bernasnews – Kontingen Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bersedia belajar atas kekalahan dalam Lomba Musikalisasi Puisi Digital 2023 Tingkat SMA Sederajat se-Indonesia. Mereka sepakat memperbaiki diri dengan berlatih lebih giat untuk maju lagi dalam lomba yang sama pada tahun 2024.
Hal tersebut mengemuka dalam acara Evaluasi Lomba Musikalisasi Puisi Digital 2023 tingkat SMA sederajat se-DIY yang diselenggarakan Balai Bahasa DIY di Hotel Horison Riss Ultima Yogyakarta, Senin (30/10).
Hadir sebagai pemateri penyair Joko Pinurbo, seniman teater/dosen Agus “Leyloor” Prasetyo dan seniman musik Ari Sumarsono. Sebagai moderatot Koordinator Kelompok Kepakaran dan Layanan Profesional (KKLP) Literasi Noorhadi. Acara ini dibuka oleh Kepala Balai Bahasa DIY Dra. Dwi Pratiwi, M.Pd yang diwakili Mulyanto, M.Hum.
Menurut Sri Sabakti dan Nindwihapsari, Balai Bahasa DIY menyelenggarakan lomba Musikalisasi Digital 2023 tingkat SMA sederajat se-DIY dalam rangka peningkatan literasi bagi generasi muda khususnya apresiasi sastra.
Satu tim peserta lomba terdiri atas 4 – 6 siswa yang menampilkan dua kategori musikalsiasi puisi yaitu puisi wajib dan puisi pilihan. Puisi dinyanyikan secara utuh, tidak dideklamasikan atau diteatrikalisasikan. Musikalisasi puisi disajikan dengan menggunakan instrumen pentatonik dan diatonik (elektrik dan/atau akustik). Penampilan peserta direkam dalam format video.
“Dalam lomba di tingkat nasional, tim DIY tidak menang. Oleh karena itu, Balai Bahasa DIY mengadakan evaluasi lomba musikalisasi puisi digital agar kita dapat mengetahui kekurangan atau kelemahan masing-masing. Kita hadirkan Joko Pinurbo sebagai salah satu juri lomba musikalisasi puisi digital tingkat nasional serta Agus Prasetyo dan Ari Sumarsono,” kata Noorhadi.
Sebaiknya lomba secara luring
Penyair Joko Pinurbo sebagai salah satu juri tingkat nasional mengaku agak kesulitan untuk menentukan peserta sebagai juara dan nilainya bersifat relatif. Pembuatan video, dukungan musik dan vokal peserta tidak semuanya dapat sinkron. Belum lagi selera juri berbeda-beda antara lain dari segi iringan musik.
“Saya pribadi suka kroncong atau gamelan dalam iringan musikalisasi puisi digital. Tetapi juri lain belum tentu. Bagi saya, sebagai penyair, tetap yang utama adalah karya puisinya dan bagaimana divokalkan oleh peserta secara jelas. Kalau suara musiknya lebih dominan jadi lain.
Penyampaian puisinya jangan monoton, harus ada dinamika. Pemenggalan kata dalam puisi juga harus diperhatikan karena dapat mempengaruhi alur pikiran atau logika. Sebaiknya lomba ini dilaksanakan secara luring dan bukan daring,” kata dia.
Agus Prasetyo pada kesempatan ini lebih menekankan dari sisi teater dan Ari Sumarsono dari sisi musikalisasi pusinya. Mereka sepakat olah vokal menjadi sangat penting dalam penyampaian puisi. Ibaratnya, puisi itu adalah penumpang, sedangkan musik adalah kapalnya. Maka posisi siapa yang di atas dan yang di bawah jangan sampai salah. Puisi harus lebih dominan daripada musiknya.
Setelah pemaparan para narasumber, disajikan tayangan juara lomba tingkat nasional dan tayangan peserta dari DIY sebagai perbandingan. Juga disarankan agar iringan musik puisinya diusahakan yang bersifat nasional dan bukan kedaerahan, mengingat jurinya dari berbagai daerah. (mar)










