BERNASNEWS.COM
—
Tiga komunitas di Museum Dewantara Kirti Griya, Paguyuban Putra Wayah Pamong
Tamansiswa, Sahabat Museum Dewantara Kirti Griya dan Cakra Dewantara
menyelenggarakan kegiatan “Jagongan Merdeka”, mengupas Gagasan & Praktek
Ajaran Ki Hadjar Dewantara, bertemakan Jalan Meluhurkan Kebudayaan Bangsa.

Kegiatan Jagongan Merdeka terbagi dalam tiga sesi, Sesi 1, Tanggal 26 April 2020, Mozaik Empiris Ajaran Ki Hadjar Dewantara, menampilkan para cucu biologi dan cucu ideologis Ki Hadjar Dewantara dengan berbagi pengalaman atas masa-masa pendidikannya dan implementasi dalam kehidupan mereka setelahnya.
Sesi 2, Tanggal 29 April 2020, Titik
Temu Pengalaman Empiris dengan Ajaran Ki Hadjar Dewantara, menghadirkan para
peneliti, pinisepuh, praktisi teori dan ajaran Ki Hadjar Dewantara untuk
membahasa pengalaman empiris di Sesi-1 dipertemukan dengan Teori Gagasan dan
Praktek yang dilakukan oleh Ki Hadjar Dewantara.

“Sementara, Sesi 3 mengupas tentang Ajaran Ki Hadjar Dewantara Menjawab Tantangan Jaman. Sebagai puncak acara hari ini yang bertujuan mencoba mencari titik temu implementasi ajaran Ki Hadjar Dewantara yang paling mungkin dilakukan segera,” papar Dicky selaku Panitia Jagongan Merdeka dalam rilis yang dikirim ke Bernasnews.com, Sabtu (2/5/2020).
Lanjut Dicky, acara yang digelar untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional 2020
sekaligus 131 tahun lahirnya Ki Hadjar
Dewantara, serta dalam rangka HUT ke 50 (Ulang Tahun Emas) Museum Dewantara
Kirti Griya, menghadirkan secara online
para pemangku kebijakan di Kemendikbud, Pemda DIY, Pemkot Yogyakarta,
Budayawan, dan praktisi pendidikan.

Sebagaimana diketahui, bahwa di masa hidupnya Ki Hadjar Dewantara sekeluarga melakukan pendidikan kepada putra-putri dan cucu-cucunya dengan mengolah pengalaman langsung mereka berinteraksi dengan alam, kehidupan sosial dan lingkungannya.
“Bagaimana Ibu Widyawati cucu Ki Hadjar Dewantara diajari berhitung melalui jalan-jalan di taman menghitung kelopak bunga yang gugur. Dan bagaimana Ibu Ganawati, cucu yang lain diberikan waktu luang memasak di dapur dan hasil masakannya dijual dengan memakai uang kreweng (pecahan genting) atau daun kering,” ungkap Dicky.
Kemudian, Mas Noorhuda Ismail, praktisi deradikalisme yang pernah mengenyam pendidikan di Taman Indria (TK) Tamansiswa meyakini, bahwa permaian dalam kesenian di masa kecilnya menjadikan dirinya mampu memahami perbedaan, sehingga bisa merasakan kebhinnekatunggalika-an bangsa. Ki Priyo Dwiarso menceritakan pengalamannya diajari langsung oleh Ki Hadjar Dewantara membuat peta pulau nusantara di pasir.
“Hal ini menjadi pelajaran yang lekat di
ingatan dan tak dilupakannya,” ujar Dicky.

Ibu Adinindyah seorang wirausaha pilihan BNI-Femina terdorong untuk menjadi penggerak pelestari tenun alami nusantara sekaligus memberdayakan perempuan, karena meyakini bahwa kebermanfaatan diri jauh lebih penting dari sebuah harga materi. “Itu semua terangkum dalam mozaik empiris yang kemudian dipertemukan oleh teori gagasan serta parktek Ki Hadjar Dewantara dalam sebuah muara besar TRI-KON (Konsentris – Konvergen – Kontinyu),” terang Dicky.
Menurut Dicky, TRI-KON ini dimunculkan lagi oleh Pak Hilmar Farid, Dirjen Kebudayaan Kemdikbud RI, yang menegaskan, bahwa semua sumber daya di Kemdikbud sedang digerakkan ke arah sana. Dalam implementasinya Sariswara sebagai sebuah laboratorium dan metode belajar digerakkan untuk menyebar ke seluruh Nusantara sebagai bagian meyakini lagi potensi lokal daerah untuk menanamkan lagi rasa percaya diri sebagai bangsa besar.
“Paduan teori dan praktek yang dilakukan Dr. Sumbo Tinarbuko, pakar budaya visual, dengan “Kelas Tanpa Dinding”nya menjadi sebuat inovasi dalam menempatkan guru sebagai mentor sekaligus sahabat bagi muridnya,” kata Dicky.

Sementara di era pendemi Covid-19 ini, “budaya-layar” jelas secara masif menjadi tantangan tersendiri bagi pendidikan sekaligus pembentukan watak/karakter anak sekaligus orangtua. Namun tak kalah pentingnya, Prof Nizam, Plt Dirjen Dikti, menegaskan bahwa pentingnya link-match utama yaitu antara Guru dan Murid, antara Orang Tua dan Anak, sehingga terjadi kesesuaikan dan kejujuran dalam transfer ilmu.
Heroe Poerwadi selaku Wakil Walikota Yogyakarta menekankan pada Dinas Pendidikan Kota agar guru di era pendemi ini tidak terpaku dalam pemberian tugas pelajaran kepada siswa dengan materi di sekolah, namun modifikasi dengan tugas yang mampu digali anak sendiri di rumah.
Senada dengan Wakil Walikota, Dra Umar Priyono, Asekda Bid. Pemberdayaan SDM pun mengiyakan ketika tembang dolanan anak menjadikan 1-2 kampung sebagai pilot project untuk menindaklanjuti pidato Sri Sultan HB X saat dianugerahi gelar DRHC oleh UNY.
“Pak Aris Nugroho, Kadisbud DIY, pun berujar bahwasanya pemangku kebijakan tidak bisa berjalan sendiri, harus berkolaborasi dengan mitra yang baik. Hal inipun disepakati oleh Dr Sumbo, saat ini adalah era kolaborasi. Kolaborasi untuk merebut kembali “ruang-belajar” sesua ajaran Ki Hadjar Dewantara,” tutup Dicky. (ted)











