bernasnews – Wartawan hampir dipastikan suka dan mampu menulis, terutama karya tulis fakta. Dia tahu aturan jurnalistik, kode etik wartawan, informasi on the record, off the record, embargo, background informasi, dan sebagainya. Namun tidak semua wartawan mau dan tergerak untuk menuliskan pengalaman empirisnya di buku,
Wartawan senior Dr. Albert Kuhon pernah berkarya di koran lokal Yogyakarta, menulis di Harian “Berita Nasional”, kemudian hijrah ke Jakarta dan menjadi jurnalis di media nasional. Kali ini, dia bersama beberapa rekannya menuliskan pengalaman unik dan heroik jurnalistiknya dalam sebuah buku kumpulan tulisan feature dan esai.
Judul berita utama Kompas edisi hari Kamis tanggal 21 Mei 1998: ‘Selamat Datang Pemerintahan Baru’. Tumben Kompas berani menurunkan berita yang spekulatif, dengan memberitahukan bahwa pemerintahan Presiden Soeharto hari itu akan berakhir. Ternyata Redaktur Pelaksana Ace Suhaedi Madsupi sejak Rabu 20 Mei 1998 malam hingga sekitar pukul 01.00 Kamis dinihari berusaha mendapat konfirmasi dari pihak Prof Dr Nurcholish Madjid, Ketua Tim-9 atau Komite Reformasi, mengenai kemungkinan tersebut.
Begitu dapat penegasan, Ace melapor kepada Wakil Pemimpin Redaksi August Parengkuan yang malam itu menjadi penanggungjawab penerbitan Kompas. Kamis 21 Mei 1998 pagi-pagi Ace sudah di redaksi menunggu perkembangan. Sampai pukul 09.00 tidak ada gejala apa-apa. Semua orang di kantor Kompas pucat pasi!
“Raymond Toruan pada hari itu, yang menjabat Pemimpin Umum di Harian The Jakarta Post, bersikukuh bahwa Presiden Soeharto bukan mengundurkan diri karena kalimat yang diucapkan adalah: ‘Saya memutuskan berhenti.’,” kata Dr. Albert Kuhon, editor buku “Kesaksian 23 Wartawan Kompas” (2025) kepada bernasnews, Senin (26/5).
Menurut dia, itu hanya satu-dua potongan kejadian. Masih sangat banyak catatan wartawan koran itu yang tidak pernah dipublikasikan di medianya. Buku yang disunting oleh Albert Kuhon tersebut juga mengungkapkan, Azkarmin Zaini pernah dikira imigran gelap dan dikurung di Mesir sewaktu dia ikut rombongan Presiden Soeharto. Ia memilih tinggal di Mesir, sewaktu rombongan pulang ke Jakarta. Semua paspor hitam (rombongan presiden) diminta dan dibawa kembali ke Jakarta oleh pejabat Sekretariat Negara. Azkarmin membawa paspor hijau, yang tidak ada cap imigrasi pertanda dia masuk ke wilayah Mesir. Dia dikurung di bandara di Kairo dan disangka imigran gelap.
Fotografer Pat Hendranto tahun 1969 bermodalkan kamera, diselundupkan Threes Nio (almarhumah) ikut rombongan Presiden Soeharto pada penerbangan perdana DC-9. Tahun 1980-an, Pat sekali lagi tanpa rencana mengikuti penerbangan perdana Boeing 747 bersama Presiden Soeharto dari Halim Perdanakusuma. Pat ‘diselundupkan’ oleh Kolonel Eddy Nalapraja dan Brigjen Gufran Dwipayana.
Dari posisinya di atap bus, wartawan Dudi Soedibyo memotret para pembajak pesawat Garuda Woyla yang tertembak maupun yang ditangkap di Bandara Don Muang, Thailand. Dudi juga menyelinap masuk ke lapangan terbang sampai di dekat pesawat yang dibajak.
Rudy Badil (dan teman-temannya) kocar-kacir, berlari kencang menerobos genangan air rawa yang dalamnya sepinggang yang banyak batang kayu dan lintahnya, takut diseruduk dan diinjak-injak gajah yang sedang marah. Mereka sedang meliput penggiringan gajah Sumatera di awal dekade 1980-an.
Koresponden Wargatije dibentak di depan umum oleh Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Jenderal Surono Reksodimejo di Semarang tahun 1983. Dia bertanya, kenapa ABRI membiarkan penembakan misterius berkepanjangan. Wartawan Pius Caro menumpang kapal kayu Phinisi Nusantara yang lepas jangkar dari pelabuhan perikanan Muara Baru, Sunda Kelapa Jakarta tanggal 23 Juni 1986 dan berlayar 69 hari sebelum tiba di Vancouver Kanada. Sementara Satrio Arismunandar harus mundur dari korannya ini gegara masalah politik, yakni ia terlibat dalam proses berdirinya Aliansi Jurnalis Independen (AJI).
“Banyak catatan rekan kami yang tidak pernah dipublikasikan di koran, dituangkan dalam buku ini,” Kuhon mengungkapkan.
Dalam dekade 1970-an, Kuhon dulu aktif di Yogyakarta sebagai wartawan KR dan “Gelora Mahasiswa”. Dia juga pernah beberapa kali menulis di Harian “Berita Nasional”.
Dia mengumpulkan dan mencatat sebagai bahan-bahan buat penulisan buku itu sejak tahun 1988-1989. Waktu itu dia ‘berstatus wartawan Kompas’ yang dihukum karena menggagas berdirinya serikat pekerja di sana. Hukumannya, sekitar tahun 1987-1989 semua tulisan dia tidak boleh dipublikasikan di koran itu. Pemimpin Redaksi Kompas Jakob Oetama dan dan Wakil Pemimpin Redaksi P. Swantoro memintanya mengundurkan diri.
“Saya tidak bersedia minta maaf, karena saya menilai menggagas pembentukan serikat pekerja di koran itu bukan sebuah kesalahan,“ kata dia.
Tiga rekan lainnya yang ikut menggagas berdirinya serikat pekerja diampuni, karena mereka diam-diam tanpa setahu Kuhon menghadap Pemimpin Umum yang merangkap Pemimpin Redaksi Jakob Oetama dan minta maaf.
Menurut dia, banyak catatannya yang sudah tercecer, ketika dia berpindah-pindah tempat tinggal selama 35 tahun terakhir ini. Bahan yang dia kumpulkan dicatat pada tahun 1988-1989, digabungkannya dengan hasil wawancara terhadap sejumlah wartawan senior pada tahun 2017. “Kemudian dilengkapi dengan bahan-bahan yang saya kumpulkan dalam periode tahun 2023-2025,” kata wartawan yang suka tertawa lepas ini.
Menurut dia, sungguh tidak mudah menutupi kesenjangan bahan di antara tahun-tahun pengumpulan bahan tersebut. Tentu saja, sangat banyak bagian catatan yang tercecer, terutama catatan tentang sumber-sumber informasi yang digunakan dalam buku ini. “Penerbitan buku ini merupakan pelunasan utang saya bertahan-tahun kepada Piet Warbung, H. Azkarmin Zaini, Rudi Badil dan Julius Pour yang sudah mendahului menghadap ke hadirat-Nya,” kata Kuhon.
Buku ini bukan tulisan yang bersifat ilmiah atau merupakan analisis atas peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi. Buku ini adalah catatan wartawan, bukan fiksi, romansa maupun prosa. Isi buku hanya menggambarkan pergeseran industri media cetak (khususnya surat kabar) di Indonesia maupun sikap dan perilaku wartawan (khususnya sejumlah wartawan Kompas). Setidaknya, dengan berkaca pada lelakon sejumlah wartawan koran ini generasi tahun 1970-1980an, kita dapat melihat potret kehidupan pekerja pers Indonesia di awal penerbitan koran, ketika media cetak masih menjadi bagian dari wahana perjuangan sebelum menjadi industri pers.
Tentu elan dan cara kerja awak media dalam era digital, sangat berbeda dengan yang terjadi pada awak media pada tahun 1970-1990an. Sama sekali tidak diboboti oleh keberpihakan kepada siapa pun, tidak berkiblat pada aliran politik atau idealisme mana pun. Seluruh tulisan dalam buku ini merupakan cacatan pribadi wartawan, yang sebagian besar tidak pernah dipublikasikan dalam media massa. (mar)










