Pramunditya Ahimsa Untoro Pentas Dalang Cilik di SMP N 15 Yogyakarta

Pramunditya Ahimsa Untoro atau Ki Gedhe Pramudhita saat latihan mendalang bersama teman-temannya untuk Pagelaran Dalang Cilik di SMP Negeri 15 Yogyakarta, Jumat (24/11/2023). (Foto : Kiriman Ratun Untoro)

bernasnews – Terdengar suara khas remaja sedang berlatih sulukan wayang. Tidak terlalu merdu, tetapi cukup sesuai dengan laras suara gamelan. Itulah suara Pramunditya Ahimsa Untoro (14 tahun). Ia merupakan salah satu dari sekian banyak anak yang tetap bangga dengan wayang. 

“Sejak usia dua tahun, Tio – panggilan akrabnya – yang saat itu tinggal di Manado, Sulawesi Utara sering dikirimi wayang kulit oleh kakeknya dari Bantul, Yogyakarta. Sejak saat itu, ia menyukai wayang. Bukan hanya itu, ia juga nyaman saat mendengar suara gamelan di tape recorder. Hal itu membuat tetangga-tetangga di Manado heran,” kata Dr. Ratun Untoro, M.Hum, ayah Tio yang sehari-hari berkantor di Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kepada bernasnews, Kamis (23/11/2023).

Tio yang merupakan peserta didik SMP Negeri 15 Yogyakarta akan tampil dalam Pagelaran Dalang Cilik di sekolah setempat, Jalan Tegal Lempuyangan Nomor 61 Yogyakarta, Jumat (24/11). Pementasan dalam rangka Pekan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila.

Acara ini mempersembahkan pagelaran karawitan dan pewayangan; pagelaran tari; dolanan anak; sesorah, macapat, pranata adicara; teater daerah; langen carita; angkringan Mabelta.

Ikut pelatihan gamelan

Ratun mengatakan, setelah pindah ke Yogyakarta tahun 2016, Tio gemar nonton Sendratari Ramayana di Prambanan. Kebetulan Ratun melakukan penelitian untuk disertasi tentang sendratari Ramayana. Semakin cintalah Tio terhadap gamelan hingga oleh ibunya, Elvani, dia diikutkan pelatihan gamelan yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan DIY dan juga malah ikut latihan menari di Pura Pakualaman, Yogyakarta. 

Namun, kegiatan itu terhenti karena pandemi Covid-19. Saat pandemi, tanpa disuruh, Tio belajar membuat wayang karton dan senantiasa nonton wayang melalui YouTube. Setelah pandemi usai dan beberapa pagelaran wayang kulit sudah mulai diadakan lagi, Tio selalu mengajak ayahnya nonton, terutama pagelaran wayang kulit di Sasana Hinggil Dwi Abad, malam Minggu kedua setiap bulan.

Kegemaran terhadap wayang kulit ini akhirnya tersalurkan setelah Tio mengikuti pelatihan dalang di Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta sejak 2022. Bersama Kundha Kabudayan Kota Yogyakarta, ia diajak tampil di pagelaran dalang cilik dan wayang cinema. Keduanya dilaksanakan di Monumen Yogya Kembali, Titik Nol, Malioboro. Selanjutnya, ia diberi kesempatan oleh sekolahnya, SMP Negeri 15 Yogyakarta, untuk menunjukkan bakatnya melalui Pekan Projek Penguatan Pelajar Pancasila, pada Jumat (24/11). 

“Hebatnya, seluruh pementasan wayang ini didukung oleh remaja seusia Tio mulai dari penabuh gamelan hingga sinden. Hanya ada satu orang dewasa yang menjadi pengendang pada pementasan ini. Ia adalah Ki Gunawan, dalang wayang kulit yang sekaligus pensiunan guru pedalangan SMKI. Selama sepekan, Ki Gunawan melatih anak-anak menabuh gamelan, nyinden, dan juga melatih Tio mendalang. Saking gembiranya akan pentas bersama teman-temannya, Tio menjuluki dirinya sendiri sebagai Ki Gede Pramudhita,” kata Ratun.

Pagelaran wayang kulit ini rencananya akan dihadiri Pj. Walikota Yogyakarta, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga DIY, Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Kepala Balai Bahasa DIY, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kota Yogyakarta, Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Komite SMP Negeri 15 Yogyakarta, dan orang tua siswa. 

“Melihat kenyataan ini, kita menjadi optimis bahwa bahasa dan sastra Jawa akan tetap terus lestari dan berkembang nut zaman kelakone. Bahkan, cita cita mewujudkan bahasa Jawa anjayeng bawana menjadi hal yang tidak mustahil,” kata Ratun Untoro. (mar)