Generasi Muda Diajak Telaah Sejarah dan Budaya Kota Yogyakarta dari Segi Mistisme

bernasnews – Hingga saat ini mistisisme Jawa masih melekat erat dan menjadi bagian dari Yogyakarta. Hal tersebut juga kerap diangkat dalam kesusastraan dan terus diturunkan dari generasi ke generasi.

Dalam rangka mengupas seluk beluk Mistisisme yang berkembang dalam masyarakat, Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta menyelenggarakan Bincang Sastra dengan mengangkat tema “Mistisisme Jawa”. Bincang sastra kali ini mengajak generasi muda untuk menelaah sejarah dan budaya kota Yogyakarta dari segi mistisme.

Seorang budayawan, Indra Trenggono memberikan sebuah gambaran kepada penggiat sastra tentang peran dan cara pengemasan mistisisme dalam sebuah karya sastra. Ia menyatakan mistisisme Jawa menjadi sebuah media dalam menyatukan realita dengan imaginitas dalam menjalani kehidupan manusia.

“Dalam sastra nilai-nilai mistisisme tidak tereduksi namun mengalami proyeksi yang sangat dalam sehingga melahirkan transformasi estetis. Sehingga dalam berkarya sastra akan terjadi proses metafisik”, jelas Indra Selasa (8/11).

Hal ini sejalan yang disampaikan oleh Akademisi Sastra Jawa Rudi Wiratama. Ia menjelaskan mistisisme merupakan sebuah kepercayaan yang tumbuh dari halusinasi yang menjadikan hal-hal tersebut absurd dan tidak dapat terjangkau. Kepercayaan itu hadir sebagai penyerapan diri kita kepada Zat yang lebih tinggi yang hanya diperoleh dari kepasrahan atau lebih dikenal Manunggaling Kawula Gusti.

“Dalam literasi-literasi Jawa masa lalu, mistisisme muncul sebagai paradigma sebab banyak sekali karya-karya sastra Jawa mengungkapkan kejayaan kegemilangan dunia hingga pada akhirnya Kembali ke kesunyian. Seperti yang tertuang dalam salah satu lirik Dhadanggula bahwa hidup adalah sebuah perjalanan. Mistisisme adalah soal kepasrahan, mistisisme adalah cara menukan jalan pulang baik jasmani maupun rohani,” jelas Rudi.

Melalui Bincang Sastra tentang Mistisme Jawa, wawasan generasi muda terhadap warisan budaya leluhur dalam konteks yang postif semakin terbuka. Diskusi ini sekaligus menjadi media penelaahan kebangkitan literasi literasi mistisme Jawa di tengah perkembangan masyarakat Yogyakarta yang semakin urban. (Nun/van)