Jagad Seni Tari Klasik Jawa Berduka, Romo Pujaningrat Penari Klasik Legendaris Berpulang

KPH Pujaningrat (RM Dinusatomo, BA). Foto: Istimewa

bernasnews — Jagad seni tari klasik Jawa sedang berduka, pasalnya salah satu tokohnya atau juga bisa disebut sebagai legendarisnya penari tari klasik Kraton Yogyakarta KPH Pujaningrat (RM Dinusatomo) wafat, di rumah duka, Selasa, 15 November 2022, Pukul 02:30 WIB.

Jenazah disemayamkan di Kagungan Ndalem Ndalem Mangkubumen (Kampus UWM). Kadipaten Wetan, Yogyakarta.  Menurut rencana jenazah KPH Pujaningrat (RM Dinusatomo)  akan dimakamkan, di Makam Hastorenggo, Kotagede, Kota Yogyakarta, Selasa (15/11/2022), Pukul 15:00 WIB.

Dikutip dari Buku Profil Penerima Anugerah Kebudayaan Tahun 2018, KPH Pujaningrat sebagai penari tari klasik Keraton Yogyakarta merupakan seorang virtuoso atau individu yang mempunyai bakat seni yang luar biasa. Kepiawaiannya itulah yang membuatnya bisa melanglang buana baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Ketika Irian Jaya (Papua) diserahkan ke pangkuan Indonesia dari Belanda, ia dan sejumlah mahasiswa dari Universitas Indonesia, Univesitas Padjajaran, dan Universitas Udayana pentas di sana. Tari pula yang membawanya terbang ke luar negeri. Tahun 1973, pernah pentas tari sebanyak 90 kali di berbagai negara di dunia, antara lain Belanda, Inggris, Belgia, Jerman Barat, dan negara-negara lain. Di sana ia dan tim membawakan tari-tari klasik Yogyakarta, seperti Bedhaya, Klana Topeng, Golek Tunggal, Menak, dan Ramayana.

Pengalaman menarik saat tampil di Jepang tahun 1974. Saat itu ia memerankan Wisnu. Seorang penonton Jepang sampai minta doa restu kepadanya karena orang itu menganggap dirinya seperti Dewa Wisnu sesungguhnya dan memiliki kekuatan spiritual. Romo Pujaningrat tidak menolak permintaannya, lalu mendoakannya.

Di pentas tari ia banyak memerankan tokoh Wisnu. Ia merasa cocok dengan karakter tersebut. Dalam memerankan karakter itu, ia mengaku tidak melakukan persiapan khusus seperti berpuasa. Ia hanya berusaha menghayati karakter tokoh Wisnu dan penghayatan itulah yang kemudian ia terjemahkan dalam gerak-gerak tarinya.

Semasa hidupnya almarhum Romo Pujaningrat pernah menjadi PNS di Bidang Kesenian, Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan DI Yogyakarta. Ia juga sempat menjabat sebagai Kepala Bidang Kesenian yang mengurus tak hanya seni tari, tetapi juga musik dan seni rupa. Sampai akhir hayatnya almarhum sebagai Ketua Yayasan Siswo Among Bekso, sebuah lembaga pelatihan menari tari klasik Jawa, khususnya tari klasik gagrak Kraton Yogyakarta.

Dalam melestarikan tari klasik, Romo Pujaningrat tak pernah goyah dengan kritik yang mengejek upaya pelestarian itu hanya mengagung-agungkan masa lalu. Justru menjadikan tantangan yang membuatnya kian semangat untuk mewariskan tari klasik Keraton Yogyakarta ke generasi zaman now.

 Menurut dia, seni tari sangat penting bagi bangsa Indonesia. Seni tari mengajarkan kearifan lokal, mendidik, mengajar kesantunan, nilai kepahlawanan dan cinta bangsa. “Harusnya itu diajarkan di sekolah lewat pendidikan kesenian,” pesan Romo Pujaningrat.

Pentas terakhir KPH Pujaningrat (RM Dinusatomo), yang juga merupakan cucu Sultan Hamengku Buwana VIII ini berlangsung di Bangsal Sri Manganti, pada tahun 1999. Sugeng tindak Romo Pujaningrat, swarga langgeng. (ted)