News  

Raudi Akmal Ajak OPD Petakan Potensi Masalah untuk Hadapi Kemarau di Sleman

Raudi Akmal Ajak OPD Lakukan Pemetaan Potensi Masalah untuk Hadapi Kemarau di Sleman. (Foto : Istimewa)

bernasnews – Fenomena El Nino yang terjadi saat ini membuat sejumlah wilayah mengalami kekeringan. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana. Daerah (BPBD) Sleman, Makwan, mengatakan tahun 2023, kalurahan yang mengalami kekeringan paling banyak berada di wilayah bagian barat termasuk di Sleman. 

Setidaknya ada 10 titik lokasi kekeringan di Sleman yakni di 4 kapanewon yaitu moyudan, tempel, pakem, ngaglik. Bahkan tercatat sebanyak 243 KK/1.184 jiwa dengan 1.068 Hektare lahan yang terdampak kekeringan. Kondisi ini diperparah dengan adanya pematian air selokan mataram dan selokan van der wijk yang menjadi urat nadi pertanian di Bumi Sembada.

Melihat kondisi itu, anggota DPRD Sleman, dr. Raudi Akmal, mengimbau kepada organisasi perangkat daerah (OPD) terkait untuk dapat memperhatikan kondisi masyarakat yang terdampak musim kemarau.

Sejauh ini, langkah yang sudah ditempuh sleman adalah dropping air bersih sejak 14 agustus, total 939.000 liter air bersih telah disalurkan. Langkah antisipasi lainnya yang bisa dilakukan adalah pemetaan potensi masalah.

“Pemerintah daerah melalui OPD terkait bisa segera mencari solusi bersama. Apalagi mengingat bahwa penyaluran air bersih atau droping sebenarnya bukanlah solusi jangka panjang. Namun ini juga penting dilakukan sambil menunggu solusi lain yang memenuhi kebutuhan dasar air bersih,” kata Anggota DPRD Sleman, dr. Raudi Akmal, Kamis (19/10/2023).

“Kita berharap pemerintah daerah memaksimalkan pemetaan potensi masalah untuk melihat masalah yang mungkin terjadi selain kekeringan, seperti potensi kebakaran, kesulitan air bersih untuk konsumsi sehari-hari dll.” ucap dia.

Pemetaan lapangan dilakukan untuk melihat tingkat potensi kekeringan saat musim kemarau. Pemetaan juga dilakukan untuk melihat kemungkinan masalah lain baik karena alam ataupun akibat kelalaian manusia itu sendiri, perlu dipetakan setiap desa agar lebih mudah.

“Harapannya pemerintah bisa segera mencari solusi terbaik. Misalkan dengan lebih optimal melakukan penyimpanan air untuk memenuhi danau, embung, kolam retensi, dan penyimpanan air. Sehingga pada puncak musim kemarau, masyarakat bisa lebih siap menghadapi potensi bencana” imbunya.

Lebih lanjut Raudi mendorong agar distribusi air bersih harus massif dilakukan sehingga tidak ada wilayah yang mengalami kesulitan air bersih. (lan)