Merti Dusun Jetisan, Upacara Adat sebagai Ungkap Rasa Syukur

Bregodo prajurit Jetisan mengawal gunungan dan arak-arakan warga pembawa hasil bumi dalam giat acara adat Merti Dusun Jetisan, Desa Hargobinangun, Kapanewon Pakem, Kabupaten Sleman. (Foto: Kiriman Brigita Mutiara)

bernasnews — Merti Dusun atau sering disebut Bersih Desa, merupakan salah satu bentuk upacara adat sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat kepada sang Pencipta atas karunia rejeki yang melimpah, ketentraman, serta keselamatan.

Dengan mengambil tema ‘Sengkut lan Semuyut Mbangun Jetisan’, warga Dusun Jetisan, Hargobinangun, Kapanewon Pakem, Kabupaten Sleman, DIY melaksanakan acara puncak Merti Dusun, Sabtu (24/9/2022). Sengkut dalam bahasa Jawa berarti semangat, semuyut berarti kompak maka bisa diartikan kompak dan semangat dalam membangun Dusun Jetisan.

Acara Merti Dusun Jetisan dihadiri oleh warga dari usia balita, anak-anak, remaja dan pemuda hingga orang tua, dengan diawali arakan-arakan pembawa gunungan dan warga yang membawa berbagai hasil bumi, dikawal oleh satuan bregodo prajurit.

Suasana malam puncak acara Merti Dusun Jetisan. (Foto: Kiriman Brigita Mutiara)

Kemudian malamnya merupakan puncak acara diselenggarakan bertempat di halaman rumah Dukuh Dusun Jetisan Sri Hartanto. Tampak hadir dalam malam acara puncak Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa. “Warga Jetisan disini kompak sekali, dari anak-anak kecil sampai orang tua semua terlibat. Yang pentas juga semua terlibat, bagus sekali warganya memiliki banyak potensi seni. Memang ini adalah modal dasar untuk memajukan dusun Jetisan,” ungkap Danang.

Dengan begitu, lanjut Danang, masyarakat Dusun Jetisan memiliki peluang yang besar untuk mengembangkan potensi seni di Dusun. Kemudian dilanjutkan Pentas Karawitan Anak. “Kita yang hidup sebagai masyarakat Jawa tentunya harus mencintai kebudayaan Jawa, salah satunya cinta Budaya Jawa lewat karawitan itu sendiri,” tandas Wakil Bupati Sleman.

Beberapa tembang (lagu) dimainkan dan diiringi musik gamelan oleh ibu-ibu PKK Dusun Jetisan. Selain itu, juga terdapat pentas-pentas yang lainnya. Acara berakhir hingga tengah malam dan ditutup dengan Kidungan, yaitu melantunkan doa permohonan agar menjadikan kuat, selamat terbebas dari semua penyakit serta terbebas dari segala mala petaka. (Brigita Mutiara, Mahasiswi Prodi Public Relations ASMI Santa Maria Yogyakarta)