bernasnews– Musim kemarau 2025 mulai menampakkan dampaknya di Kabupaten Gunungkidul. Suara deru truk tangki air kembali memenuhi jalanan desa. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul pun bergerak cepat menyalurkan bantuan air bagi warga terdampak.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Gunungkidul, Sumadi, mengungkapkan bahwa distribusi air bersih resmi berlangsung sejak 16 September 2025 lalu.
Droping Air di Gunungkidul
Melansir dari kabarjawa.com, penyaluran pertama berjalan di Kalurahan Semugih, Kapanewon Rongkop, setelah adanya permintaan dari warga melalui pemerintah kapanewon.
“Ya, kami sudah mulai melakukan droping air bersih atas permintaan warga. Pada 16 September kemarin kami menyalurkan bantuan ke Semugih,” ujar Sumadi, Senin (22/9/2025).
BPBD mengirimkan delapan tangki air atau sekitar 40 ribu liter untuk memenuhi kebutuhan warga. Menurut Sumadi, sebagian sumur warga sudah mengering sehingga bantuan air menjadi kebutuhan mendesak.
Sumadi menjelaskan, kemarau 2025 berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini tergolong kemarau basah, di mana hujan masih turun meski sudah masuk puncak musim kering. Kondisi itu membuat sebagian besar tampungan air warga masih relatif aman.
Meski begitu, BPBD tetap bersiaga penuh. Permintaan droping tahun ini memang tidak sebanyak periode sebelumnya, karena beberapa kapanewon sudah lebih dulu menyalurkan bantuan air menggunakan anggaran mandiri.
“Ada kapanewon yang sudah melakukan droping sejak beberapa bulan lalu. Dari BPBD baru dimulai bulan ini,” jelas Sumadi.
Ia bahkan memperkirakan tahun ini akan ada sisa anggaran droping air yang nantinya dikembalikan ke kas pemerintah daerah.
Titik Rawan Kekeringan
Wilayah pesisir selatan Gunungkidul kembali menjadi titik rawan kekeringan. Panewu Tepus, Subiyantoro, menuturkan warganya sudah mengalami kesulitan air bersih sejak Juli lalu. Bahkan, sebagian warga terpaksa membeli air ke penyedia swasta.
“Pada Juli kami menyalurkan 120 tangki air, dan Agustus 20 tangki. Warga banyak yang membeli air sendiri sambil tetap mengajukan droping ke kapanewon,” paparnya.
Tahun ini, Kapanewon Tepus mengalokasikan Rp76,5 juta untuk pengadaan sekitar 450 tangki air bersih. Bantuan tersebut menyasar warga di Kapanewon Sidoharjo, Purwodadi, dan Tepus. Namun, dua kalurahan lain, Sumberwungu dan Giripanggung, masih mengandalkan pasokan dari BPBD.
Bagi warga, datangnya truk tangki air kini menjadi momen yang sangat ditunggu. Darmo, salah satu warga Semugih, mengaku keluarganya hanya bisa mengandalkan air droping untuk kebutuhan sehari-hari.
“Kami harus irit sekali. Untuk mandi saja dibatasi. Yang penting kebutuhan minum dan masak bisa tercukupi,” keluhnya.
Meski kemarau basah, ancaman kekeringan tetap menghantui Gunungkidul setiap tahun. Kondisi topografi karst membuat daerah ini tidak mampu menyimpan cadangan air jangka panjang. Akibatnya, masyarakat selalu hidup dalam kecemasan setiap kali musim kemarau tiba.***(Eln)












