bernasnews – Numplak Wajik merupakan sebuah prosesi yang menandai dimulainya proses merangkai Pareden (Gunungan), sebagai simbul sedekah seorang raja kepada rakyat. Gunungan tersebut nantinya akan diarak dan dibagikan kepada warga dalam upacara Garebeg.
Upacara Numplak Wajik proses pembuatan Gunungan untuk upacara Garebeg Sawal sebagai penanda akhir bulan Ramadan 1444 H tahun 2023 telah diselenggarakan, bertempat di Panti Pareden, Komplek Magangan, Kraton Yogyakarta, Rabu (19/4/2023).
Prosesi tersebut dipimpin langsung oleh GKR. Mangkubumi. Dengan diiringi oleh alunan musik gejog lesung oleh sekelompok ibu-ibu abdi dalem, putri sulung Sri Sultan HB X ini berjalan dari pintu regol Kemagangan beserta rombongan abdi dalem pembawa ubo rampe upacara menuju Panti Pareden, tempat merangkai gunungan.

Setelah dilakukan doa oleh Abdi dalem Kanca Kaji atau pethakan (berbusana putih), kemudian Abdi dalem Kanca Abang (berbusana merah) mempersiapkan jodang/ alas gunungan berbahan kayu berbentuk bundar. Setelah siap semua, musik gejog lesung pun kembali ditabuh bertalu-talu dengan irama gending Tundung Setan.
Sebakul wajik yang dilapisi thiwul ditumplak dalam jodang yang telah dipersiapkan, setelah selesai kemudian para Abdidalem Keparak bertugas mengolesi lulur yang terbuat dari Dlingo dan Bengle, yaitu semacam empon-empon. Kemudian sinjang (kain jarit) songger dililitkan pada wajik yang seblumnya telah dipasang rangka serta dipasang rangkaian mustaka Gunungan Wadon.

Lilitan kain tersebut dilakukan bak memasang kain jarit pada seorang wanita, musik gejog lesung tetap berbunyi hingga selesai melilitkan kain semekan penutup dada bermotif Bangun Tolak. Dan gejog lesung berhenti dimainkan penanda prosesi telah selesai. Lulur dlingo bengle dibagikan pada abdi dalem yang bertugas serta pengunjung yang hadir. Juga conthong dari daun pisang yang berisi tembakau dan sirih. Dlingo bengle konon diyakini sebagai tolak bala lantaran tidak disukai oleh setan maupun makhluk halus.
Kepada awak media, GKR. Mangkubumi mengemukakan, bahwa setelah tiga tahun absen lantaran pandemi, pembuatan gunungan atau pareden kembali dilakukan untuk penyelenggaran upacara Garebeg pada Sabtu pagi, tanggal 22 April 2023. “Jumlahnya ada 7 buah gunungan untuk Garebeg Sawal, dengan prosesi tetap sama seperti tahun-tahun sebelumnya,” terang dia.

Seperti diketahui, bahwa proses pembuatan pareden atau gunungan oleh pihak Kraton Yogyakarta ini setiap tahunnya dilakukan tiga kali yaitu pada Garebeg Sawal penanda berakhirnya bulan puasa, Garebeg Mulud untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad, SAW, dan Garebeg Besar memperigati Idul Adha. Sehingga setahunnya kraton menyelenggarakan upacara Numplak Wajik sejumlah tiga kali.
Selain untuk dibagikan kepada masyarakat bertempat di halaman Masjid Gedhe Kauman, sejumlah gunungan yang merupakan simbol Hajad Dalem Sri Sultan HB X sebagai raja itu juga akan dikirimkan ke Praja Kadipaten Puro Pakualaman, serta kepada Pemerintah DIY, di Kepatihan, Jalan Malioboro, Yogyakarta. (ted)











