AMUK 1812: Kegiatan Multi Event Kolaborasi Antara Seniman dan Warga

Poster promo event AMUK 1812. (Foto: Istimewa)

bernasnews — Amanat Mulia Usaha Kampung (AMUK) merupakan kegiatan yang digagas dengan semangat budaya Jawa kritis. Kegiatan yang diinisiasi oleh seniman dan warga sebagai penggerak utama. Sebagai seniman dan warga Yogyakarta yang hidup di daerah yang menggunakan kebudayaan sebagai identitas politiknya, akan dihadapkan dengan situasi homogen dan penyeragaman.

Menjadikan kampung dan warga sebagai entitas budaya penting akan merekatkan, menumbuhkan identitas budaya, dan memperkecil gesekan sosial. Pada konteks ini seni dengan seluruh aspeknya adalah bahasa yang dapat dipakai untuk menempatkan gagasan, ekspresi dan frustasi yang selama ini tak punya wadah.

Kegiatan AMUK melakukan inovasi dengan mencoba memahami sejarah lewat serangkaian media seni; tari, lokakarya, pawai, teater, seni rupa. Media itu dipakai untuk mempermudah, memperjelas konteks sejarah yang rumit dan berlapis-lapis. Inovasi juga diterapkan dalam penggunaan teknologi.

Sehingga kegiatan ini hadir lebih kontemporer dan multimedia. Dengan menggunakan beragam media menjadi cara yang lebih cair, relevan, dan kritis untuk memahami sejarah tempat tinggalnya. Kegiatan ini akan dilaksanakan di sekitaran bekas kediaman tokoh Sumodiningrat (tahun 1812), tepatnya di kampung Ngadinegaran dan sekitarnya.

Kegiatan AMUK 1812, dengan tema ‘Dwi Nata Bebayaning Buwana’ ini akan digelar bertempat di Kampung Ngadinegaran dan Danunegaran, Kota Yogyakarta, tanggal 23 Juli -29 Juli 2023. Gelaran tersebut di antaranya, Teater Bedhahe Kraton Ngayogyakarto membahas tema penyerangan Inggris ke Keraton Yogyakarta pada tahun 1812; Koreografi Kebo Nglokro adalah tari yang menggunakan instalasi berbentuk kerbau; Pameran Visual ‘Lengah Sejarah’ pameran ini berupa mural dan video mapping; Pasar Tutur Tular, yang diadakan selama festival berlangsung.

Seperti diketahui, bahwa Sumodiningrat adalah Tumenggung pada masa Hamengkubuwana II yang menjadi korban dari serangan Raffles ke Yogyakarta pada tahun 1812. Rumahnya dihancurkan dan harta bendanya dijarah. Nama Sumodiningrat sendiri dihilangkan sebagai nama bangsawan di Kesultanan Yogyakarta, dan tidak boleh dipakai lagi sampai sekarang.

Dalam konteks sejarah, Sumodiningrat dipakai untuk menggambarkan situasi ‘terpinggirkan’ sehingga kegiatan ini, memori kolektif warga digunakan sebagai pengikat dan identitas kultural proyek seni kolaborasi seniman dan warga. (*/ ted)