Thursday, August 18, 2022
spot_img
spot_img
HomeWorld Fair Trade Day 2022 Diharapkan Beri Solusi Masalah Perubahan Iklim

World Fair Trade Day 2022 Diharapkan Beri Solusi Masalah Perubahan Iklim

bernasnews.com – Tanggal 14 Mei 2022 ini diperingati sebagai World Fair Trade Day. Tahun ini, World Fair Trade Organization (WFTO) mengangkat tema tentang Climate Justice Now! Let’s  Do Fair.

Sekretaris Jenderal Forum Fair Trade Indonesia (FFTI), Netty Febriana bahwa perubahan iklim telah mempengaruhi sektor ekonomi dan perdagangan baik secara langsung dan tidak. Bahkan dampak perubahan iklim itu terjadi hampir di semua sektor yang terkait dengan ekonomi dan perdagangan.

“Kerusakan hutan, emisi karbon, cuaca yang tidak lagi menentu, memberi dampak pada tingkat produktifitas petani, nelayan, pengrajin dan industri baik industri manufaktur maupun lainnya. Strategi mengurangi dampak perubahan iklim harus menjadi perhatian serius,” ungkapnya dalam pembukaan Webinar Climate Justice Now.

Dalam hal ini, tema yang diangkat dalam World Fair Trade Day kali ini menurut dia adalah hal yang sangat tepat untuk diangkat. Lebih lanjut, Netty menyebut penanganan perubahan iklim bukan hanya bicara soal kebutuhan ekologis dan tentang banyak karbon saja tapi juga masalah keadilan sosial dan hidup bagi yang terkena dampak terburuk dan juga cuaca ekstrim.

“Tujuan climate justice adalah memberikan solusi yang adil dan inklusif dan bekrlanjutan pada orang-orang yang terkendala akibat krisis dan penyebab perubahan iklim. Solusi singkat dibutuhkan oleh karena itu fair trade, perusahaan, dan lintas sosial dan ekonomi bergabung untuk mencari solusi terbaik, ” ujar Netty.

Senada dengan Netty, Retno Hapsari selaku perwakilan FFTI berharap melalui webinar yang dilakukan bertepatan dengan puncak World Fair Trade Day 14 Mei 2022 ini mampu meningkatkan kesadaran masyarakat akan kondisi perubahan iklim yang perlu disikapi dengan serius kali ini.

“Tema peringatan kali ini climate justice kehadiran narasumber diharapkan dapat meningkatkan kesadaran terhadap perubahan iklim yang terjadi di sektor ekonomi dan perdagangan,” kata Retno.

“Strategi mengurangi dampak perubahan iklim harus dilakukan dengan melibatkan banyak masyarakat secara penuh. Bersama kita menyerukan dan menggiatkan gerakan sosial keadilan dan iklim,” pungkasnya.

Adapun dalam webinar ini turut mengundang sejunlah pembicara dan beberapa narasumber lain baik dari Fakultas Hukum Universitas GajahMada, WFTO Global, HIMKI, Yayasan Bina Swadaya, GRI, Fashion Revolution Indonesia dan Asia Rainforest Alliance.

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments