bernasnews – Dalam keberagaman dan dinamika kehidupan yang terus berkembang di tanah air, kaum muda diajak aktif untuk memajukan bangsa dan Negara Indonesia. Di sisi lain, kebhinekaan menjadi sarana srawung kaum muda untuk menambah persaudaraan dan membangun diri.
Dua hal itu mengemuka dalam dialog budaya sesi pertama di pagi hari dan dialog budaya sesi dua di malam hari pada Gelar Budaya Gereja Santa Maria Assumpta (GMA) Gamping 2023 di lapangan Balecatur, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Minggu (20/8). Ini merupakan gelaran puncak dari serangkaian acara Hari Paroki (HARPA) Gereja Maria Assumpta Gamping sejak bulan Juli lalu.
Pastor Paroki GMA RD Y. Nugroho Tri Sumartono, Pr. dan Wakil Ketua Dewan Paroki Caecelia Luppi Satesti kepada bernasnews menyatakan bersyukur dan memberikan apresiasi tinggi kepada Orang Muda Katolik (OMK) GMA Gamping yang memprakrasai dan melaksanakan perhelatan akbar ini.
“Sukses acara ini tidak dicapai begitu saja. OMK Paroki telah mengalami pergulatan, proses panjang, jatuh bangun, dan kemudian menuai hasil. Semula, OMK kita kurang percaya diri. Di sisi lain, sebagian umat mempertanyakan keberadaan dan kiprah OMK. Melalui Gelar Budaya GMA 2023 ini OMK sudah naik peringkat,” kata Romo Nugroho di sela-sela acara.
Humas panitia Felicia Echie FHM kepada bernasnews semalam mengatakan, semua acara berjalan dengan lancar, walau waktu selesainya acara agak mundur dari rundown.
Dialog budaya
Ada tiga pertanyaan diajukan oleh moderator Caecilia Luppi Satesti pada dialog budaya bertema Bersinergi Memajukan NKRI, Minggu pagi. Yakni merdeka itu apa, nilai-nilai kebangsaan, kemudian masukan dan saran bagi generasi muda yang semuanya itu mengarah kepada Pancasila. Bahwa semua nilai-nilai keutamaan ada di Pancasila.
“Kita adalah bagian dari bangsa ini dan kita harus ambil bagian untuk kegiatan apapun, dari sisi manapun. Lalu sarannya bagi bangsa Indonesia, tidak terkecuali orang mudanya, aktif di kegiatan yang positif untuk ikut memajukan negara Indonesia. Jadi tema acara Gelar Budaya ini sangat relate,” kata dia.
Tampil sebagai narasumber dialog budaya sesi satu adalah RD Alfonsus Rodriguez Yudono Suwondo, Pr (Romo Vikep Kevikepan Jogja Barat), Aji Wulantoro, SH., M. Hum (Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Pemerintah Kabupaten Sleman), Andri Septiyanto (Lurah Balecatur), Sumaryanto (Lurah Ambarketawang), Kompol Surahman, S.Sos., M.A.P (Kapolsek Gamping), dan Kapten Inf. Wahyani (Danramil Gamping).
Pada dialog budaya sesi dua malam harinya, bertema Bersatu Membangun Bangsa dalam Bhineka. Moderator Layung Pertiwi dalam kesimpulan mengemukakan, “Kebhinnekaan itu hal yang indah, dianalogikan seperti pelangi. Dalam kebhinnekaan kita perlu srawung untuk menambah persaudaraan, lalu juga untuk merefleksikan diri, untuk semakin membangun diri dalam beragama dalam pribadi masing-masing.
Dalam menggunakan media sosial itu, kita perlu bijak, perlu menyaring apapun, supaya tidak terprovokasi pada hal-hal yang sifatnya justru membuat dosa. Kita harus bijak lalu sebarkan kedamaian.”
Narasumber dialog budaya sesi dua adalah RD Martinus Joko Lelono, Pr. (Tokoh Agama Katolik), Pendeta Samuel Andi Prasetyo (Tokoh Agama Kristen), Dr. K. Irwan Masduqi, Lc. M. Hum. (Tokoh Agama Islam), Anton (personil Ombardi), Raka (personil Etnik Banget).
Meningkatkan UMKM
Selain tari-tarian, band-band lokal, juga ada UMKM di Gelar Budaya GMA 2023. Dengan memberikan wadah dan kesempatan tampil panitia berharap dapat meningkatkan UMKM di sekitar tempat acara. Kini UMKM juga semakin inovatif.
“Kami berharap, acara ini dapat terlaksana setiap tahun, rutin dan berdampak positif bagi masyarakat sekitar,” kata Ketua Panitia Gelar Budaya Puncak HARPA 2023 Michael Dimas.
Berbagai acara pada Gelar Budaya GMA 2023 ini adalah penampilan kesenian PIA/PIR, dialiog budaya, kelompok tari Kridha Tresna Budaya, tari Angguk Zunigazunigi Art Production, kelompok tari Lansia Bahagia Mandiri, kesenian Soreng Magelang, jathilan Sanggar Kiyomi, konser milineal dangdut, pemberian hadiah, konser Ombardi, konser Diskoplo, dan pentas wayang dengan dalang Juan Baptist Satya Pradipta, Cornelius Alden Praditama dan Jasminto dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman. (mar)












