WKRI Lahir dari Keprihatinan dan Semangat Belarasa

    934
    0
    Ketua Presidium WKRI DPD DIY 2019-2024 Dra Lidya Gloria Djaja Ing Rana saat membedah buku WKRI: Sekali Layar Terkembang, Pantang Surut ke Belakang bersama (dari kiri) penulis buku Trias Kuncahyono dan pembedah buku YB Wiyanjono dan Dr Anton Haryono M.Hum di R III/4 Gedung Bonaventura Universitas Atmajaya Yogyakarta, Minggu (26/1/2020). Foto : Benediktus Edi Woda

    BERNASNEWS.COM – Organisasi Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) lahir dari keprihatinan dan semangat belarasa untuk meningkatkan kecerdasan dan pemberdayaan kaum perempuan berdasarkan nilai-nilai Kristiani. Hal inilah yang mendorong RA Soelastri untuk melahirkan organisai Katolik yang dapat menghadirkan Gereja secara nyata dalam kehidupan manusia ke tengah masyarakat.

    “Peran para rohaniwan dan rohaniwati, para pastor dan para suster serta perjumpaan dengan sekolah Mendut dan Van Lith Muntilan membuka mata dan hati Putri Puro Pakualaman Yogyakartan ini untuk melihat situasi dan kondisi perempuan pada zamannya yang terbelakang dan tertindas,” kata Trias Kuncahyono, Penulis Buku WKRI: Sekali Layar Terkembang, Pantang Surut ke Belakang, dalam acara bedah buku tersebut di R III/4 Gedung Bonaventura Universitas Atmajaya Yogyakarta, Minggu (26/1/2020).

    Acara bedah buku yang diadakan oleh Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta bekerja sama dengan Wanita Katolik Republik Indonesia itu dihadiri puluhan peserta yang terdiri dari anggota/pengurus WKRI, perwakilan organisasi Katolik DIY dan Mahasiswa UAJY.

    Anggota WKRI DPD DIY mendengarkan pemaparan Diskusi Buku WKRI: Sekali Layar Terkembang, Pantang Surut ke Belakang di R III/4 Gedung Bonaventura Universitas Atmajaya Yogyakarta, Minggu (26/1/2020). Foto : Benediktus Edi Woda

    Dalam acara yang berlangsung pukul 16.00-21.00 tersebut, selain menghadirkan sang penulis buku Trias Kuncahyono sebaga narasumber, buku tersebut dibedah oleh Ketua Presidium WKRI DPD DIY 2019-2024 Dra Lidya Gloria Djaja Ing Rana, Pakar Timja PK3 Kevikepan DIY YB Wiyanjono dan Dosen Universitas Sanata Dharma Dr Anton Haryono M.Hum.

    Menurut Trias Kuncahyono, organisasi Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) yang semula bernama Poesara Wanita Katholiek (PWK), lahir pada 26 Juni 1924. Organisasi ini dijiwai dan disemangati oleh Ensiklik Rerum Novarum yang dikeluarkan oleh Paus Leo XIII (1891).

    “Tiga Pastor Yesuit, yakni Romo van Lith SJ, Romo Martens SJ dan Romo van Driessche turut memberikan semangat, kekuatan dan bimbingan bagi lahirnya organisasi WKRI,” kata wartawan senior Harian Kompas ini.

    Sementara Ketua Presidium WKRI DPD DIY 2019-2024 Dra Lidya Gloria Djaja Ing Rana mengatakan buku WKRI: Sekali Layar Terkembang, Pantang Surut ke Belakang ini menjadi bahan pelajaran bagi anggota WKRI untuk melihat jatuh bangun sejarah perkembangan WKRI.

    Mantan Sekretaris WKRI DPC Sleman (2009-2016) ini mengatakan bahwa buku ini menjadi suluh bagi generasi sekarang dan generasi yang akan datang agar dapat melakukan sesuatu yang lebih besar dan lebih baik dari apa yang telah dilakukan generasi sebelumnya di masa lalu.

    Sedangkan YB Wiyanjono menilai buku ini sangat bagus dan menarik. Karena dengan membaca buku ini, orang Katolik pasti terinsipirasi dan tergugah. “Buku ini dapat membantu orang Kristiani untuk mewujudkan iman kekatolikan berdasarkan pemahaman Ajaran Sosial Gereja,” kata Anggota Dewan Paroki HKYT Pugeran ini.

    Ia mengatakan bahwa peziarahan WKRI belum selesai. Dan melalui buku ini anggota WKRI dapat memaknai rasa syukur, yakni tidak hanya berbagi kebahagiaan tetapi juga bagaimana menyapa, memperhatikan dan membantu memperjuangkan orang yang tertindas seperti RA Soelastri yang membantu orang-orang yang menderita.

    Meskipun penulis buku mengatakan bahwa buku yang dibahas ini bukan merupakan buku sejarah, namun Dr Anton Haryono M.Hum menilai bahwa buku ini adalah buku sejarah. “Saya melihat buku ini sangat sejarah,” kata Dosen Sejarah Univeritas Sanata Dharma ini.

    Sebab, menurut Anton Haryono, dalam buku ini terdapat dua versi sejarah. Pertama, sejarah model baru yang sangat struktural di bagian awal dan yang kedua, pada halaman 50 hingga ke belakang sangat prosedural. Ia menambahkan bahwa PWK merupakan gambaran Gereja Misi dan WKRI adalah perwujudan dari Gereja yang mandiri.

    Acara bedah buku ini dibuka oleh Dr Lukas S Ispandriarno, Ketua Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya yang sekaligus sebagai moderator diskusi buku ini. (Benediktus Edi Woda, Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here