Seruan Gus Hilmi atas Serangan Amerika Serikat ke Iran: Sikap Brutal yang Langgar Kemanusiaan dan Hukum Internasional

Gus Hilmi/Foto: ef linangkung

bernasnews – Anggota DPD RI asal Daerah Istimewa Yogyakarta, Dr. H. Hilmy Muhammad, M.A. atau akrab disapa Gus Hilmi, mengecam keras aksi militer sepihak Amerika Serikat terhadap Iran.

Serangan udara yang menghantam Fordo, Natanz, dan Isfahan menuai kemarahan internasional. Gus Hilmi menilai tindakan itu bukan hanya bentuk kezaliman, tapi juga cermin nyata wajah imperialisme global.

Seruan Gus Hilmi

Dalam pernyataan resmi yang rilis Minggu (22/6), Gus Hilmi menyuarakan suara keras dari bumi Yogyakarta, “Amerika telah bertindak brutal, mencederai kedaulatan negara lain, dan menyebabkan penderitaan mendalam bagi warga sipil yang tak berdosa. Ini bukan sekadar konflik, tapi pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional dan nilai-nilai kemanusiaan.”

Gus Hilmi menyebut bahwa dalih Amerika untuk menargetkan program nuklir Iran hanya kamuflase politik yang membungkus agresi dengan retorika keamanan. Ia menegaskan bahwa tindakan sepihak itu tak ubahnya praktik penjajahan gaya baru yang mengancam tatanan dunia damai dan berkeadilan.

“Amerika bukan sedang menjaga perdamaian, mereka justru menebar ketakutan dan kehancuran. Ini bukan perang melawan senjata, tapi perang terhadap nilai-nilai kemanusiaan,” tegasnya.

Dalam paparannya, Senator asal DIY itu membongkar hipokrisi Amerika Serikat yang selama ini menggaungkan demokrasi dan HAM. Menurutnya, jargon tersebut hanyalah instrumen kekuasaan yang kosong makna. Ketika kepentingan hegemoniknya terganggu, Amerika tak segan bertindak sebagai pelaku kekerasan global.

“Wajah sebenarnya dari demokrasi ala Amerika telah terungkap. Saat kepentingan mereka terusik, hukum dan hak asasi manusia langsung mereka injak-injak,” ujar Gus Hilmi lantang.

Lebih jauh, Gus Hilmi mengaitkan serangan tersebut dengan situasi geopolitik yang makin memanas antara Israel dan Iran. Ia menilai bahwa serangan ini mencerminkan kepanikan Israel menghadapi gelombang perlawanan dari Iran dan para pembela Palestina.

“Amerika tak lebih dari perisai bagi agenda-agenda zionisme yang terbukti melanggar kemanusiaan di tanah Palestina,” kecamnya.

Tak hanya mengecam, Gus Hilmi juga mendesak langkah konkret dari dunia internasional. Ia mendorong PBB dan komunitas global untuk:

  • menuntut pertanggungjawaban Amerika di hadapan Dewan Keamanan dan Mahkamah Internasional;
  • membentuk tim investigasi independen untuk mengungkap dampak serangan terhadap rakyat sipil; dan
  • menolak dominasi kekuatan militer dalam politik global dan mendukung tatanan dunia yang adil.

Ajak Indonesia dan OKI Bertindak Nyata

Dengan penuh semangat kebangsaan, Gus Hilmi menyerukan agar Indonesia mengambil sikap tegas. Ia mendesak pemerintah Indonesia untuk segera memanggil Duta Besar Amerika dan menyampaikan nota kecaman, sekaligus memimpin inisiatif diplomatik di forum internasional untuk mengakhiri agresi.

“Kita tak bisa berdiam diri. Kita adalah bangsa yang diamanati UUD 1945 untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia. Jika kita diam, kita mengkhianati dasar negara kita sendiri,” ujarnya.

Tak hanya itu, ia juga mendorong Organisasi Kerjasama Islam (OKI) untuk tidak netral. Gus Hilmi menyerukan OKI agar bersatu dan mengambil langkah konkret, baik melalui tekanan diplomatik maupun ekonomi, guna menghentikan kekejaman yang tengah berlangsung.

Sebagai putra bangsa yang lahir dari rahim budaya Pancasila, Gus Hilmi menutup pernyataannya dengan penegasan ideologis. Ia mengingatkan bahwa nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab harus menjadi pijakan Indonesia dalam bersikap.

“Sikap diam terhadap kekejaman global adalah bentuk pengkhianatan terhadap Pancasila. Kita wajib bersuara. Kita wajib bertindak,” tutupnya. (ef linangkung)