News  

Seniman Didik Nini Thowok Kenang Hamzah Sulaiman: Sosok Berbakat yang Hidupkan Panggung Seni Yogyakarta

Seniman Didik Nini Thowok kenang sahabatnya Hamzah Sulaiman sebagai sosok yang berbakat hidupkan seni di Yogyakarta. Foto: istimewa

bernasnews – Kepergian Hamzah Sulaiman, tokoh di balik karakter ikonik Raminten, meninggalkan kesedihan mendalam bagi dunia seni dan budaya Yogyakarta. Salah satu sahabat dekat sekaligus sesama seniman, Didik Nini Thowok, mengenang mendiang sebagai sosok berbakat dan berdedikasi tinggi dalam dunia seni pertunjukan.

“Selamat Jalan Pak HAMZAH… Beliau salah satu anak bangsa keturunan Tionghoa yang berkontribusi terhadap perkembangan Seni Tari dan memberikan wadah para seniman di Yogyakarta untuk bisa menyalurkan bakatnya di panggung pertunjukan melalui Kabaret Raminten,” ungkap Didik saat diwawancarai bernasnews pada Kamis (24/4/2025).

Didik mengisahkan kebersamaan mereka di era 80-an, saat tergabung dalam grup seni The Glass And Dolls, bersama sejumlah artis Yogyakarta. Dalam grup itu, mereka berkolaborasi lintas bidang: dari penyanyi, desainer, pantomim, hingga penari. Meski pada akhirnya menempuh jalur yang berbeda, Didik menjadi dosen, koreografer, dan pelawak, sementara Hamzah meniti kesuksesan sebagai pelaku kabaret dan pengusaha, mereka tetap terikat dalam kecintaan pada seni.

“Kami sama-sama pecinta seni tari,” kenangnya.

Hamzah Sulaeman, atau yang dikenal pula dengan gelar Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Tanoyo Hamiji, berpulang pada usia 75 tahun. Kabar duka tersebut diumumkan melalui akun resmi Instagram @houseoframinten pada Kamis (24/4/2025).

“Selamat jalan Kanjeng… Engkau bukan hanya pemimpin, tapi juga guru dan panutan kami,” tulis unggahan itu, yang disertai foto kenangan bersama sang maestro.

Dikenal sebagai pengusaha, budayawan, dan performer, Hamzah sukses mengangkat nilai-nilai lokal lewat karakter Raminten, sosok lelaki berpenampilan perempuan dengan logat Jawa halus yang sarat kritik sosial dan nuansa jenaka. Sosok ini begitu membekas di hati masyarakat dan menjadikan panggung hiburan sebagai media refleksi budaya.

Tak hanya di atas panggung, kiprah Hamzah juga tercermin dalam berbagai usaha, mulai dari Hamzah Batik (dahulu Mirota Batik) hingga restoran House of Raminten yang kini menjadi ikon kuliner tradisional Yogyakarta. Melalui kreativitas dan jiwa seninya, Hamzah tak hanya membangun bisnis, tapi juga warisan budaya yang hidup.

Selamat jalan, Hamzah Sulaiman. Karyamu abadi, inspirasimu terus menyala di hati para seniman dan pencinta seni Indonesia.