Bedhaya Kakung Tarian Sakral Kraton Yogyakarta yang Jarang Dipentaskan

BERNASNEWS.COM — Memperingati Hari Tari Dunia pada tanggal 29 April, meski dalam kondisi keprihatinan pandemik COVID-19 (Corona) namun ada beberapa komunitas penari atau hobi menari yang memperingati dengan cara kekinian. Yakni, menari di rumah dengan direkam kemudian ditayangkan secara online.

Seperti dilakukan oleh Endang Setyorini Rahayu, bersama kelompoknya Paguyuban Langen Beksa menarikan Tarian Nawung Sekar bersama-sama untuk memperingati Hari Tari Dunia. “ Kami menari Tarian Nawung Sekar di rumah masing-masing dan direkam dalam bentuk video, lantas kemudian ditayangkan online melalui kanal Youtube,” terang Yayuk, panggilan akrab Endang Setyorini Rahayu, Jumat (1/5/2020).

Membahas soal tari-tarian semestinya kita harus berbangga karena negara Indonesia dengan kebudayaan Nusantara sangat kaya dengan ribuan aneka jenis tarian tradisional, belum lagi ditambah dengan tari-tarian kreasi baru atau bentuk tarian moderen. Ambil saja satu contoh tarian dari Budaya Jawa tarian gagrak (ragam) Mataraman Yogyakarta dan Surakarta pun bisa jadi berjumlah ratusan.

Salah satunya jenis tarian yang dibahas kali oleh Bernasnews.com dalam rangka untuk memperingati Hari Tari Dunia, adalah tarian sakral Kraton Yogyakarta yang diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwana V (1823 – 1855). Beksan Bedhaya Kakung atau disebut juga Bedhaya Jaler.

Pelaku Tari dan Seniman Tari, W. Ragamulya (Foto: Repro Dok. Pribadi)

Pelaku Tari dan Seniman Tari, W. Ragamulya menjelaskan, bahwa Bedhaya Kakung para penarinya adalah para abdi raja yang melayani segala keperluan raja ketika berada di luar kraton, termasuk untuk kegiatan yang bersifat protokoler. Sementara Bedhaya Putri untuk di dalam kraton.

“Namun para penari tersebut juga bertugas membawakan atau mementaskan wayang wong (wayang orang) dan wireng berupa tari berkelompok/kesatuan. Dan tari putri antara lain Bedhaya dan Serimpi,” terang W. Ragamulya.

Wayang wong dan wireng dibawakan oleh putra, baik peran putra maupun peran putri, sedangkan Bedhaya dan Srimpi bisa dibawakan oleh putri maupun putra. “Sehingga banyak kita kenal dengan sebutan Bedhaya Kakung, yang sebenarnya tari bedhaya dengan ragam tari putri yang dibawakan oleh putra . Sebab ada juga di Mangkunegaran, bedhaya kakung merupakan tari bedhaya dengan ragam tari putra alus dan dibawakan oleh penari putra,” ungkapnya.

Menurut W. Ragamulya ada dua alasan mendasar kenapa ragam tari putri bisa ditarikan oleh penari pria, Pertama, ketika putri menstruasi dianggap mengotori kesucian tari Bedhaya dan Srimpi sehingaga tidak diperbolehkan tampil atau mengikutinya. Begitu seringnya hal itu terjadi dan membuat repot, maka digantilah putra yang sudah terbiasa menari apa saja dalam wayang wong apalagi hanya peran putri, tentu mudah dilaksanakan.

Kedua, penari putri untuk Bedhaya dan Srimpi banyak berkurang karena  cepat berkeluarga atau dipinang oleh para tamu penonton yang kasmaran. Sering terjadinya hal itu juga merepotkan, maka lalu digantikanlah putra.

“Kalau pengalaman saya sebatas mementaskan tari Bedhaya Sinom yasan (karya) Sinuwun HB V yang sudah sering dipentaskan oleh putri, saya pentaskan bersama teman-teman penari putra. Sementara pelaku yang lain antara lain Mas Bintoro (Bedhaya Sudira Gambuh), Mas Mamuk (Bedhaya Kuwung-kuwung HB VII), Mas Didik Nini Thowok (Bedhaya Hagoromo), dan Mas Kristiadi (Bedhaya Preg),” tutup W. Ragamulya. (ted)