News  

Jogja Rupiah Festival 2026

Suasana pelepasan peserta Jalan Sehat “Jogja Rupiah Festival (JRF) 2026”. (Foto: Kiriman Y. Sri Susilo)

bernasnews — Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) DIY menyelenggarakan “Jogja Rupiah Festival (JRF) 2026”. Event tersebut diwujudkan dalam kegiatan jalan sehat, capacity building (Kebanksentralan dan Leadership).

Dan pemberian hadiah kepada sejumlah pemenang lomba “Cinta Bangga Paham (CBP) Rupiah, Duta Guru “CBP”, Duta Muda “CBP”, Dongeng “CBP”, dan sebagainya..

Kegiatan JFR 2026 tersebut dilaksanakan di Gedung Inovasi dan Kreativitas, Kampus UGM Bulaksumur, Yogyakarta, pada Sabtu, 4 Juli 2026.

Hadir dalam event JRF tersebut antara lain Sri Darmadi Sudibyo, Kepala Perwkilan BI DIY; Wawan Harmawan, Wakil Wali Kota Yogyakarta, Imam Pratanadi, Kepala Dinas Pariwisata  DIY; Edy Suandy Hamid, Rektor UWM; Gumilang AS, Wakil Ketua ISEI Cabang Yogyakarta; Santoso Rohmad, Dirut Bank BPD DIY.

Juga hadir Hermanto, Deputi Kepala Perwakilan BI DIY, dan Y. Sri Susilo, Sekretaris ISEI Cabang Yogyakarta). Jumlah peserta jalan sehat mencapai 150 peserta yang mewakili Badan Musyawarah Perbankan Daerah (BMPD) DIY, ISEI Cabang Yogyakarta dan KPwBI DIY.

“Mata uang Rupiah harus selalu disosialisasikan untuk menjaga kedaulatan negara, menekan peredaran uang palsu, dan merawat fisik uang agar usia edarnya lebih Panjang,” jelas Sri Darmadi Sudibyo, Direktur KPwBI DIY.

Menurut Sudiyo, berdasarkan UU No. 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang, Rupiah adalah simbol kedaulatan negara yang wajib digunakan dalam setiap transaksi di wilayah NKRI. “Sosialisasi yang terus-menerus sangat krusial karena beberapa alasan utama,” kata Sudibyo yang rutin berolahraga jalan kaki.

Lebih lanjuta Sudibyo menjelaskan alasan utama termaksud. Pertama, Simbol Kedaulatan Negara. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011, Rupiah merupakan lambang kedaulatan negara yang wajib dihormati dan dibanggakan oleh seluruh warga negara.

Kedua, Kewajiban Penggunaan di Dalam Negeri. Sosialisasi diperlukan agar masyarakat dan pelaku usaha konsisten menggunakan Rupiah untuk setiap transaksi di wilayah NKRI, guna mencegah penggunaan mata uang asing yang dapat memicu fluktuasi nilai tukar.

Sri Darmadi Sudibyo, Direktur KPwBI DIY. (Foto: Kiriman Y. Sri Susilo)

Ketiga, Gerakan Cinta Rupiah (5J). Mengedukasi masyarakat mengenai gerakan Jangan Dilipat, Jangan Dicoret, Jangan Diremas, Jangan Distaples, dan Jangan Dibasahi untuk memperpanjang masa edar dan menjaga kualitas fisik uang.

Keempat, Pencegahan Uang Palsu. Edukasi rutin mengenai ciri-ciri keaslian Rupiah (metode 3D yaitu Dilihat, Diraba, Diterawang) melindungi masyarakat dari tindak kejahatan pemalsuan uang.

“Saya memberikan apresiasi yang tinggi kepada KPwBI DIY yang secara rutin dan berkesinambungan memberikan sosialisasi kepada seluruh pemangku kepentingan dari siswa TK, SD, SMP, SMA/SMKI, Mahasiswa, Pedagang, Tukang Parkir dan semua pihak penggunamata uang Rupiah,” ujar Y. Sri Susilo, Dosen FBE UAJY.

“CBP Rupiah dapat diartikan juga untuk tetap berivestasi dalam Rupiah dan tidak membeli Dollar AS atau Emas sehingga nilai tukar Rupiah tetap stabil,” ungkap Susilo, yang juga hobby berjalan santai.

Peserta jalan santai menempuh rute dari GIK UGM menuju Wisdom Park UGM PP, sejauh 3,5 km. Usai finish seluruh peserta sarapan bersama dengan menikmati berbagai macam menu, dianaranya Soto Empal Gentong, Pecel, Jenang Warna-Warni, Nasi Kucing, Gorengan dan berbagai macam minuman seperti Jus buah, Jamu tradisional, Teh dan Kopi.

“Sejumlah door prize juga dibagikan kepada peserta jalan sehat yang beruntung,” pungkas Susilo, yang juga penggiat gowes. (*/ ted)