Pelukis Alex Pracaya Gelar Pameran Tunggal, Bertajuk Ojo Urik “tansparansi dalam warna, integritas dalam goresan”

KGPAA Paku Alam X bersama Prof. Ova Emillia, didampingi pelkuis Alex Pracaya saat membuka pameran dengan mencoretkan warna di atas kanvas. (Tedy Kartyadi/ bernasnews)

bernasnews  — Masih dalam rangka memperingati Hari Antikorupsi Sedunia (HAKORDIA) 2025, Pelukis Alex Pracaya menggelar Pameran Tunggal karya lukis, yang diberi tajuk  Ojo Urik – “tansparansi dalam warna, integritas dalam goresan”, bertempat di Ndalem Langenkusumo, Jalan Langenastran Lor, Kelurahan Panembahan, Kemantren Kraton, Kota Yogyakarta, tanggal 16 -20 Desember 2025.

Acara pembukaan pameran dihadiri oleh Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), KGPAA Paku Alam X, Rektor Universitas Gadjah Mada, Prof. Ova Emillia, Dinas Pariwisata DIY, Forkompimtren Kemantren Kraton, Lurah Panembahan, Pokdarwis Penembahan Gumregah, serta tamu undangan.

Ketua Penyelenggara, Sumartoyo dalam sambutannya mengungkapkan rasa gembiranya, bahwa hari ini bisa menghadirkan salah satu seniman lukis Yogyakarta, yang mungkin tidak banyak dikenal namun karya-karya Alex Pracaya ini sudah banyak melanglang dunia.

“Sampai saat ini beliau telah mengirimkan karyanya ke 22 negara. Seniman asli Yogya yang bertempat tinggal di kawasan Asrama Polisi Pathuk. Karya-karya beliau sangat menginspirasi bagi generasi muda,” jelas Sumartoyo, dalam sambutan saat pembukaan pameran, Selasa (16/12/2025)

“Kalau kekinian baru dihebohkan dengan karya dari AI (Artificial Intelegent) namun Alex Pracaya sudah memulai jauh lebih awal dengan karya seninya. Dan hari ini merupakan pameran perdananya secara tunggal meskipun pameran bersama telah banyak dilakukan,” imbuh Sumartoyo.

Lanjut Sumartoyo menjelaskan, bahwa pameran ini digelar di rumah budaya yang merupakan bangungan heritage yang dibangun pada tahun 1890 dan masih dilestarikan keasliannya hingga kini. Lantas kenapa Alex Pracaya dalam pameran tunggalnya mengambil tema ini?

“Pasalnya beliau pernah mendapat pesan dari Sultan HB X, bahwa diperbolehkan memperingati Hari Anti Korupsi Sedunia di Jogja tapi ya nganggo carane wong Jogja. Oleh karena itu, pada kesempatan ini Alex Pracaya menampilkan karya-karya lukisnya yang memakai istilah-itilah Jawa zaman dulu, seperti Ojo Urik, Ojo Nggabrul, Ojo Nguntet, dan sebagainya yang penuh dengan makna filosofi,” beber Sumartoyo.

Di akhir sambutannya, Sumartoyo menambahkan, bahwa salah satu karya fenomenal dari Alex Pracaya adalah karya berupa gambar peta pariwisata Kota Yogyakarta yang dibuat secara artistitik dan estetik yang berbeda dengan peta-peta umumnya.

“Karya peta tersebut didedikasinya untuk pariwisata melalui sebuah toko lejen yang menjual pernak pernik kerajinan khas Jogja di kawasan Jalan Malioboro. Beliau tanpa minta royalti atau pun biaya serupiah pun dari karya peta itu,” tandas Sumartoyo, yang juga penggiat wisata kuliner Jogja.

Suasana saat KGPAA Paku Alam X melihat lukisan didampingi Alex Pracaya (bertopi). Foto: Tedy Kartyadi/ bernasnews.

Pada bagian lain, Prof. Ova Emillia mengatakan, bahwa kehadirannya adalah sebagai temannya Alex Pracaya bukan sebagai Rektor UGM. Menurutnya, merupakan kehormatan diundang dalam pameran ini yang tentunya sebagai penikmat pecinta seni sehingga dapat terpacu untuk memberikan harapan dan apresiasi terhadap karya-karyanya.

“Saya juga mengucapkan terima kasih yang hadir di sini pasti mempunyai apresiasi yang tinggi apa yang telah dihasilkan oleh Mas Alex Pracaya. Saya juga masih ingat kala sama-sama sekolah di SMA Negeri 1 Yogyakarta, dia itu ke mana-mana selalu melukis, bahkan mejanya pun tak terhindar dari coretannya,” terang Prof. Ova.

Menurutnya, coretan-coretan itu merupakan luapan emosi ataupun ekspresi-ekspresi yang ingin disampaikan oleh Mas Alex Pracaya dan ketika melihat poster pameran lantas jadi ingat karena itu sudah puluhan tahun lalu dan secara konsisten hingga kini yang tentu semua itu tentu ada maknanya.

“Menariknya, tema yang diambil juga unik mempunyai dua kata kunci. Transparansi dan Intergritas,mungkin kita perlu mendengar dan melihat narasi tentang karya-karya yang dipamerkan ini. Namun karya seni bukan hanya membutuhkan ciri khas tetapi perlu dimaknai munkin juga perlu direnungkan, tidak hanya dilihat sekilas,” ujar Prof. Ova.

Karya fenomenal pelukis Alex Pracaya berupa peta wisata Kota Yogya (cetak ukuran jumbo), yang didedikasikan bagi wisatawan yang belanja di sebuah toko di kawasan Jalan Malioboro. (Tedy Kartyadi/ bernasnews)

Sementara itu, KGPAA Paku Alam X menuturkan, bahwa acara ini merupakan acara yang luar biasa, sebuah pencapaian bagi seseorang yang berkarya. Salah satunya adalah bagaimana karya-karyanya bisa ditampilkan secara visual di ruangan dan dapat diapreasi.

“Saya sepakat dengan Prof. Ova bahwa seniman itu bukan hasil me-declear tapi bagaimana karya-karyanya dinilai oleh masyarakat sekitar. Saya juga ingin menggaris bawahi tageline terutama intergritas, Pracaya itu tidak pernah kalau dimintai tolong oleh temannya untuk menggambar, ia akan menggambar apa yang ia suka,” tegasnya.

Ketika di majalah Sigma, majalah sekolah dimana terikat aturan-aturan yang ketat waktu itu. Tapi ketika diberi tugas nggambar ilustrasi, nggambar ya sak karepe dewe. Terakhir sewaktu Covid, saya minta digambarkan celeng entah tikus tapi dikasih masker. Sampai Covid selesai, gambare ya ora ono,” imbuh Sri Paduka, yang juga teman sekelas Alex Pracaya, saat SMA.

Tak hanya pameran tunggal pelukis Alex Prcaya, acara selama lima hari ini juga akan diisi dengan berbagai kegiatan, diantaranya panitia akan mengadakan lomba mewarnai bagi anak-anak berkebutuhan khusus (difabel). Kemudian workshop mengenai AI untuk desain grafis, acara ini terbuka bagi mahasiswa-mahasiswa DKP.

Juga ada workshop untuk siswa SMA bagi para pengelola majalah, dan pada Jumat (19/12) malam akan digelar Jagongan Budaya, di mana akan dihadiri oleh Wakil Wali Kota Yogyakarta bersama budayawan maupun penggerak budaya di Yogyakarta. (ted)