Komunitas Langen Beksan Peringati HUT Ke 3 dengan Potong Tumpeng

Suasana latihan menari bersama oleh ibu-ibu Komunitas Langen Beksan, di Pendapa Grha Keris, Jalan Gamelan Kidul, Kelurahan Panembahan, Kemantren Kraton, Yogyakarta. (Tedy Kartyadi/ bernasnews)

bernasnews – Komunitas ibu-ibu penggemar seni tari budaya Jawa atau juga disebut Komunitas ‘Langen Beksan, menggelar peringatan HUT Ke-3 berdirinya komunitas tersebut, bertempat di Pendapa Grha Keris (Monumen Gamel), Jalan Gamelan Kidul, Yogyakarta, Selasa (4/10/2022).

Hadir dalam kegiatan itu, Lurah Panembahan RM. Murti Buntoro, SH, MIP, Ketua Kampung Gamelan Suharto, Penggerak Tari dan Budaya Estu, serta puluhan ibu-ibu anggota Komunitas Langen Beksan dari wilayah Kelurahan Panembahan maupun dari luar.

Ketua Komunitas Langen Beksan Adjeng Mithayani dalam sambutannya memberikan apresiasi kepada seluruh anggota dan tamu yang hadir juga menyampaikan terima kasih kepada pengampu wilayah setempat, yang telah memberikan tempat untuk giat berlatih tari.

“Dari berdirinya komunitas Langen Beksan tiga tahun lalu, tepat pada tanggal 4 Oktober 2019, kita langsung memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) yang ke-3. Pasalnya dua tahun lalu ada Covid-19 dan adanya kebijakan pemerintah yang membatasi kegiatan kita semua,” kata Adjeng.

Lebih lanjut Adjeng menjelaskan, bahwa jumlah anggota komunitas jika aktif semua lebih kurang 80 orang, menurutnya ada kenaikan jumlah secara signifikan meskipun kegiatan selama pandemi berkurang. “Sangat membanggakan, artinya animo ibu-ibu yang ingin berlatih dan belajar tari bersama-sama ada peningkatan,” ujarnya.

Lurah Panembahan RM Murti Buntoro, SH, MIP menyerahkan potongan tumpeng kepada Ketua Komunitas Langen Beksan Adjeng Mithayani sebagai simbolisasi rasa syukur dan dukungan terhadap pelestarian budaya Jawa, khususnya tarian atau joged klasik maupun kreasi baru. (Tedy Kartyadi/ bernasnews)

Sementara dalam sambutannya, Lurah Panembahan RM Murti Buntoro selain memberikan apresiasi dan ucapan selamat HUT Ke-3 Komunitas Langen Beksan, ia mengingatkan agar kita semua ikut handerbeni dan nguri-nguri kebudayaan Jawa. “Terlebih wilayah Panembahan ini dekat dengan Kraton sehingga potensi-potensi budaya yang ada perlu kita gali bersama,” kanjut dia.

RM Murti Buntoro juga berharap, agar dari tarian klasik yang ada dapat sebagai dasar untuk pengembangan tari kreasi baru, sehingga hasilnya bisa kita tampilkan ke luar negeri. Selain itu, juga adanya kegiatan kajian-kajian terkait budaya. “Saya telah matur pada Gubernur sewaktu meresmikan tempat ini sebagai Grha Keris agar warga juga masih dapat mempergunakan fasiltas pendapa untuk giat budaya,” ujar kerabat kraton yang terlahir di Komunitas Tari, di nDalem Kanoman ini.

Dalam kesempatan itu, Ketua Kampung Gamelan Suharto menjelaskan, bahwa kesulitan menari tarian klasih gagrak Mataram Yogyakarta itu karena dibuat sendiri, asalkan kita mau berlatih sesuai ketentuan maka akan menjadi mudah.

“Berlatih menari klasik itu ada pathokan-pathokan yang nggak boleh diterjang. Ibu-ibu telah berlatih gerak tangan wujud ngruji, ngithing, cepurit dan ngepel. Gerakan tangan yang benar itu mungkin bisa disampaikan pada putra putri sehingga akan tergerak untuk berlatih menari,” beber Suharto, yang juga Penggiat Seni Tari.

Dikatakan, menari atau joget itu tidak usah memikirkan tarian untuk anak-anak atau untuk orang dewasa. Dari tarian yang sederhana akan berkembang, dari yang sederhana itu diharapkan membuat generasi muda menjadi tertarik untuk bergabung.

“Prinsip tarian klasik Jawa itu greget, sengguh lan ora mingkuh, jika sampai pada tataran wiraga, wirasa, wirama maka menarikan tarian klasik gagrak Jogja akan semakin mudah. Yang kedua, dengan menari ibarat olahraga badan menjadi sehat dan postur tubuh akan tetap tegak,” tandas Suharto.

Komunitas Langen Beksan ini berlatih tari bersama seminggu dua kali, setiap hari Selasa dan Jumat, Pukul 16:00 WIB. Tarian klasik dan kreasi baru diantaranya, tari golek ayun-ayun, tari golek tinembe, dan tari beksan nirboyo. Sedangkan sebagai selingan agar peserta tidak bosan juga dilatih tarian kreasi baru. (ted)