BERNASNEWS.COM
— Hati-hati apabila memakai kain batik dengan motif kupu-kupu atau motif
gurda (burung) jangan sampai kejungkir atau terbalik. Kecuali motif gambar
batiknya bolak-balik. Demikian disampaikan RAy Kusswantyasningrum selaku
narasumber dalam acara workshop Ngadi
Busana, Minggu, (26/1/2020), di Hotel Sri Wedari, Jalan Laksda Adisucipto,
Yogyakarta.

Acara workshop Ngadi Busana diselenggarakan oleh komunitas Perempuan Berkebaya Jogja. Komunitas yang berdiri pada bulan Oktober 2015 ini mempunyai misi melestarikan budaya Indonesia dan bervisi mengangkat kebaya sebagai busana keseharian perempuan Indonesia. Hingga kini tak kurang dari 100 perempuan telah menjadi anggota komunitas ini.

“Mohon maaf untuk busana kebaya
tradisional jangan sampai dirusak dengan kepingin kekinian, kalau kepingin
kekinian bentuk modifikasi monggo. Kemudian kalau sudah berbusana tradisional
sesuai pakem, maka cara duduknya pun juga harus diatur sedemikian rupa dengan
menata kain lebih terdahulu dan sikap kaki pun diatur,” papar RAy Kusswantyasningrum atau juga
dikenal dengan nama
paring dalem Nyi Raden Wedono Retno Adiningtyas.

Sebagai abdi dalem Kraton Yogyakarta bertugas di Kawedanan Hageng
Punokawan (KHP) Parwobudoyo, memaparkan tentang motif-motif batik secara
umum dan motif batik yang hanya diperuntukan keluarga Sultan. Juga cara dan
tips-tips mengenakan busana kebaya tradisional, pemakaian sanggul atau tata
rambut, berikut pernak-pernik asesorisnya, baik gagrak (model) Yogyakarta dan
gagrak Surakarta.

“Memakai busana kebaya tradisional
itu memang terlihat ribet, tapi inilah cara leluhur jaman dahulu agar
putri-putri Jogja maupun Solo kelihatan gandes,
luwes, kewes, (menarik hati) dan tidak nil-nilan/
pethakilan (terlihat anggun),” ungkap pemilik Sanggar Kalithi ini.

Semenatara itu, Tinuk Suhartini MG selaku Ketua, mengatakan, Ketua Komunitas Perempuan Berkebaya Jogja selalu konsisten mengkampanyekan pemakaian kebaya dalam kehidupan sehari-hari. Dari sekian banyak kegiatan, diantaranya menari dan bermain angklung. “Komunitas ini selalu mengadakan berbagai workshop untuk meningkatkan pengetahuan anggotanya maupun perempuan Indonesia pada umumnya,” ujar Tinuk.
Menariknya acara workshop Ngadi Busana yang diselenggarakan oleh Komunitas Perempuan Berkebaya Jogja ini, dari panitia dan peserta yang hadir lebih dari 50 wanita semuanya berbusana berkebaya lengkap dengan pernak-perniknya asesorisnya. Sehingga selain pemaparan oleh nara sumber dapat interaktif secara langsung, sekaligus dapat koreksi lebih lanjut busana yang dikenakan oleh para peserta sesuai dengan pakem (aturan baku sesuai budaya) atau tidak. (ted)











