bernasnews — Telah menjadi tradisi pembuatan pareden atau gunungan oleh pihak Kraton Yogyakarta setiap tahunnya dilakukan tiga kali yaitu pada Garebeg Sawal penanda berakhirnya bulan puasa, Garebeg Mulud untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad, dan Garebeg Besar memperigati Idul Adha.
Proses merangkai pareden (gunungan) sebagai simbul sedekah seorang raja kepada rakyat, diawali dengan prosesi Numplak Wajik. Hal itu juga dilakukan oleh Kraton Yogyakarta dalam rangkaian menyambut Garebeg Besar untuk memperingati Idul Adha 1446 Hijriyah.
Prosesi Numplak Wajik tersebut dipimpin langsung oleh GKR Mangkubumi, bertempat di Panti Pareden, Komplek Magangan, Kraton Yogyakarta, DIY, Rabu sore (4/6/2025).
Suasana sakral gelaran budaya tersebut masih sangat kental terasa, wewangian bunga sesaji dan asap kemenyan serta bebunyian musik gejog lesung oleh sekelompok ibu-ibu abdi dalem, membuat siapa pun yang hadir menyaksikan prosesi itu tentu akan membuat imaji sejenak kembali ke masa lampau.
Menjadi bukti bahwa budaya Jawa khususnya dan budaya bangsa Indonesia secara umum sungguh luar biasa.
Berikut rangkaian prosesi Numplak Wajik, setelah dilakukan doa oleh Abdi dalem Kanca Kaji atau pethakan (berbusana putih) yaitu abdi dalem ulama. Kemudian Abdi dalem Kanca Abang (berbusana merah) mempersiapkan jodang atau alas gunungan berbahan kayu berbentuk bundar.
Setelah siap semua, musik gejog lesung pun kembali ditabuh bertalu-talu dengan irama gending ‘Tundung Setan’, yang bermakna sebagai tolak balak.
Sebakul wajik yang dilapisi thiwul ditumplak dalam jodang yang telah dipersiapkan, setelah selesai kemudian para Abdidalem Keparak bertugas mengolesi lulur yang terbuat dari Dlingo dan Bengle, yaitu semacam empon-empon. Kemudian sinjang (kain jarit) songger dililitkan pada wajik yang seblumnya telah dipasang rangka serta dipasang rangkaian mustaka Gunungan Wadon (Gunungan Putri).
Cara melilitkan kain tersebut dilakukan seperti memasang kain jarit pada seorang putri. Musik gejog lesung tetap berbunyi hingga selesai melilitkan kain semekan penutup dada bermotif Bangun Tolak (putih biru). Musik gejog lesung berhenti dimainkan penanda bahwa prosesi Numplak Wajik telah selesai.
Selanjutnya lulur dlingo bengle atau juga disebutnya singgul dibagikan pada abdi dalem yang bertugas dan pengunjung yang hadir. Juga disertai conthong dari daun pisang yang berisi tembakau dan sirih. Singgul dlingo bengle konon diyakini sebagai tolak bala lantaran tidak disukai oleh setan maupun makhluk halus.
Selain untuk dibagikan kepada masyarakat bertempat di halaman Masjid Gedhe Kauman, sejumlah gunungan yang merupakan simbol Hajad Dalem Sri Sultan HB X sebagai raja itu juga akan dikirimkan ke Praja Kadipaten Puro Pakualaman. Juga dikirim ke Pemerintah DIY, di Komplek Kepatihan, Yogyakarta serta nDalem Mangkubumen, dalam bentuk uraian dari pareden tersebut. (ted)












