bernasnews– Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Gunungkidul kembali menjadi sorotan setelah puluhan siswa di Gunungkidul, DIY mengalami keracunan massal.
Makanan, terutama menu tempe krispi, berubah menjadi mimpi buruk usai hasil laboratorium mengungkap adanya bakteri berbahaya di dalamnya.
Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Ismono, menjelaskan bahwa uji laboratorium di Balai Laboratorium Kesehatan dan Kalibrasi (BLKK) Yogyakarta menemukan sejumlah mikroorganisme patogen pada sampel makanan, muntahan siswa, hingga dapur penyedia makanan.
Melansir dari kabarjawa.com, dalam pemeriksaan tersebut, ada beberapa bakteri utama.
- Klebsiella pneumoniae → Ada pada nasi, telur saus mentega, brokoli, wortel, semangka, dan muntahan siswa. Menyebabkan demam, pusing, hingga mual. Dugaaannya, berasal dari pencucian bahan makanan yang kurang bersih atau air tercemar.
- Staphylococcus aureus → Terdeteksi pada semangka dan muntahan siswa. Kontaminasi akibat penanganan makanan yang tidak higienis. Gejalanya berupa mual, muntah, diare, hingga lemas.
- Kapang/Khamir (Jamur) → Muncul pada muntahan siswa. Biasanya tumbuh akibat penyimpanan makanan yang tidak tepat, memicu mual dan diare.
Tak hanya dari sampel siswa, tim juga memeriksa dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Berikut adalah hasilnya.
- Bacillus cereus → Ada pada nasi dan tempe krispi. Menimbulkan mual, muntah, hingga diare.
- Staphylococcus aureus → Kembali muncul pada tempe krispi, dengan gejala serupa.
- Escherichia coli (E. coli) patogenik → Bercokol pada nasi, memicu diare, demam, hingga kram perut.
Ismono menegaskan bahwa penyedia makanan harus memperbaiki standar pengolahan, mulai dari pemilihan bahan, pencucian dengan air mengalir, proses memasak, hingga penyimpanan di rak/palet.
“Kami mengimbau semua pihak untuk lebih ketat menjaga higienitas mulai dari dapur hingga piring siswa. Penggunaan APD saat memasak, cuci tangan dengan sabun, dan pengendalian vektor seperti lalat wajib dilakukan. Kami akan terus melakukan pemantauan agar kejadian serupa tidak terulang,” tegasnya, Jumat (26/9/2025).
Sejatinya, program MBG meningkatkan kualitas gizi anak sekolah di Gunungkidul. Namun, insiden ini justru menimbulkan kepanikan orang tua dan trauma bagi siswa.***(Eln)












