetak koran tahun 2000an. Bahwa kesenian ini cukup populer pada tahun 1960-1970. “Zaman itu karena ekonomi susah sekadar beli beras saja sulit dan mahal, maka banyak pelaku seni yang mengamen dengan cara itu agar bisa membeli gogik,” ungkapnya.

Masa-masa itu penampilan Ledek Gogek bisa dilakukan sendiri atau monolog, juga ada yang disertai dengan alat musik sederhana berupa kendang saja atau lengkap disertai alat musik siter dan gambang. Hal ini tentu menjadi sebuah kajian yang menarik untuk dinas terkait agar jangan sampai hilang atau punah tergerus oleh kesenian-kesenian dari manca. (ted)