bernasnews — Warga Dusun Pulutan, Kalurahan Pulutan, Kapanewon Wonosari, punya cara berbeda untuk memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia.
Alih-alih di lapangan atau halaman balai desa, mereka memilih menggelar upacara bendera di aliran Sungai Patung Sapi, tempat yang sehari-hari digunakan untuk memandikan ternak.
Sejak pagi sekitar pukul 07.00 WIB, ratusan warga mulai berdatangan ke lokasi. Tidak hanya penduduk setempat, acara ini juga menarik perhatian warga dari luar daerah, bahkan ada peserta yang datang jauh dari Pacitan, Jawa Timur.
Mereka berkumpul di tepian sungai, sementara sebagian lainnya turun langsung ke dalam air untuk mengikuti jalannya upacara.
Prosesi Unik di Tengah Sungai
Tepat pukul 08.00 WIB, prosesi dimulai. Semua petugas upacara sudah bersiap di dalam air dengan kedalaman sekitar satu meter. Kondisi itu tidak menyurutkan semangat mereka, justru menghadirkan suasana dramatis yang jarang ditemui di tempat lain.
Momen paling menarik terjadi saat pembawa bendera menaiki rakit sederhana yang dibuat dari susunan galon bekas air mineral. Rakit itu perlahan meluncur di permukaan sungai, membawa Sang Merah Putih menuju pengibar.
Dengan penuh kehormatan, bendera kemudian diarak menyusuri aliran sungai, disambut tepuk tangan meriah para penonton.
Ketika bendera mulai berkibar, suasana seketika hening. Semua peserta, baik yang berdiri di air maupun di tepi sungai, serentak memberikan hormat.
Teks Proklamasi Bergema di Sungai
Rangkaian acara berlangsung sebagaimana upacara bendera pada umumnya. Pembacaan Pembukaan UUD 1945, pengucapan Pancasila, hingga doa bersama tetap dilakukan meski seluruh petugas berendam di dalam sungai.
Suara lantang mereka berpadu dengan gemericik aliran air, menciptakan atmosfer khidmat sekaligus unik.
Semangat nasionalisme terlihat jelas dari antusiasme warga. Orangtua hingga anak-anak larut dalam suasana kebersamaan.
Generasi muda ikut berbaris tegap di air, sementara anak-anak tampak ceria menyaksikan jalannya upacara yang berbeda dari biasanya.
Pesan Penting untuk Menjaga Sungai
Ketua panitia, Alexander Puji Lastanto, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan hanya sekadar pertunjukan. Ada pesan serius yang ingin disampaikan kepada masyarakat, yaitu menjaga kelestarian sungai yang menjadi sumber kehidupan.
“Kami ingin menggelorakan kampanye menjaga sungai agar tetap berair. Sungai ini tidak hanya untuk memandikan sapi, tetapi juga menjadi sumber pengairan sawah,” jelas Alexander seperti dikutip dari tugujogja.id.
Pesan tersebut terasa relevan, mengingat Sungai Patung Sapi memiliki peran vital bagi warga sekitar. Melalui upacara ini, warga diajak untuk menyadari pentingnya merawat sungai agar tetap bersih dan bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari.
Tradisi yang Mengakar Nasionalisme
Selama kurang lebih satu jam, suasana khidmat bercampur keceriaan mewarnai jalannya upacara. Rasa kebersamaan yang tercipta membuat warga bangga bisa merayakan kemerdekaan dengan cara sederhana namun penuh makna.
Tradisi ini bukan hanya menghidupkan semangat nasionalisme, tetapi juga menjaga kearifan lokal serta kepedulian terhadap lingkungan.
Dengan keunikannya, upacara bendera di Sungai Patung Sapi berpotensi menjadi agenda tahunan yang terus ditunggu, sekaligus menjadi simbol bahwa nilai kebersamaan dan cinta tanah air bisa hadir di manapun, bahkan di aliran sungai. (Eln)












