bernasnews – Peringatan 100 tahun Maestro Seniman Saptohoedojo pada 2025 diisi dengan berbagai kegiatan, diantaranya penerbitan buku bertajuk “Saptohoedojo : Seni, Rakyat dan Keabadian”. Peluncuran buku trilogi ini dilaksanakan di Art Gallery Saptohoedojo, Jalan Solo Km 9, Yogyakarta, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2015.
“Mengapa Saptohoedojo? Jika ditelusuri sosok seniman dan budayawan bahkan usahawan Saptohoedojo merupakan sebuah figur yang lengkap yang datang tepat pada masanya, di mana Yogyakarta memerlukan tokoh seperti dirinya. Betapa tidak, seniman yang lahir pada 6 Februari 1925 ini memiliki pengalaman lintas zaman dan profesi.
Walaupun berbagai peristiwa politik dan sosial dia alami, tetapi berbagai aktivitas kehidupannya selalu menempatkan kebudayaan sebagai bagian dasar gerak langkah hidupnya. Saptohoedojo pernah penjadi pejuang dalam merebut hingga mempertahankan Republik Indonesia. Dalam alam kemerdekaan, sosok ini mampu bekerja dan berkarya bagi pengembangan kebudayaan serta perekonomian bagi bangsa ini,” kata Ketua Panitia 100 Tahun Saptohoedojo yang juga Ketua KOSETA DIY Sigit Sugito kepada bernasnews, di Yogyakarta, Senin (19/5).
Menurut Sigit, idealisme seniman dan budayawan yang mengalir dalam darah Saptohoedojo membuatnya sangat kreatif dalam menciptakan karya-karya seni yang berkelas. Sebut saja seni kolase yang dia garap membuahkan sebuah karya imajinatif yang menawan. Belum lagi karya lukisan-lukisannya yang banyak melahirkan inspirasi di zamannya. Tangan dinginnya terus bergerak menempa desa gerabah Kasongan, Bantul, DIY menjadi sebuah kawasan kreatif gerabah yang mampu memesona warga dunia dengan kreativitas karya gerabah, juga berbagai karya batiknya. Belum lagi kreativitas cor logam di daerah Trowulan, Jawa Timur dan berbagai tempat lainnya.
“Pemikiran entrepreneurship Saptohoedojo membuat kreativitas seni budaya budaya menjadi berkembang apik. Bukti-bukti karyanya dapat dilihat dalam ruang galeri di manapun yang ada. Pemikiran idealisme budaya dan seni juga tertuang dengan gagasan visioner pada masanya dengan membangun Museum dan Makam Seniman di Imogiri, Bantul, DIY. Konsep pemikiran inilah yang menjadikan Saptohoedojo menjadi sosok lengkap dalam dunia budaya dan entrepreuneurship di kalangan para seniman Indonesia,” kata dia.
Sigit Sugito mengatakan pula, penerbitan buku 100 tahun Saptohoedojo ini sebagai upaya Mengapresiasi karya dan dedikasi Saptohoedojo, Membangun karakter Bangsa melalui buku, Menanamkan nilai-nilai kejuangan kepada generasi muda, dan Meneguhkan keistimewaan Yogyakarta sebagai kota budaya. (mar)










