News  

Kebakaran Kandang Kambing di Wonosari Gunungkidul, Pemuda Terperosok ke Bara Api Saat Selamatkan Ternak Keluarga

WY (30), warga Padukuhan Mokol, kedua kakinya mengalami luka bakar saat berusaha memadamkan api yang membakar kandang kambing milik keluarganya.

bernasnews.com – Malam yang semula tenang di Padukuhan Mokol, Kalurahan Selang, Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, mendadak berubah menjadi kepanikan. Teriakan kambing yang bersahutan memecah kesunyian Selasa (30/6/2026) sekitar pukul 23.00 WIB. Suara itu menjadi pertanda awal bencana yang nyaris merenggut keselamatan seorang warga yang berjuang menyelamatkan kandang ternak milik keluarganya.

WY (30), warga Padukuhan Mokol, harus menahan rasa sakit setelah kedua kakinya mengalami luka bakar saat berusaha memadamkan api yang membakar kandang kambing milik keluarganya. Meski mengalami cedera, ia tetap berupaya menyelamatkan diri sebelum akhirnya mendapatkan bantuan dari warga sekitar.

Peristiwa bermula ketika ayah korban, SM (63), membuat perapian di sekitar kandang kambing. Ia menyalakan api dengan tujuan menghangatkan area kandang agar ternak tetap nyaman menghadapi udara malam yang cukup dingin.

Namun, perapian yang awalnya bertujuan menjaga kesehatan ternak justru berubah menjadi sumber petaka. Bara api diduga perlahan menjalar ke bagian kandang yang dipenuhi material mudah terbakar. Tanpa disadari penghuni rumah, kobaran api terus membesar hingga akhirnya membakar sebagian bangunan kandang.

Menjelang pukul 23.00 WIB, keluarga mendengar suara kambing yang mengembik keras dengan nada tidak biasa. Suara itu terdengar semakin gaduh sehingga memancing rasa curiga. Saat mereka bergegas menuju kandang, kobaran api sudah terlihat menjilat sebagian bangunan.

Melihat kondisi tersebut, WY bersama ayahnya langsung bergerak cepat. Keduanya mengambil ember dan menyiramkan air ke arah api secara bergantian. Mereka berusaha memadamkan kobaran api sebelum menjalar ke seluruh kandang maupun bangunan lain di sekitarnya.

Situasi yang penuh kepanikan membuat keduanya terus mondar-mandir mengambil air. Di tengah upaya pemadaman itu, air yang berceceran di sekitar lokasi membuat permukaan tanah berubah menjadi licin.

Musibah pun terjadi ketika WY berlari mengambil air untuk kembali menyiram api. Ia kehilangan keseimbangan dan terpeleset. Dalam hitungan detik, kedua kakinya terperosok ke bagian perapian yang masih menyala.

Rasa panas langsung menjalar ke kedua kakinya. Meski menahan sakit akibat luka bakar, WY berusaha sekuat tenaga menarik tubuhnya keluar dari bara api. Upaya cepat itu berhasil menyelamatkannya dari luka yang lebih parah.

Setelah berhasil menjauh dari kobaran api, WY segera menghubungi kerabat dan para tetangga untuk meminta pertolongan. Warga yang menerima kabar tersebut langsung berdatangan menuju lokasi.

Dengan peralatan seadanya, warga bergotong royong memadamkan api. Ember-ember berisi air berpindah dari tangan ke tangan. Kerja sama seluruh warga akhirnya berhasil menghentikan amukan si jago merah sebelum api meluas dan menghanguskan seluruh kandang maupun bangunan lain di sekitar lokasi.

Sementara itu, kondisi WY membutuhkan penanganan medis. Keluarga segera membawanya ke Rumah Sakit Bethesda Selang, Wonosari, agar mendapatkan perawatan secepat mungkin.

Tim medis kemudian melakukan pemeriksaan terhadap luka yang dialami korban. Hasil pemeriksaan menunjukkan WY mengalami luka bakar pada kaki kanan dan kaki kiri akibat terpapar bara api saat terpeleset di lokasi kebakaran.

Beruntung, kondisi korban tidak mengancam jiwa. Setelah mendapatkan penanganan medis dan menjalani observasi, dokter menyatakan kondisi WY stabil sehingga ia diperbolehkan pulang untuk menjalani masa pemulihan di rumah.

Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa api sekecil apa pun dapat berubah menjadi ancaman serius apabila digunakan di dekat bangunan atau material yang mudah terbakar. Perapian yang dibuat untuk memberikan kehangatan kepada ternak ternyata dapat memicu kebakaran ketika bara api merambat tanpa disadari.

Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan saat membuat perapian maupun api unggun, terutama di sekitar kandang ternak, gudang, bangunan berbahan kayu, serta area yang dipenuhi rumput kering atau bahan mudah terbakar. Jarak aman harus selalu diperhatikan, sementara api wajib diawasi hingga benar-benar padam sebelum ditinggalkan.

Kehati-hatian menjadi langkah paling sederhana sekaligus paling efektif untuk mencegah kebakaran. Peristiwa yang terjadi di Padukuhan Mokol itu membuktikan bahwa kelalaian kecil dapat berujung pada kerugian besar, bahkan mengancam keselamatan jiwa saat seseorang berusaha menyelamatkan harta benda dan ternak milik keluarganya.(ef linangkung)