bernasnews — Peringatan Paskah bagi kaum Kristiani dalam membuat semacam kartu ucapan selain berilustrasi gambar Yesus, mahkota duri, serta kayu salib. Juga ada ilustrasi berupa gambar telur-telur yang dihias warna-warni plus dengan pernak-perniknya sedemikian rupa.
Menurut beberapa sumber, menghias telur untuk Paskah merupakan sebuah tradisi yang sudah ada sejak abad ke-13. Telur Paskah berasal dari tradisi kaum Indo-Eropa. Telur merupakan simbol musim semi, sedangkan hari Paskah kebetulan jatuh pada setiap awal musim semi.
Sementara itu, bagi orang Kristen, makna telur Paskah adalah simbol kebangkitan Yesus Kristus. Mewarnai dan menghias telur Paskah disebut sebagai tradisi, yang konon sangat disukai di gereja Ortodoks dan Katolik Timur, di mana telur diwarnai merah untuk menggambarkan darah Yesus Kristus yang ditumpahkan saat di kayu salib.
Filosofi telur adalah sesuatu yang dianggap tidak hidup dan tidak bisa bergerak, namun meski begitu, di dalam telur tetap memiliki kehidupan yang nyata hingga menetas sebagai makhluk hidup yang baru.
Apakah telur Paskah aman untuk dikonsumsi? Sebuah pertanyaan yang sangat lazim pasalnya telur adalah salah satu bahan makanan dan harga perkilonya berkisar Rp 20.000 – Rp 30.000, sayangkan jika setelah dihias dan dipajang lantas dibuang. Telur Paskah bisa dikonsumsi atau aman dimakan asal dimasak terlebih dahulu.
Kedua, bahan perwarna untuk menghias telur merupakan bahan warna yang direkomendasi untuk pewarna makanan. Cara masak telur baik direbus maupun digoreng tentu juga sesuai dengan kaidah masak yang benar agar kandungan gizi telur tidak hilang percuma.
Dalam khazanah budaya Jawa, khususnya Jogja dan Solo setiap perhelatan gerebeg yang merupakan hajatan dari Keraton, biasanya digelar 3 kali dalam setahun juga dikenal adanya telur yang dihias, telur yang diwarna merah kemudian ditusuk dengan tusuk yang terbuat dari bambu, serta dihiasi dengan kertas putih. Telur itu dikenal dengan sebutan endog abang (telur merah, red).
Menurut berbagai sumber, khususnya dari para penjual endog abang yang telah sepuh-sepuh itu mengatakan, bahwa dia menjualnya sejak puluhan tahun sedari masih lajang hingga bercucu. Mereka hampir senada menjelaskan, bahwa edog abang ini mempunyai makna kehidupan atau kelahiran, yang konon filosofi tersebut dari pihak kraton baik Jogja dan Solo yang berakar sama dari kerjaan Mataram Islam. Hal ini tentu menarik sebagai kajian budaya. (ted)












