Sendratari Epik ‘Penangsang Sutawijaya’, Berpijak pada Tari Klasik dan Kesenian Jathilan

Sendratari ‘Penangsang Sutawijaya'dalam Gelar Seni Sepanjang Tahun yang diselenggarakan oleh Taman Budaya Yogyakarta. (Foto: Istimewa)

bernasnews — Sudah banyak gelaran karya sendratari yang berpijak dari ceritera pewayangan maupun cerita-cerita rakyat berupa legenda, seperti ceritera Roro Jonggrang atau berdirinya Candi Prambanan. Sendratari semacam itu bisa dianggap biasa pasalnya alur ceritanya telah banyak yang paham.

Sangat beda apabila sendratari itu dinukil dari cerita epik berbasis sejarah dan kepahlawanan bangsa, seperti yang pernah ditampilkan beberapa waktu lalu berupa kisah Pangeran Mangkubumi saat mendirikan Kraton Yogyakarta, dan sendratari Perjuangan Pangeran Diponegoro. Sendratari ini selain menambah khasanah seni dan budaya, tentunya juga dapat menambah pengetahuan tentang sejarah.

Seperti yang dilakukan oleh sekumpulan anak-anak muda, dalam Gelar Seni Sepanjang Tahun yang diselenggarakan oleh Taman Budaya Yogyakarta, mencoba menampilkan Sendratari ‘Penangsang Sutawijaya’. Karya tari ini menceritakan peperangan antara Harya Penangsang, Adipati Jipang melawan Sutawijaya putra angkat Hadiwijaya (Sultan Pajang). Perang saudara ini dilatarbelakangi oleh perebutan tahta Kerajaan Demak Bintara.

Keunikan tari dari sendaratari-sendratari yang berpijak pada cerita epik sejarah tersebut, gerak tarinya berbasis pada kesenian rakyat Jathilan. Juga ada sentuhan Tari Klasik Gaya Yogyakarta dan Tari Gaya Surakarta. Penangsang diwujudkan sebagai sosok yang gagah brangasan dengan pembawaan sangat kejam. Sedangkan Sutawijaya sebagai sosok laki-laki muda yang cakap, pemberani, dan pantang menyerah.

“Dari penggambaran sosok-sosok yang dihadirkan gerak yang dipilih dalam memerankan sosok Penangsang adalah gerak putra gagah bapang. Sementara sosok Sutawijaya menggunakan kualitas gerak alus cakrak atau gagah madya,” jelas Muhammad Habib Wicaksono, salah satu sebagai penata tari, kepada bernasnews, Selasa (29/11/2022).

Sebagian dari penari foto bersama sebelum melakonkan sendratari ‘Penangsang Sutawijaya’. (Foto: Istimewa)

Lanjut Habib menerangkan, bahwa rasa atau suasana yang dihadirkan pada sajian sendratari ini lebih menekankan pada penggarapan ekspresi tokoh yang ditampilkan. Dan suasana sereng, serta agung dari peristiwa perang tersebut. “Karya tari ini berpijak dari Tari Klasik gaya Yogyakarta,Tari Klasik Gaya Surakarta dan kesenian Rakyat Jathilan, tanpa menghilangkan esensi dan dasar gerak tari yang sudah ada,” imbuh Pemilik Sanggar Tari Hokya.

Sendratari ‘Penangsang Sutawijaya’, yang menceritakan perang saudara ini juga telah ditayangkan di kanal Youtube. Berikut orang-orang yang terlibat dalam pagelaran spekta kuler itu, Penata Tari: Muhammad Habib Wicaksono, Tegar Surya Utama, dan Nabil Izza Leksono; Penata Iringan: M Yahya dan Henricus Aldi Kurnia Farellino; Penata Rias & Busana: Joko Gilar HS, Ravi Guntur Hanafi serta Dinta House.

Sementara para penarinya antara lain, Tegar Surya Utama, Muhammad Habib Wicaksono, Nabil Izza Leksono, Rizky Fazle Rabbi, Rizal Maulana, Idopati Tanaya, Wulung Alit Putra Shidiq, Setyo Budi Hernawan, Irwan Riyadi, Virgiawan Wibowo, Winayang Jati Prabowo , Refoma Patria, Bela, dan Lulud Kholiludin. Penasehat Karya, Romo Angger, Bu Sri, Pak Kesra ‘Slamet Widodo’, dan Romo Danu. (ted)