News  

Festival Literasi Jogja 2026 : Merawat Tradisi, Kuatkan Literasi, Bangun Resiliensi

Kepala DPAD DIY Ir. Syam Arjayanti, M.PA dan Kabid Pengembangan Bahan ustaka dan Indoemasi DPAD DIY Dewi Ambarwati, S.Sos., M.AP menerima buku dari Pemimpin Redaksi bernasnews Y.B. Margantoro di ruang tamu Kepala DPAD DIY, Senin 6/7/2026.(Foto : Staf DPAD DIY)

bernasnews – Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kembali mengadakan kegiatan Festival Literasi Jogja 2026. Agenda yang akan dilaksanakan di halaman Grhatama Pustaka DPAD DIY Jalan Janti, Wonocatur, Banguntapan, Kabupaten Bantul, DIY pada tanggal 9 – 13 Juli 2026 pukul 08.00 – 21.00 WIB ini bertajuk ‘’Jogja Gumregah; Tradisi, Literasi dan Resiliansi’.

Kepala DPAD DIY Ir. Syam Arjayanti, M.PA didampingi Kabid Pengembangan Bahan Pustaka dan Informasi DPAD DIY Dewi Ambarwati, S.Sos., M.Ap mengatakan, festival ini menjadi momentum kebangkitan bersama untuk menjaga warisan budaya, memperkuat budaya baca, meningkatkan kecakapan literasi masyarakat, serta membangun resiliensi sosial melalui nilai-nilai lokal yang dimiliki Yogyakarta.

‘’Melalui penyelenggaraan Festival Literasi Jogja Tahun 2026 ini diharapkan mampu memperkuat sinergi seluruh pemangku kepentingan dalam mewujudkan masyarakat DIY yang literat, berbudaya, inovatif, dan berdaya saing,’’ kata Ir Syam saat ditemui bernasnews di kantornya, Senin (7/7/2026). .

Menu acara festival yang dapat diikuti oleh masyarakat umum adalah pasar buku, diskusi, bedah buku, workshop, live musik, zona anak, lomba-lomba, stand komunitas dan TPBIS, pasar kuliner, zona MBG (Membaca Buku Gratis) serta SIM Keliling dan Samsat Keliling. Pada tahun 2025, acara serupa juga dilaksanakan pada tanggal dan tempat yang sama dengan tema ‘Membaca. Berdaya dan Sejahtera’.

Dewi Ambarwati menambahkan, sasaran peserta kegiatan festival lirterasi ini adalah Masyarakat Umum; Pelajar dan Mahasiswa; Guru dan Tenaga Pendidik; Pustakawan dan Pengelola Perpustakaan; Komunitas Literasi dan Organisasi Sosial; Penulis, Penerbit, dan Pelaku Industri Buku; Pegiat Seni dan Budaya; Perangkat Daerah dan Instansi Pemerintah; Mitra Swasta dan Media yang dapat memberikan dukungan dan promosi terhadap gerakan literasi secara lebih luas.

IDENTITAS MASYARAKAT
Pada bafgian lain Syam Arjayanti mengemukakan, DIY merupakan wilayah yang memiliki kekayaan budaya, tradisi, sejarah, seni, dan literasi yang menjadi identitas masyarakatnya. Di tengah perkembangan teknologi informasi, transformasi digital, perubahan sosial, serta berbagai tantangan global, budaya literasi menjadi fondasi penting dalam membangun masyarakat yang cerdas, kreatif, adaptif, dan tangguh atau resilien.

‘‘Perpustakaan tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan koleksi, tetapi telah berkembang menjadi pusat pembelajaran sepanjang hayat, pusat kreativitas masyarakat, ruang kolaborasi, sekaligus wahana pelestarian budaya lokal.

Oleh karena itu, pengembangan budaya baca dan literasi harus dilakukan melalui pendekatan yang lebih inklusif, partisipatif, kreatif, dan dekat dengan kehidupan masyarakat,’ kata dia. (mar).