bernasnews – Upaya pelestarian dan pengayaan karya sastra anak dan sastra ibu khususnya yang berbahasa Jawa perlu dilakukan. Hal ini dimaksudkan agar karya sastra Jawa memberikan makna lebih besar dan berjangka panjang. Pemaknaan dan jangkauan keterbacaannya bukan hanya dengan penerjemahan, namun juga melalui diskusi dan bedah buku.
Hal tersebut mengemuka dalam diskusi dan bedah buku 20 judul buku sastra anak dan antologi cerita cekak tentang ibu bertajuk Dayinta di Kagungan Dalem Bangsal Kasatriyan Karaton Ngayogyakarta, Jalan Rotowijayan, Panembahan, Kraton, Yogyakarta, Senin (31/10/2022).
Acara yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bekerjasama dengan Kraton Yogyakarta ini dibuka oleh Wakil Penghageng Kalih Widya Budaya Kraton Yogyakarta KRT Rinto Isworo.
Memberikan sambutan pula Kepala Balai Bahasa DIY Dra. Dwi Pratiwi, M.Pd., dan koordinator penyunting buku Dr. Ratun Untoro, M.Hum. Tampil sebagai pembahas buku Prof. Dr. Suwardi Endrasworo dari UNY untuk buku sastra anak, dan dosen UGM Dr. Wiwien Widyawati Rahayu, M.Hum untuk buku antologi cerita cerkak. Acara dipandu oleh moderator sastrawan Budi Sardjono.
Di sela-sela diskusi buku sastra Jawa tersebut, tampil membaca buku cerita anak oleh siswi SD BOPKRI Gondolayu Yogyakarta Sahih Wijaya, pembacaan geguritan oleh Maria Widy Aryani, dan monolog bertajuk Tuyul oleh Ardi Susanti.
Dalam pembahasan karya sastra anak, Prof Suwardi membagi tiga pola penulisan yakni berdasar realitas atau nyata, fantasi atau fiksi, dan gabungan. Secara umum, karya ini bernuasa pendidikan dan sebagian ada kesan menggurui. Dia mengapresiasi para penulis yang telah berupaya memberikan hiburan dan pesan moral kepada pembaca.
Sedangkan Dr. Wiwien mengemukakan, cerita yang ditulis pengarang di buku Dayinta tidak lagi ditekankan pada pemosisian perempuan sebagai obyek yang terdominasi tetapi lebih menonjolkan alasan kenapa perempuan mengambil sikap yang masih sering dianggap melanggar norma atau aturan yang dimaknai secara kaku.
“Meski aturan tersebut masih berpihak pada laki-laki, tetapi perempuan mampu berdamai dengan baik karena daya penyesuaiannya,” kata dia. (mar)












