bernasnews – Mulai Agustus 2026, Pemerintah akan memperluas program imunisasi nasional dengan memberikan vaksin Human Papillomavirus (HPV) kepada anak laki-laki, termasuk di Kota Yogyakarta.
Kebijakan ini menjadi langkah baru dalam upaya mencegah penyebaran virus HPV yang dapat memicu berbagai jenis kanker pada perempuan maupun laki-laki, sekaligus menegaskan bahwa perlindungan terhadap infeksi HPV tidak lagi hanya ditujukan bagi anak perempuan.
Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular serta Imunisasi Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, dr. Endang Sri Rahayu, menjelaskan Human Papillomavirus (HPV) merupakan virus yang menyerang permukaan kulit dan selaput lendir.
Virus ini dapat memicu munculnya kutil di berbagai bagian tubuh, mulai lengan, kaki, mulut hingga area kelamin. Namun ancaman terbesarnya ialah kemampuan virus tersebut memicu berbagai jenis kanker.
Indonesia sendiri masih menghadapi beban besar akibat infeksi HPV. Bahkan, Indonesia menjadi negara dengan jumlah kasus kanker serviks terbanyak di Asia Tenggara. Virus HPV menular melalui kontak kulit secara langsung maupun hubungan seksual. Penularan juga dapat terjadi dari ibu kepada bayi melalui proses transmisi vertikal.
Karena itulah pemerintah terus memperkuat langkah pencegahan melalui imunisasi. Program tersebut menjadi bagian dari percepatan eliminasi kanker leher rahim secara global yang dituangkan dalam Rencana Aksi Nasional Eliminasi Kanker Leher Rahim Tahun 2023-2030 berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/2176/2023.
Di Kota Yogyakarta, imunisasi HPV mulai diberikan pada 2022 kepada anak perempuan kelas 5 dan 6 sekolah dasar dengan dua dosis. Memasuki 2025, pemerintah menyederhanakan skema menjadi satu dosis bagi anak perempuan kelas 5 SD atau berusia 11 tahun.
Sementara itu, anak perempuan kelas 6 SD dan kelas 9 SMP yang belum pernah menerima vaksin tetap memperoleh imunisasi kejar.
Sasaran Imunisasi HPV kepada Anak Laki-laki di Yogyakarta
Tahun 2026 menjadi tonggak penting karena pemerintah memperluas sasaran imunisasi kepada anak laki-laki. Kota Yogyakarta menjadi salah satu daerah bersama DKI Jakarta dan Bali yang menjalankan introduksi vaksin HPV bagi anak laki-laki usia kelas 5 SD atau sekitar 11 tahun.
Pelaksanaan imunisasi berlangsung pada Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) Agustus 2026. Petugas kesehatan akan menjangkau siswa di sekolah dasar, sekolah menengah pertama, pondok pesantren, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), hingga Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA). Dengan pola tersebut, pemerintah berharap tidak ada anak yang terlewat dari perlindungan vaksin.
Menurut dr. Endang Sri Rahayu, pemberian vaksin sejak usia anak bukan tanpa alasan. Anak usia 9 hingga 12 tahun memiliki respons imun yang jauh lebih kuat dibandingkan usia remaja akhir maupun dewasa. Selain itu, vaksin HPV berfungsi murni sebagai pencegahan sehingga pemberiannya harus dilakukan sebelum seseorang berisiko terpapar virus.
Pada usia sekolah dasar, anak juga masih rutin berinteraksi dengan layanan kesehatan melalui berbagai program imunisasi. Kondisi tersebut membuat pemberian vaksin menjadi lebih efektif dibandingkan saat memasuki usia remaja, ketika sebagian besar kunjungan ke fasilitas kesehatan hanya dilakukan karena sakit.
Perluasan sasaran kepada anak laki-laki juga membawa pesan penting bagi masyarakat. Selama ini banyak orang menganggap HPV hanya menyebabkan kanker serviks sehingga vaksin cukup diberikan kepada perempuan. Padahal, virus yang sama juga dapat memicu kanker anus, kanker penis, hingga kanker orofaring pada laki-laki.
Tidak hanya itu, laki-laki juga dapat menjadi pembawa virus tanpa gejala dan menularkannya kepada pasangan. Karena itulah perlindungan terhadap anak laki-laki menjadi bagian penting dalam memutus rantai penularan HPV di masyarakat.
Masih banyak pula kesalahpahaman yang berkembang mengenai vaksin HPV. Salah satunya ialah anggapan bahwa vaksin dapat menyebabkan kemandulan. Dr. Endang Sri Rahayu menegaskan informasi tersebut sama sekali tidak benar.
Vaksin HPV untuk Anak Usia 9-15 Tahun
Berbagai penelitian membuktikan tidak ada hubungan antara vaksin HPV dengan infertilitas. Sebaliknya, vaksin justru melindungi seseorang dari infeksi HPV yang dapat menyebabkan kanker maupun kutil kelamin yang berpotensi mengganggu kesehatan reproduksi dan kualitas hidup.
Ia juga menjelaskan seseorang yang pernah terinfeksi HPV tetap memerlukan vaksinasi. Infeksi alami tidak mampu merangsang pembentukan antibodi secara optimal karena virus tidak masuk ke dalam sirkulasi darah dan tidak menimbulkan inflamasi yang cukup untuk membentuk kekebalan tubuh.
Perlindungan dari vaksin jauh lebih kuat dan bertahan lebih lama dibandingkan kekebalan akibat infeksi alami. Dari sisi keamanan, vaksin HPV telah melalui berbagai uji klinis dan terbukti aman diberikan kepada anak usia 9 hingga 15 tahun, baik perempuan maupun laki-laki.
Penelitian juga tidak menemukan hubungan sebab akibat antara vaksin HPV dengan penyakit autoimun, infertilitas, maupun gangguan neurologis kronis.
Efek samping yang mungkin muncul setelah imunisasi umumnya hanya bersifat ringan, seperti demam, nyeri, kemerahan, atau pembengkakan di lokasi penyuntikan. Keluhan tersebut merupakan respons normal tubuh setelah menerima vaksin.
Meski demikian, tantangan program masih cukup besar. Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta masih menghadapi rendahnya pemahaman masyarakat mengenai pentingnya imunisasi HPV bagi anak laki-laki. Stigma bahwa HPV hanya menjadi urusan perempuan masih sering muncul.
Di sisi lain, hoaks mengenai keamanan vaksin juga terus beredar sehingga memengaruhi keputusan sebagian orang tua.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, pemerintah memperkuat regulasi, memastikan seluruh sasaran terjangkau, mengintegrasikan program dengan Bulan Imunisasi Anak Sekolah, menjamin ketersediaan vaksin dan logistik, meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan, memperkuat kolaborasi lintas sektor, serta mengoptimalkan media sosial dan berbagai kanal informasi agar edukasi mengenai imunisasi HPV semakin luas.
Dr. Endang Sri Rahayu mengajak seluruh masyarakat mendukung perluasan imunisasi HPV bagi anak laki-laki. Menurutnya, HPV dapat menyerang siapa saja tanpa memandang jenis kelamin. Karena itu, perlindungan sejak dini menjadi investasi kesehatan yang sangat penting bagi masa depan anak-anak Indonesia.
“Vaksin HPV aman, efektif, dan telah melalui berbagai uji klinis. Keberhasilan program ini membutuhkan dukungan seluruh masyarakat agar generasi mendatang terbebas dari penyakit yang disebabkan oleh virus HPV,” ujarnya. (ef linangkung)












