Bertemakan “Hangruwat Ageman Hangrimat Paseduluran”, Paguyuban Lar Gangsir Gelar Tradisi Jamasan Tosan Aji

Seremoni pembukaan kegiatan Jamasan Tosan Aji oleh Komunitas "Lar Gangsir". (Foto: Istimewa)

bernasnews — Paguyuban “Lar Gangsir” menyelenggarakan jamasan Tosan Aji atau pusaka dengan tema “Hangruwat Ageman Hangrimat Paseduluran“. Kegiatan jamasan  diikuti oleh 70 peserta, diselenggarakan di Gantari Laras Resto Keluarga, Kawasan Maguwoharjo, Depok, Kabupaten Sleman, DIY, Jumat 25 Juli 2025.

Dalam beberapa referensi dinyatakan bahwa jamasan Tosan Aji adalah upacara tradisional Jawa yang melibatkan pembersihan benda-benda pusaka seperti keris, tombak, dan senjata tradisional lainnya.

Tujuan dari jamasan ini adalah untuk merawat benda-benda tersebut secara fisik dan juga untuk menjaga nilai-nilai filosofis dan spiritual yang terkandung di dalamnya. Jamasan biasanya dilakukan pada bulan Sura atau Muharram, dan dianggap sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan pelestarian budaya

“Kegiatan jamasan pusaka atau Tosan Aji bukanlah semata prosesi pembersihan benda bersejarah, melainkan laku budaya yang sarat makna dan penghormatan,” kata A. Totok Budisantoso selaku Ketua Paguyuban “Lar Gangsir”, dalam keterangan tertulis yang dikirim, Selasa (27/7/2025).

Menurut Totok, melalui jamasan, kita ngruwat—meluruhkan lebu lahir batin yang melekat pada pusaka, sekaligus menyucikan kembali niat dan tekad kita sebagai pewaris budaya. “Pusaka bukan sekadar warisan materi, tetapi pancaran nilai, kebijaksanaan, dan keteladanan dari para leluhur,” ungkapnya.

A. Totok Budisantoso, Ketua Paguyuban “Lar Gangsir”. (Foto: Dok. Pribadi)

Lebih lanjut Totok menyatakan, bahwa dalam merawat Tosan Aji  kita turut ngrumat paseduluran—menjaga harmoni, mempererat rasa kebersamaan, dan merawat jalinan antar generasi dalam semangat gotong royong dan welas asih.

Dikatakan, tradisi jamasan Tosan Aji, setidaknya mempunyai 5 arti penting. Pertama, makna spiritual yaitu jamasan bukan sekadar pembersihan fisik, tetapi juga merupakan prosesi sakral yang bertujuan untuk menyucikan jiwa dan menguatkan akar budaya.

Kedua, pelestarian budaya yaitu acara ini menjadi momentum penting dalam melestarikan warisan budaya Jawa dan memperkenalkan nilai-nilai tradisional kepada generasi muda.

Ketiga, edukasi masyarakat yaitu jamasan juga bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang cara merawat benda-benda pusaka dan memahami makna di baliknya.

Keempat. prosesi  yaitu biasanya diawali dengan kirab pusaka dari museum atau tempat penyimpanan menuju lokasi jamasan, kemudian dilanjutkan dengan prosesi pembersihan pusaka oleh juru jamas.

Kelima, tadisi yaitu jamasan Tosan Aji sering dikaitkan dengan perayaan Tahun Baru Islam (1 Muharram) dan dilakukan pada hari Jumat Kliwon menurut Kalender Jawa.

“Semoga laku jamasan ini menjadi cermin kesadaran kolektif kita untuk terus menghargai pusaka, melestarikan tradisi, serta menguatkan jati diri bangsa melalui semangat paseduluran yang tulus dan luhur,” harap A. Totok Budisantoso uang juga dosen FBE UAJY.

Kegiatan  jamasan Tosan Aji ini merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan oleh Paguyuban “Lar Gangsir” dan telah menjadi agenda tahunan. (*/ ted)