bernasnews – Sebanyak 50 orang berkumpul di Garduaction, Pesisir Parangkusumo untuk aksi bersih-bersih pantai dan konservasi mangrove pada Sabtu, 4 November 2023.
Aksi reresik pantai selama 15 menit yang diikuti para peserta berhasil mengumpulkan sebanyak 1 kg styrofoam, 3 kg plastik, 2 kg kaleng, 1 kg kertas, dan 3 kg kertas duplek. Jenis sampah yang dikumpulkan dari aksi bersih pantai terbatas pada sampah anorganik yang mampu dikelola oleh komunitas lokal.
Kaleng, kertas, dan kertas duplek akan disetorkan pada industri daur ulang. Sementara, styrofoam akan digunakan untuk pembuatan batako, dan plastik didaur ulang menjadi paving block.
Kemudian para peserta juga diajak menanam mangrove asosiasi, jenis pandan laut. Daun pandan laut ini bisa dimanfaatkan oleh masyarakat pesisir untuk dijual sebagai bahan baku produk kerajinan.
Aktivitas tersebut dilakukan oleh masyarakat yang memiliki keterbatasan dalam mengakses pekerjaan di sektor swasta dan keterbatasan modal dalam menciptakan wirausaha yang layak. Melalui aksi konservasi ini, diharapkan semakin banyak publik yang mampu memahami situasi kehidupan komunitas dan masyarakat di pesisir.
Acara bertajuk Rantai Komang Trip ini juga melakukan diskusi mengenai isu lingkungan hidup. Para peserta juga berkesempatan nyangkruk bareng warga pesisir.
Rantai Komang Trip menghimpun cerita dari pengalaman hidup para warga dengan beragam latar belakang. Catatan cerita tersebut diantaranya memuat kegelisahan warga terhadap semakin banyaknya sampah, sekaligus rasa tidak percaya diri untuk memanfaatkan program bank sampah yang dikelola oleh dusun dan komunitas setempat.
Dalam diskusi tersebut, ditemukan fakta bahwa warga justru lebih nyaman memanfaatkan layanan penjemputan sampah yang secara resmi memang disediakan oleh pemerintah, sekalipun harus membayar biaya retribusi.
Kolaborasi antara Pusat Studi Perdagangan Dunia (PSPD) UGM dan Suryakanta Institute, aksi Rantai Komang Trip tidak akan berhenti pada seremonial bersih pantai dan penanaman mangrove. Namun, hasil aksi Rantai Komang Trip yang merupakan rangkaian agenda Circular Economy Forum (CEF) 2023 akan dikawal dalam intervensi kebijakan publik. Agenda tersebut akan dilakukan dalam Dialog Nasional Kebijakan Publik Ekonomi Biru dan International Workshop Public Policy pada akhir tahun 2023.
“Pertemuan di Rantai Komang Trip dapat menjadi refleksi diri masing-masing agar lebih peka untuk bertindak tanpa merusak alam. Ia menekankan konsep ekonomi sirkular kini tengah marak digaungkan sebagai cara menjaga keseimbangan alam, dapat dipraktikan dalam ranah individu,” ujar Direktur PSPD UGM, Riza Noer Arfani dalam keterangan yang diterima pada Senin (6/11/2023).
Setiap orang harus memastikan proses konsumsinya tidak lagi menghasilkan limbah terbuang, namun memastikan limbah tersebut siap dikelola sebagai bahan baku produk baru.
Sementara itu, pembina Suryakanta Institute, I.G.K. Manila berpesan kepada seluruh peserta, sebagai generasi muda harus memahami terjadinya eksploitasi alam secara terus menerus
“Kita tidak berada di Kalimantan, namun harus menyadari bagaimana hutan-hutan di sana terus dihabisi,” katanya.
Melalui kegiatan ini, ia berharap semakin banyak anak-anak muda yang tergerak untuk memperjuangkan kelestarian alam.












