Jemuwah Wagen #02 Satupena DIY Adakan Kegiatan “Bergizi”

Ketua Satupena DIY Dhenok Kristianti saat menyampaikan dongeng anak di pertemuan Jemuwah Wagen, di Kulonprogo, Minggu (6/11/2022). (Foto :Humas Satupena DIY)

bernasnews – Persatuan Penulis Indonesia atau Satupena Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyelenggarakan kegiatan “bergizi” bertajuk Jemuwah Wagen #02 di Pustaka Merdesa, Kulonprogo, DIY, Minggu (6/11/2022). Menu bergizi itu adalah film pendek, dongeng anak, dan eco enzyme.

“Sudah hampir setengah abad dunia sastra jalan di tempat, sejak penulis Pramoedya Anana Toer mendobrak dunia sastra tahun 1980-an,” kata Pendiri Satupena Nazir Tamara dalam acara tersebut.

Jemuwah Wagen kali ini antara lain membahas film pendek. Broertje Andre Modanton, alumni Sekolah Film di Amsterdam, Belanda, memutarkan beberapa film pendek yang mendapat penghargaan dunia. Film itu antara lain: “Jojo Rabbit” (tentang fasisme Nazi-nya Hitler); “Staterer”, film pendek dari Inggris yang mengisahkan perjalanan cinta pemuda gagu dan gadis tunawicara; serta film pendek “One Day of the Toilet Keeper” (rumah tangga seorang penjaga toilet).

Setelah nonton bareng, Broertje Andre mengajak para anggota Satupena DIY yang hadir untuk membedah film-film tersebut dengan formula Dan Harmond Story Circle. Formula sederhana itu memudahkan para penulis dalam menyusun skenario film.

Diskusi perfilman tersebut sangat dirasakan manfaatnya, terlebih karena generasi Z saat ini lebih dekat pada dunia visual dengan perangkat modern yang ada.

“Semoga ada tindak lanjut dari diskusi kita hari ini,” harap Nasir Tamara yang diaminkan oleh para peserta diskusi.

Dari Jemuawah Wagen ini muncul gagasan untuk melanjutkan pelatihan dengan memrogramkan pembuatan film pendek yang akan dibimbing oleh para ahlinya. Selain Broertje Andre, Nazir Tamara pun, yang alumnus Sekolah Film di LPKJ, bersedia menularkan ilmunya kepada teman-teman Satupena DIY.

Seluruh rangkaian kegiatan kali ini dimulai dengan Nainai Embung (Koordinator Satupena Regional Jawa dan Ketua di DIY Dhenok Kristianti) berbagi dongeng dengan anak-anak, anggota Pustaka Merdesa. Kegiatan literasi anak ini didorong oleh keyakinan bahwa anak adalah masa depan bangsa. Apa yang ditanamkan dalam benak anak hari ini akan dibawa sampai tua.

“Hanya saja pengalaman hidup mereka masih sangat sederhana untuk menampung nilai-nilai peradaban manusia yang terlanjur sangat tua dan rumit bagi pemikiran mereka. Kerumitan itulah yang dapat dijembatani oleh dongeng,” kata Koordinator Divisi Program Satupena DIY Agus Istijanto.

Dia memberi contoh, betapa dongeng “Bawang Putih dan Bawang Merah” yang didengar dari sosok ibu semasa kanak-kanak masih tersimpan dengan baik dalam ingatan sampai hari ini. Mengapa? Karena disampaikan dengan cara yang mengesankan, yaitu lewat dongeng.

“Dengan sangat jernih dongeng ‘Bawang Putih dan Bawang Merah’ menanamkan nilai keberpihakan pada kaum tertindas; satu nilai universal yang diajarkan semua agama dan semua ideologi politik,” tambahnya.

Pada kegiatan Jemuwah Wagen ini, Nainai Embung mendongeng tentang bangau yang berdalih menyelamatkan ikan-ikan dari kekeringan, tapi ternyata memangsanya. Penyelamat palsu itu akhirnya tewas dicekik kepiting pemberani yang cerdas.

Dari dongeng tersebut anak-anak secara bergiliran mengungkapkan nilai-nilai yang terkandung yang menjadi pelajaran hidup.

Mereka yang berani menyatakan pendapat, memperoleh hadiah buku dan pensil warna-warni dari panitia. Hal yang luar biasa, anak-anak di Pustaka Merdesa Kulonprogo ini tampaknya sudah terlatih menyampaikan pendapat, sehingga acara tanya jawab berlangsung meriah dan tanpa sekat.

Pembuatan eco enzyme
Kegiatan lain yang dilakukan Satupena DIY adalah pelatihan tentang pembuatan Eco Enzyme. Pelatihan berlangsung di area sama yang sangat asri, di bagian lain dari tempat tinggal Atik dan Andre.
Kebetulan tempat tersebut kecuali sebagai kegiatan literasi anak-anak dengan nama Pustaka Merdesa, juga menjadi pusat Gerakan Eco Enzyme International di Kulonprogo. Dalam Jemuwah Wagen kali ini, Atik juga mengajak Satupena berpraktik membikin eco enzyme. Gerakan ini bertujuan mengurangi efek perubahan iklim dan merawat bumi.

Kelahiran Gerakan Damai Eco Enzyme dilatarbelakangi oleh “perlawanan” terhadap Revolusi Hijau yang diperkenalkan oleh Korporasi Multi Nasional Raksasa pada tahun 1970-an di Manila, Philippine.
Selama ini, bumi kita telah banyak dirusak oleh bahan-bahan kimiawi, terutama pupuk dan pola tanam. Jika tidak dicarikan solusi, tanah dapat menjadi tidak subur yang pada gilirannya dapat menyebabkan pemanasan global.

Eco enzyme merupakan salah satu solusi untuk mengembalikan kesuburan tanah. Itu sebabnya perlu disosialisasikan kepada masyarakat cara pembuatannya yang mudah dan sederhana. “Eco Enzyme dapat dibuat sendiri oleh masyarakat. Gampang dan murah,” ujar Atik sambil menunjukkan cara pembuatannya.

Langkah pertama adalah mengumpulkan sampah sayur dan buah dan mencucinya bersih-bersih. Setelah itu mencampurkan sampah sayur dan buah ke dalam air yang sudah dicampur dengan molase. Setelah diperam selama tiga bulan di wadah yang tertutup rapat, eco enzyme siap dipanen.

Gerakan Eco Enzyme ini tidak membisniskan produknya. Lebih banyak warga masyarakat mengambil bagian dalam gerakan ini, lebih cepat kesuburan tanah kembali pulih seperti sedia kala.

Atik adalah satu di antara sedikit orang di Amerika Latin Asia dan Afrika yang menjadi pelopor untuk gerakan ini. Membangun kesadaran baru di segala lapisan masyarakat guna memulai perlawanan damai memulihkan tanah dan air, serta mengembalikan kesuburan alam yang harum dan murni.

Semoga kegiatan Satupena DIY yang bernama Jemuwah Wagen ini selalu memberi banyak manfaat bagi para penulis anggota Satupena DIY. (Kamerad Kanjeng, Pengurus Satupena DIY)