bernasnews – Pemerintah Kota Yogyakarta menggelar upacara peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-118. Kegiatan yang mengusung tema “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara”, upacara diikuti jajaran pegawai Pemkot Yogyakarta, berlangsung Lapangan Balai Kota Yogyakarta, Senin (18/5/2026).
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, selaku inspektur upacara mengemukakan, bahwa peringatan Harkitnas bukan sekadar mengenang sejarah perjuangan bangsa, namun menjadi momentum membangun kebangkitan baru menuju kemandirian ekonomi Indonesia.
“Tema ini diangkat sebagai refleksi kebangkitan bangsa yang tidak hanya menengok masa lalu sebagai sumber inspirasi, tetapi juga harus menatap masa depan dengan tekad untuk membangun Indonesia yang lebih kuat, mandiri, dan berdaya saing,” kata Hasto, dilansir dari Portal Berita Pemerintah Kota Yogyakarta.
Pihaknya mengajak seluruh peserta untuk meneladani semangat para pendiri bangsa sejak lahirnya Budi Utomo pada 20 Mei 1908 hingga lahirnya Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak persatuan bangsa Indonesia.
Menurut Hasto, kesadaran nasional yang lahir pada masa penjajahan muncul akibat ketidakadilan yang dirasakan masyarakat, termasuk terbatasnya akses pendidikan bagi rakyat pribumi. Semangat persatuan itulah yang kemudian mengantarkan Indonesia menuju kemerdekaan di tahun 1945.
“Kita bersyukur bahwa kemudian dengan kebangkitan rasa kebangsaan itu, kita bisa merdeka. Tetapi hari ini kita baru berdaulat dalam bidang politik. Sementara dalam bidang ekonomi kita belum sepenuhnya berdikari,” ungkapnya.
Wali Kota Yogyakarta juga menyoroti pentingnya keberpihakan terhadap produk lokal sebagai bagian dari perjuangan menuju kemandirian ekonomi bangsa. Ia mencontohkan produk gula merah Indonesia yang masih bergantung pada sertifikasi luar negeri untuk memperoleh nilai jual lebih tinggi di pasar internasional.
Oleh karena itu, imbuh Hasto, Pemerintah Kota Yogyakarta terus mendorong gerakan ekonomi kerakyatan melalui program Gandeng Gendong dan Warung Milik Rakyat (Wamira) sebagai bentuk penguatan ekonomi lokal berbasis masyarakat.
“Ini adalah bambu runcing-bambu runcing kecil untuk menuju kemerdekaan yang sesungguhnya, yaitu berdikari dalam bidang ekonomi,” tegas orang nomor satu di Pemkot Yogyakata,
Hasto pun mengajak masyarakat untuk lebih mencintai dan menggunakan produk daerah sendiri sebagai bentuk keberpihakan terhadap ekonomi rakyat.
“Kenapa kita tidak makan yang dibikin oleh tetangga? Mangan sing ditandur, nandur sing dipangan. Dengan cara begitu kita bisa memulai kebangkitan periode kedua, yaitu kebangkitan rasa berdikari dalam bidang ekonomi,” tandasnya. (*/ ted)












