Keraton Yogyakarta Gelar Pameran Temporer Smarabawana: Tata Ruang sebagai Filosofi Kehidupan

Gubernur DIY yang juga Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X didampingi GKR Hemas beserta keluarga saat mengunjungi perdana Pameran Temporer Smarabawana. (Foto: Istimewa)

bernasnews — Tata ruang Yogyakarta bukanlah sekadar persoalan geografis atau planologi bangunan semata. Mengutip pemikiran filsuf Plato, bahwa kota adalah “jiwa manusia yang diperbesar dalam ruang”.

Demikian penuturan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, saat melakukan kunjungan perdana ke pameran temporer Smarabawana: Tata Ruang Kasultanan Yogyakarta, yang bertempat di Kompleks Kedhaton Keraton Yogyakarta, pada Minggu (8/3/2026).

Pameran ini menampilkan narasi tentang sejarah tata ruang dan kosmologi Kasultanan Yogyakarta yang dapat disaksikan masyarakat melalui berbagai arsip, visual, dan instalasi pameran.

Yogyakarta dibangun di atas konsep Cosmological Axis atau Sumbu Filosofi yang telah diakui UNESCO. Ruang-ruang di Keraton disusun berdasarkan prinsip Catur Gotro Tunggal (empat elemen dasar) yaitu Keraton, Alun-alun, Masjid, dan Pasar, yang menyeimbangkan aspek sosial, spiritual, dan ekonomi secara simultan.

Menurut Sultan, pameran Smarabawana menyajikan gambaran tentang bagaimana Kasultanan Yogyakarta dibangun bukan hanya sebagai tatanan kota, tetapi juga sebagai cerminan kosmologi kehidupan.

Pendekatan kosmologi yang dijalankan Keraton Yogyakarta menjadi pengingat akan pentingnya memaknai sebuah kota tidak sekadar sebagai ruang fisik, melainkan juga sebagai ruang yang sarat nilai, filosofi, dan harmoni kehidupan.

“Seiring pemaknaan itu, saya mengundang masyarakat luas untuk menyaksikan pameran Smarabawana. Tata ruang Kasultanan Yogyakarta bukan sekadar tampilan sejarah melainkan sebagai kesempatan untuk membaca kembali kebijaksanaan leluhur,” ungkap Sultan, yang juga Raja Keraton Yogyakarta.

Ia pun berharap, kehadiran pameran Smarabawana dapat menjadi ruang perpaduan pengetahuan sekaligus menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam menjaga warisan budaya DIY.

“Semoga pameran ini menjadi ruang perjumpaan antara pengetahuan, kebudayaan dan kesadaran kolektif kita sebagai bangsa yang terus merawat warisan peradaban tata ruangnya,” harap Sultan.

Pendekatan kosmologi yang dijalankan Keraton Yogyakarta menjadi pengingat akan pentingnya memaknai sebuah kota tidak sekadar sebagai ruang fisik, melainkan juga sebagai ruang yang sarat nilai, filosofi, dan harmoni kehidupan.

Pameran Smarabawana dibuka untuk umum dan berlangsung selama lima bulan, mulai 8 Maret 2026 hingga 26 Agustus 2026, dengan jam operasional setiap hari pukul 08:30 WIB hingga 14:30 WIB.

Pameran Smarabawana menghadirkan gambaran tata ruang Keraton Yogyakarta secara menyeluruh, dilengkapi dengan peta wilayah kerajaan Jawa, ragam ornamen jejak peninggalan bangunan bersejarah.

Juga penyajian pengalaman interaktif bagi pengunjung, seperti penelusuran perjalanan Pangeran Mangkubumi dan penanggalan (monogram) Jawa yang dapat dicoba secara langsung oleh pengunjung. (*/ ted)