bernasnews – Dampak perubahan iklim memicu kesadaran tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan termasuk dalam bidang ekonomi. Pembangunan dan pertumbuhan ekonomi tidak boleh mengabaikan keberlanjutan (sustainability) sehingga memunculkan istilah ekonomi hijau (green economy).
Di tingkat dunia, menurut Dekan FEB UGM Yogyakarta, PBB pun sudah mencanangkan Sustainable Development Goals (SDGs) untuk diikuti oleh semua Negara di dunia. SDGs sangat relevan dengan ekonomi hijau antara lain energi terbarukan, pertanian berkelanjutan, perikanan berkelanjutan, dan pariwisata berkelanjutan.
Sebuah buku setebal 275 halaman bertajuk “Posisi Tekonologi Hijau (Green Technology) dalam Ekonomi Lingkungan (Environmental Economics) dan Ekonomi Hijau (Green Economy) karya Dr. Drs. Sugeng Priyanto, M.Si dan Prof. Dr. Ir. Chafid Fandeli (Februari 2026, ISBN 978-623-6392-69-0) hadir memberikan pencerahan tentang teknologi hijau dan sekaligus menambah pustaka lingkungan hidup.
Dalam kata pengantar kedua penulis mengemukakan, saat ini dalam setiap kegiatan pembangunan dituntut untuk menghadirkan teknologi yang dapat mengefisiensikan, memroses teknologi yang tidak menghasilkan produk tidak baik dan tidak berkualitas menjadi yang berkualitas, yang tidak efisien menjadi efisien, serta produk baru yang bernilai ekonomi. Sehingga diperoleh Added Value yang semula tidak diperhitungkan.
Oleh karenanya, diperlukan pengembangan ilmu pengetahuan yang inovatif dan menghasilkan teknologi krearif. Salah satu teknologi kreatif ini adalah yang berbasis konservasi lingkungan yang kemudian disebut Teknologi Hijau atau Green Technology.
Pada hakikatnya, menurut Sugeng Priyanto dan Chafid Fandeli, dengan adanya nilai ekonomi lingkungan yang kemudian dapat menghadirkan konsep pembangunan berkelanjutan dalam tata hijau akan menghadirkan proses berantai yang menghadirkan proses lebih lanjut dan akan menghasilkan ekonomi hijau.
Hal ini telah dilaksanakan oleh masyarakat tradisional dalam pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan hidup. Pemanfaatan sumber daya alam telah banyak dilaksanakan dengan kearifan lokal dari masyarakat adat di Indonesia. Kalau kearifan lokal dalam memperoleh Ekonomi Lingkungan dan dikembangkan sesuai dengan agenda-agenda global, secara nyata kemudian dapat diperoleh Ekonomi Hijau. (mar)












