Biennale Jogja 17 Libatkan 69 Seniman, Usung Konsep Baru Bertajuk Trans-Lokalitas di Desa

Beberapa karya pameran Biennale Jogja di Taman Budaya Yogyakarta (TBY). (Foto : Wulan/ bernasnews)

bernasnews – Event besar kesenian yakni Biennale Jogja kembali hadir di Daerah Istimewa Yogyakarta, mulai 6 Oktober-25 November 2023 mendatang.

Bertajuk Biennale Jogja 17, event tahun 2023 kali ini mengusung konsep yang sangat berbeda dari gelaran sebelumnya dengan tema Trans-Lokalitas & Trans-Historisitas untuk memperluas jangkauan geografis, setelah putaran sebelumnya bekerja hanya pada wilayah bagian Selatan dunia.

Direktur Yayasan Biennale Yogyakarta, Alia Swastika mengatakan perubahan konsep ini seiring dengan dimulainya Biennale Jogja Equator (BJE) Putaran Kedua tahun 2023-2027.

BJE tersebut ingin mulai memunculkan gagasan terkait trans-lokalitas dan trans-historisitas untuk memberi ruang bagi sejarah yang lain dengan spirit sama, meski ada dalam kawasan di luar Global Selatan.

“BJE menggunakan konsep trans-lokalitas untuk menghubungkan pengetahuan di satu lokalitas dengan lokalitas lain, mengupayakan sistem seni dan kebudayaan yang berbasis pada situasi-situasi adat spesifik serta mengartikulasikan pengetahuan yang lebih berakar pada bahasa-bahasa lokal,” kata Direktur Yayasan Biennale Yogyakarta, Alia Swastika, Jumat (6/10/2023).

Jika biasanya karya seni ditampilkan di ruang-ruang gallery yang terkesan eksklusif, kali ini karya dari 69 Seniman Asia itu bakal disebar di ruang-ruang publik yang ada di dua desa/kampung, yakni Kampung Mataraman, Panggungharjo Bantul dan Desa Bangunjiwo, Bantul.

Terdapat 13 titik lokasi yang menjadi venue Biennale Jogja 2023. Lokasi-lokasi tersebut terhimpun dalam 4 area utama antara lain Taman Budaya Yogyakarta, Area Desa Panggungharjo, Area Desa Bangunjiwo, dan Area Madukismo.

Di Panggungharjo, pameran dapat diakses di Kantor Kelurahan Panggungharjo, Kampoeng Mataraman, Gedung Olahraga Panggungharjo, The Ratan, Kawasan Budaya Karang Kitri.

Sementara untuk Area Desa Bangunjiwo, pameran dapat diakses di Kantor Kelurahan Bangunjiwo, Lohjinawi, Sekar Mataram, Monumen Bibis, Joning Artspace, dan Rumah Tua.

Selain pameran utama, program publik juga akan dirangkai dalam berbagai bentuk, mulai dari pertunjukan, pemutaran film, diskusi, dan sebagainya. Beberapa acara yang termasuk dalam Public Program, misalnya Tangga Teparo, Pameran Seni Rupa Anak, Baku Pandang, Tur Kuratorial, Wicara Kurator, Bentang Silir, Pilin Takarir, dan Biennale Forum.

“Desa menjadi lokus kehidupan yang penting. Pengetahuan lokal juga menjadi agen penting bagi kehidupan seni kontemporer. Kita jadikan desa sebagai pijakan untuk berbicara bersama. Kita bawa seniman mancanegara untuk bisa menyatu dengan lokalitas di desa,” ujar dia.

Alia menjelaskan pada gelaran ke-17 ini, pihaknya menggandeng lebih dari 60 seniman dan kelompok dari berbagai daerah di Indonesia, Asia Selatan, dan Eropa Timur.

Para kurator Adelina Luft (Rumania), Eka Putra Nggalu (Indonesia), Sheelasha Rajbhandari & Hit Man Gurung (Nepal) menyejajarkan beragam realitas yang terserak dari berbagai situasi dan lokalitas, membawanya dalam sebuah perayaan bersama.

Sementara beberapa seniman lainnya menghadirkan karya dengan kontribusi warga sebagai sebuah wadah yang partisipatoris, di antaranya Arum Dayu, Unhistoried dan Monica Hapsari, yang produksi karyanya akan turut meramaikan seremoni pembukaan Biennale Jogja 17.

Pihaknya menggunakan ruang dan infrastruktur publik untuk menjadi jembatan kolaborasi antara seniman, aktivis, pamerintah, akademisi, dan kalangan lainnya.

“Pameran ini akan melampuai ruang galeri dan akan menggarisbawahi dialog antara seniman, karya seni, dan masyarakat,” pungkasnya. (lan)