bernasnews – Perempuan yang terbarukan merupakan identitas baru yang melekat dan terus bergerak pada perempuan karena memiliki “daya adaptasi” terhadap situasi dan kondisi yang melingkupinya.
Kemampuan perempuan ini terlahir dari proses refleksi diri yang dilakukan terus menerus sehingga dalam praktek sosial perempuan menjadi pribadi yang tidak gagap, serba bisa, kokoh atau tidak mudah goyah, memosisikan diri sebagai penguat perempuan lainnya dan menjadi sumber pengetahuan.
“Itu kesimpulan cacatan Ibu Wiwin Widyawati Rahayu dari Departeman Bahasa dan Sastra Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta atas terbitnya buku antologi crita cerkak Dayinta. Buku terbitan Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta ini akan didiskusikan dan dibedah di Kagungan Dalem Bangsal Kasatriyan Karaton Yogyakarta, Senin (31/10/2022),” kata Dr. Ratun Untoro, M.Hum. bersama Budi Sardjono selaku penyunting buku Dayinta kepada bernasnews di Balai Bahasa DIY, Jalan I Dewa Nyoman Oka, Yogyakarta, Jumat (28/10/2022).
Buku setebal 203 halaman dengan kata pengantar Kepala Balai Bahasa DIY Dra. Dwi Pratiwi, M.Pd. ini berisi 25 crita cekak. “Buku antologi tentang wanita Yogyakarta ini diharapkan dapat menjadi semacam pengayaan bagi 20 buku cerita anak dwi bahasa yang juga kami terbitkan bersamaan,” kata Dwi.
Kedua puluh lima crita cekak itu adalah Mbabar Urip Anyar (Yohanes Siyamta), Kidung Panyayem Ati (Vighna R. Hernawan), Eseme Yanti (Tri Sumarni), Bedhaya Angon Raga (R. Toto Sugiharto), Mbokdhe (Ratun Untoro), Pratitis (Ngatilah), Mahar Kembar Telu (Veronika Naning), Langit Ing Bumi Papua (Maria Widy Aryani), Kebacut (SP Handayani), Srikandhi Tanpa Luh (Eny MS).
Kemudian Nyi Kesi (Budi Sardjono), Memedi Manuk (Achyadi), Eluh ing Pipi Neny (Ngatinah), Tanaya (Alexandra Indriyanti Dewi), Wanita Super (Anggra Dini), Thuyul (Ardi Susanti), Kaya Srengenge lan Rembulan (Ardini Pangestuti Bn), Bombong (Dri Pratiwi), Slendhang Nyimas Roro (Erlina Yuliastuti), Mbah Bingah lan Wayang Kancil (Ida Astuti W).
Selanjutnya Lamis Milanggoni (Rika Maulida WS), Beda Pamanggih (Nursiyah PM), Marang Wit-witan lan Uyah Segara (Sabatina RW), Sadawane Dalam Aspal (Yayuk Wahyudi), dan Dodol Ratengan (Yustina Sri Warsiki). (mar)












