Home Pendidikan Wisuda UWM Periode 56 dan 57: Wisuda Bukan Purna Tugas untuk Berhenti...

Wisuda UWM Periode 56 dan 57: Wisuda Bukan Purna Tugas untuk Berhenti Belajar

324
0
Prof Dr. Edy Suandi Hamid, MEc Rektor Universitas Widya Mataram (UWM) secara simbolis memindahkan kucir pada seorang wakil wisudawan wisudawati dalam acara Wisuda Sarjana Periode 56 dan 57, Senin (12/10/2020), di Pendopo Agung UWM, Yogyakarta. (Foto: Humas UWM)

BERNASNEWS.COM — Wisuda bukanlah purna tugas dari kita semua untuk berhenti belajar, namun sebaliknya, ilmu yang sudah didapatkan di kampus akan dilanjutkan untuk digunakan membantu masyarakat dalam menyelesaikan permasalahan dan tantangan yang semakin kompleks.

Hal itu disampaikan Prof Dr. Edy Suandi Hamid, MEc Rektor Universitas Widya Mataram (UWM) pada Rapat Senat Terbuka dalam Rangkan Wisuda Sarjana Periode 56 dan 57, Senin (12/10/2020), di Pendopo Agung UWM, Yogyakarta.

Prof Dr. Edy Suandi Hamid, MEc Rektor Universitas Widya Mataram (UWM) menyampaikan sambautannya pada Rapat Senat Terbuka dalam Rangkan Wisuda Sarjana Periode 56 dan 57, Senin (12/10/2020), di Pendopo Agung UWM, Yogyakarta. (Foto: Humas UWM)

Wisuda Sarjana Periode 56 dan 57 yang digelar secara luring dan daring tersebut diikuti oleh 426  wisudawan wisudawati. Acara juga dihadiri Wakil Ketua Umum Yayasan Mataram Yogyakarta. Wisuda digelar selama tiga hari dengan total 8 sesi dengan menerapkan protokol kesehatan.

“Kedepan, di era Revolusi Industri 4.0 dan seterusnya tantangan jaman semakin kompleks dengan tingkat persaingan yang semakin ketat disemua lini kehidupan memaksa setiap insan untuk terus belajar membaca keadaan,” ungkap Prof Edy.

Dikatakan, wisuda berasa sangat istimewa karena dilaksanakan baik secara online maupun offline yang mana dilaksanakan pada saat pandemi Covid-19, meskipun demikian wisuda tetap dilakukan tanpa kehilangan nilai sakral. “Dengan adanya pandemi Covid-19 tetap diyakini bahwa ini merupakan sebuah ujian dan ada hikmahnya yang akan kita dapatkan,” tegas Rektor UWM itu.

Suasana Rapat Senat Terbuka dalam Rangkan Wisuda Sarjana Periode 56 dan 57, Senin (12/10/2020), di Pendopo Agung UWM, Yogyakarta. (Foto: Humas UWM)

Pandemi Covid-19 memberikan perubahan banyak hal dari kehidupan di Indonesia bahkan di Dunia. Dalam perkuliahanpun dipaksa untuk menerima sebuah kondisi “normal baru” yang belum pernah kita bayangkan sebelumnya. “Meskipun pada prosesi wisuda hari ini kita lakukan baik secara luring dan daring, semoga tidak mengurangi niat tulus kita untuk memberikan penghargaan dan ungkapan kegembiraan atas pencapaian keilmuan para wisudawan,” kata Ketua Forum Rektor Indonesia periode 2008-2009 itu.

Paradigma pendidikan tinggi harus disesuaikan dengan perkembangan jaman. Peningkatan kesadaran teknologi digital merupakan suatu keniscayaan dalam menghadapi disruption era. Dan hal terpenting adalah membentuk mahasiswa, generasi milenial yang berkarakter, sehingga mampu memanfaatkan peluang dan mengakses pekerjaan-pekerjaan baru yang tidak dikenal sebelumnya. Ini menjadi tantangan bagi seluruh sivitas akademika UWM.

Prof Edy yang juga sebagai anggota Parampara Praja Pemda DIY tersebut menandaskan, dengan bekal pengalaman-keilmuan yang telah diperoleh, para wisudawan tidak boleh ragu menerobos ketatnya kompetisi. Selanjutnya tetap terus melahirkan kreativitas dan inovasi yang berguna bagi masyarakat, negara, dan bangsa. Prestasi dan capaian hingga hari ini pantas dibanggakan. Namun begitu, ini semua bukanlah hasil kerja keras para lulusan saja. Ada sentuhan, bantuan, arahan, pertolongan, dan doa dari banyak orang-orang tercinta, orang tua dan keluarga.

“Jadilah manusia yang berkarakter, inklusif, inovatif, berdaya saing, serta adaptif dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Jadilah manusia yang berguna bagi masyarakat, bangsa, dan negara. Jadilah insan yang berguna bagi manusia dan kemanusiaan. Jagalah nama baik almamater Anda,” tutup Ketua Umum Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) 2011-2015 itu.

Para wisudawan sedang menyampaikan sumpah prasetia sebagai bagian dari almamater Universitas Widya Mataram (UWM), Yogyakarta. (Foto: Humas UWM)

Sementara, Wakil Ketua Umum Yayasan Mataram Yogyakarta Prof Dr. Ir. Sunyoto, Dipl. HE. DEA menuturkan, UWM sebagai tempat mengembangkan prestasi dan menyelesaikan studi memiliki kekhasan budaya sebagai modal para lulusan. Menjadi alumni UWM harus mampu mengimplementasikan beberapa ajaran seperti golong gilig, sawiji, greget, sengguh ora mingkuh dalam segala lini kehidupan.

“Tata nilai budaya Yogyakarta juga harus dijadikan landasan para lulusan UWM dalam setiap aktivitas pekerjaan dan dalam kehidupan bermasyarakat,” ucap Prof Sunyoto. Beberapa diantara tata nilai budaya Yogyakarta tersebut antara lain kesucian, keadilan, kemuliaan, kebenaran, keindahan, kepatuhan, kelayakan, dan kebermanfaatan. Tata nilai tersebut linier dengan karakter kampus berbasis budaya dalam mencetak lulusan yang tangguh.

“Kepemimpinan dan pemerintahan juga menjadi bagian dari budaya Yogyakarta. Di dalamnya mengatur bagaimana tata hubungan manusia, salah satunya adalah antara pemimpin dan masyarakat yang dipimpin,” imbuh Prof Sunyoto. (nun/ ted)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here