Melalui Tari Dwimuka Ardhanareswari, Didik Nini Thowok Mencoba Mengulik Sisi Humanis Calonarang

Tari Dwimuka Ardhanareswari, yang sangat kental dengan gambaran tokoh Calonarang, saat kemarahan dan berubah bentuk menjadi buta. (Foto: Kiriman Didik Nini Thowok)

bernasnews — Bagi generasi kekinian tentu sudah sangat jarang yang mengenal tokoh cerita Calonarang, sosok perempuan yang digambarkan berperangai jahat dan suka menebar teror dengan ilmu hitamnya. Cerita epik ini berlatar belakang kerajaan Daha atau Kediri pada abad 12.

Cerita rakyat Calonarang yang sangat terkenal di Jawa dan Bali ini, selain pernah ditulis dalam bentuk novel oleh Pramoedya Ananta Toer, Santrawan Indonesia pada tahun 1951, bahkan juga pernah dibuat film layar lebar, dengan bintang utama legendaris Suzana.

“Calonarang atau Janda Girah ini dikisahkan sebagai tukang teluh (santet) yang jahat namun hal itu tidak benar seutuhnya. Sesungguhnya saat keburukan yang ia tampilkan, itu merupakan ekspresi kemarahan yang bukan darinya sendiri,” terang Maestro Tari Didik Nini Thowok, usai pagelaran Tari Dwimuka Ardhanareswari, di Pura Calonarang Putuk, Kandangan, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Sabtu malam (3/6/2023).

Dikatakan, seperti halnya Janda Girah ketika marah lantas mengeluarkan kekuatan saktinya. Ia berubah bentuk menjadi seorang buta (raksasa) yang berwajah menakutkan. “Namun sebagai manusia ia juga mempunyai sisi humanis,” terang Didik Prayitno, S.ST, nama asli Didik Nini Thowok, yang juga barusan menerima penghargaan Rekor MURI sebagai Seniman Tari Cross Gender Pertama di Indonesia.

Tari Dwimuka Ardhanareswari, bagian dari tarian yang menggambarkan Calonarang sebagai wanita cantik yang penuh pesona dan humanis. (Foto: Kiriman Didik Nini Thowok).

Eksistensi sebagai maestro tari sangat tertantang saat menarikan Tari Dwimuka Ardhanareswari, yang sangat kental dengan gambaran tokoh Calonarang itu. “Gelaran di Pura Dalem Calonarang Kediri, Jawa Timur ini merupakan yang ketiga kalinya. Sebelumnya juga pernah di Pura Puncak Mertasari Lungsiakan, Ubud, Bali,” imbuh Didik, saat dihubungi bernasnews, Senin malam (5/6/2023).

Sementara itu, di tempat yang terpisah Nur Kesawa kepada bernasnews, mengemukakan, bahwa kisah Calonarang itu hanya disebutkan pada naskah lontar bertarikh 1.540 M atau berangka tahun Saka 1.462. Meskipun aksaranya Bali Kuna tetapi bahasanya Kawi atau Jawa Kuna.

Menurut Arkelog Muda ini, secara arkeologi (prasati) belum ditemukan yang menyebut adanya tokoh Calonarang. “Situs Calonarang memang ada di Kediri, tapi apakah benar itu situs Calonarang atau bukan masih belum tahu. Pasalnya tidak ada prasasti yang menyertai keberadaan situs itu,” tandas Nur Kesawa. (ted)