bernasnews — Segenap warga RT 37, RW 10 Suryoputran menggelar giat budaya tradisi Ruwahan, dengan tema “Melestarikan Tradisi, Menguatkan Silaturahmi”, bertempat di Rumah Budaya Suryoputran, Kampung Suryoputran, Kelurahan Panembahan, Kemantren Kraton, Yogyakarta, Sabtu sore (31/1/2026)
Selain puluhan warga dan segenap pengurus RT 37 Suryoputran, acara ini juga dihadiri oleh Ketua RW 10 Suryoputran Suharyanto, tokoh masyarakat setempat, salah satunya Prof. Anas Hidayat, Dosen FEB UII, serta sejumlah perwakilan dari RT 35, RT 36, dan RT 38 se- RW 10 Suryoputran.
Ketua RT 37 Suryoputran, Tri Murdani dalam sambutannya menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada seluruh warga, khususnya para ibu-ibu atas persiapan, memasak ubo rampe, dan berlangsungnya acara Ruwahan, yang telah menjadi salah satu agenda rutin tahunan kegiatan warga.
“Acara Ruwahan kali ini diberi tema “Melestarikan Tradisi, Menguatkan Silaturahmi”, yang semata untuk nguri-uri budaya tinggalan leluhur. Menguatkan silaturahmi, guna mempererat keguyuban dan gotong royong antar warga RT,” ungkap Tri Murdani.
Pada kesempatan ini, Ketua RW 10 Suryoputran Suharyanto dalam sambutannya memberikan juga apresiasi kepada seluruh warga RT 37 yang telah menyelenggarakan kegiatan Ruwahan. Menurutnya, dengan tujuan nguri-uri atau melestarikan tradisi kegiatan budaya ini, hari ini masih bisa kita saksikan bersama.
“Pasalnya di mana-mana bisa dikatakan sepi atau tidak ada kegiatan Ruwahan seperti ini. Dulu zaman orang tua kita setiap keluarga pada bikin sendiri-sendiri dan kemudian dihantarkan pada tetangga kiri kanan sehingga setiap hari makan apem. Kekinian bikinnya bersama atau jadi satu sehingga makan apemnya ya cuma sekali saja,” ujar Mas Bento, sapaan akrab Suharyanto.
Ia juga berharap agar gelar budaya tradisi Ruwahan yang diselenggarakan oleh RT 37 Suryoputran ini bisa menjadi suri tauladan kepada RT-RT yang lainnya di sekitarnya atau pun di wilayah Kampung Suryoputran.
“Syukur-syukur ke depannya giat tradisi Ruwahan semacam ini bisa digabung dalam lingkup satu RW 10 Suryoputran agar acara bisa lebih meriah lagi,” harap Mas Bento, yang juga seorang musisi gaek di Jogja.
Sementara itu, Ustad Zainuri Afandi selaku Narasumber kegiatan memaparkan makna dan filosofi kegiatan budaya berupa tradisi Ruwahan tinggalan dari leluhur. Menurutnya, Ruwahan itu dari bahasa Arab yang artinya ruh atau arwah dari para leluhur kita, orang tua kita yang dilakukan dalam bulan Syakban.
“Sedangkan bulan Ruwah merupakan sebutan berdasar kalender Jawa. Melakukan doa sebagai ucapan terima kasih kepada para leluhur sebelum kita melaksanakan ibadah di bulan suci Ramadhan. Tanpa kita sadari bahwa dalam hidup ini ada dua nikmat yang didapat, yaitu nikmat tentang kecintaan dan nikmat akan rejeki,” ungkapnya.
Oleh karena itu, jelas Zainuri, bahwa siapa yang belum bersyukur atau pun berterima kasih kepada jasa orang tua dan para leluhur pendahulunya berarti orang itu juga belum bisa bersyukur dan juga belum berterima kasih kepada Allah, Tuhan yang Maha Esa meskipun setiap hari sujud.
Dikatakan, apem dan tradisi Ruwahan ini dahulunya merupakan tradisi dari leluhur yang kemudian oleh Sunan Bonang disesuaikan dengan keyakinan agama Islam. “Seperti apem dari kata afuun yang bermakna ampunan, kolak dari sholatu atau kecintaan, dan ketan dari kotoan yang artinya merekatkan persaudaraan,”ujar Zainuri.
“Air putih lambang kesucian, teh manis dan kopi melambangkan bahwa hidup itu ada manis juga ada pahit, sedangkan bunga setaman bermakna apabila kita telah melaksanakan itu semua diharapkan agar kita dalam kondisi harum dalam menyambut bulan suci Ramadan,” tandasnya.
Usai pemaparan makna dan filosofi tradisi Ruwahan, acara ditutup dengan penyerahan secara simbolis berupa ubo rampe seperti apem, kolak, dan ketan yang telah dikemas dalam kotak hantaran oleh Ketua RT 37 Suryoputran kepada Suparman selaku Warga Sesepuh setempat. (ted)












