News  

Buku 100 Tahun Saptohoedojo yang Tidak Ingin Menjadi Buku

Yani Saptohoedojo (tengah) bersama sebagian penulis buku 100 Tahun Saptohoedojo di Art Gallery Saptohoedojo, Sleman, DIY, Selasa 20/5/2025. (Foto : Kiriman Atiek Mariati)

bernasnews – Galeri seni itu tidak sepenuhnya semarak. Beberapa dinding tampak lengang, tak lagi padat oleh karya-karya sang maestro yang sedang dikenang seratus tahunnya. Namun justru dalam ruang yang nyaris kosong itulah, peluncuran buku “Saptohoedojo – Seni, Rakyat, dan Keabadian” berlangsung — diwarnai musik tiup Memet C Slamet  dan pembacaan puisi Evi Idawati bertema gerabah yang syahdu dan membumi, seperti tanah liat yang menjadi metafora hidup Saptohoedojo.

Hari itu, 20 Mei 2025, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional. Namun alih-alih menjadi panggung selebrasi, peluncuran buku di Art Gallery Saptohoedojo, Jalan Solo km 9 Sleman, DIY ini lebih menyerupai sebuah penyerahan sunyi. Tidak ada gegap gempita. Hanya percakapan yang pelan tapi dalam. Di panggung tampil sebagai narasumber Sigit Sugito, Haryadi Baskoro, Y.B. Margantoro, dan Fajar Riyanto. Di balik senyum dan kamera yang sesekali menyala, muncul satu pertanyaan yang menggantung: benarkah buku ini ingin menjadi buku?

Disunting oleh wartawan senior Y.B. Margantoro, buku ini menyatukan lima belas penulis dari latar belakang berbeda yang menulis secara terpisah. Tak ada keharusan untuk merumuskan satu pandangan tunggal. Bahkan, subjudulnya—Seni, Rakyat, dan Keabadian—tidak diikat dalam satu kalimat padu. Seolah-olah buku ini tahu diri : ia hanya ingin menjadi ruang terbuka bagi siapa pun yang ingin mengenang Saptohoedojo, atau menafsirkan ulang jejak hidup dan gagasan-gagasannya.

Para penulisnya pun datang dari lingkaran-lingkaran hidup yang beragam: ada murid yang menulis tentang gurunya, ada kekasih yang mengenang dengan cinta, ada sesama seniman, dan ada rakyat kecil yang merasa hidupnya berubah karena sosok Saptohoedojo. Buku ini lebih menyerupai kolase ingatan daripada biografi. Ia hidup oleh keberagaman suara, bukan otoritas tunggal.

Saptohoedojo bukan hanya pelukis. Ia adalah penggerak. Ia menggagas pemaknaan baru tentang warisan, bahkan tentang kematian. Melalui gagasan “Makam Seniman” di Bantul, ia menunjukkan bahwa karya tak berakhir saat seniman tiada. Ia juga pernah berjuang mengangkat derajat para perajin gerabah di Kasongan, jauh sebelum wilayah itu dikenal sebagai destinasi wisata seni rupa.

Tak heran bila jejak hidupnya sulit dikunci hanya dalam satu buku. Bahkan Margantoro sebagai editor mengakui: “Buku ini bukan perayaan, tapi kegelisahan.” Panelis yang hadir pun sepakat, peluncuran ini justru menandai bahwa Saptohoedojo tetap menjadi ruang terbuka—terus dapat dimasuki, ditafsirkan, bahkan dipertanyakan ulang.

Di akhir acara, tidak ada tepuk tangan panjang atau sorak-sorai yang memekakkan. Yang tertinggal hanyalah keheningan dan percakapan. Buku ini menolak jadi prasasti. Ia tidak ingin jadi dokumen yang membekukan. Ia ingin tetap mengalir—menjadi forum, menjadi cermin, menjadi ajakan untuk berpikir ulang tentang apa arti seni, rakyat, dan keabadian.

Peluncuran buku yang dihadiri Yani Saptohoedojo, Kartika Affandi, sahabat dan undangan ini bukan puncak, melainkan koma panjang dalam kalimat yang belum selesai. Buku ini tak ingin jadi buku. Ia ingin menjadi percakapan yang tak pernah berakhir. (mar/Atiek Mariati, Pegiat Literasi Ekologis di Kulon Progo, DIY).