Home News Wisuda Sarjana ke-59 UWM, Rektor: Harus Siap Menambah Soft Skills

Wisuda Sarjana ke-59 UWM, Rektor: Harus Siap Menambah Soft Skills

139
0
Rektor Universitas Widya Mataram Yogyakarta Prof Dr. Edy Suandi Hamid, MEc secara simbolis memindahkan kucir toga seorang wisudawati dalam Acara Wisuda Sarjana KKe-59 UWM, Sabtu (16/10/2021). Foto: Nuning Harginingsih/ Bernasnews.com.

BERNASNEWS.COM — Universitas Widya Mataram (UWM) Yogykarta menyelenggarakan Acara Wisuda Sarjana Ke-59, Sabtu (16/10/2021), di Pendapa Agung Kampus UWM, Yogyakarta. Kegiatan tersebut dilakukan secara tatap muka dan zoom meeting.

Diikuti oleh 93 wisudawan/wisudawati yang terdiri dari 23 orang dari Prodi Manajemen, 5 orang dari Prodi Akuntansi, 19 orang dari Prodi Ilmu Hukum, 15 orang dari Prodi Ilmu Administrasi Publik, 6 orang dari Prodi Sosiologi, 8 orang dari Prodi Arsitektur, 10 orang dari Prodi Teknik Industri, dan 7 orang dari Prodi Teknologi Pangan. Sehingga jumlah alumni sampai hari ini adalah 9.151 orang.

Rektor UWM Prof Dr. Edy Suandi Hamid, MEc saat menyampaikan sambutan secara virtual dalam acara wisuda sarjana ke-59 UWM, Sabtu (16/10/2021). Foto: Tangkapan Layar.

Dalam sambutannya, Rektor UWM Prof Dr. Edy Suandi Hamid, MEc mengatakan, prosesi wisuda sarjana ini menandai lahirnya intelektual atau cendekiawan baru dari Universitas Widya Mataram, yang diharapkan dapat berkontribusi dalam membangun bangsa ini dengan mengimplementasikan ilmunya untuk membantu masyarakat dalam menyelesaikan permasalahan dan tantangan yang semakin kompleks.

“Hampir semua sektor kehidupan kita  berbasis teknologi, baik aktivitas pendidikan, ekonomi maupun pemerintahan sebagai upaya mengurangi kontak fisik untuk pencegahan penyebaran Covid-19,” kata Prof Edy.

Dikatakan, berbagai aktivitas akademik yang telah dilalui di UWM, telah membentuk wisudawan menjadi lulusan yang seharusnya memiliki kompetensi, skill dan keahlian sesuai bidang ilmu yang digeluti.

“Secara personal, diharapkan para wisudawa tetap memperkuat skill yang dibutuhkan di era Revolusi Industri 4.0 saat ini, sehingga tetap mampu bersaing di dunia kerja yang semakin kompetitif,” pesan Rektor UWM.

Suasana acara wisuda sarjana UWM secara tatap muka dilakukan dengan prokes ketat, Sabtu (16/10/2021), di Pendapa Agung Kampus UWM Yogyakarta. (Nuning Harginingsih/ Bernasnews.com)

Dalam situasi seperti ini, lanjut Prof Edy, tentu harus meningkatkan daya juang, kemampuan literasi dan kreativitas serta kemauan mengasah ketajaman berpikir, membangun komunikasi dan selalu update informasi.

“Wisudawan memasuki era baru, yang menuntut kemampuan adaptasi, jangan menjadi seseorang yang mudah menyerah (quiter) dan mudah puas (camper), tetapi jadilah seseorang yang terus berusaha sampai titik puncak (climber),” ungkapnya.

“Sebagai lulusan di era perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang begitu pesat ini, para wisudawan wajib memiliki kemampuan adaptif dan fleksibilitas,” imbuh Prof Edy.

Kemampuan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi menjadi ciri dunia kerja di era digital. “Keterampilan yang diperlukan adalah Communication, Collaboration, Creativity, Critical Thinking sehingga mampu untuk berkompetisi dalam persaingan global yang terus berjalan sekarang ini,” terang Ahli Ekonom itu.

Menurut Prof Edy, sarjana baru harus selalu mengikuti dan mencoba menguasai perkembangan teknologi informasi yang dinamis. “Teknologi yang dikuasai saat lulus, akan terus berkembang dengan pasat, dan itu harus diikuti sesuai kebutuhan masing-masing,” ujarnya.

Wisudawati UWM lulusan terbaik berkesempatan memberikan sambutan dalam Acara Wisuda Sarjana Ke-59 UWM, Sabtu (16/10/2021). Foto: Tangkapan Layar.

Selain itu, Rektor UWM juga mengingatkan pada seluruh wisudawan/ wisudawati, bahwa pengetahuan dan teknologi yang dikuasai bisa usang dan pekerjaan digantikan artificial intelligence. Dengan perkiraan itu, bisa dibayangkan bagi yang tidak gampang beradaptasi karena kurangnya penguasaan teknologi pasti akan terancam, dan potensial menjadi pengangguran. Sehingga harus siap menambah soft skills.

Jumlah pengangguran di Indonesia meningkat 26,26 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yang sebesar 6,93 juta orang. Hampir satu juta dari para penganggur tersebut lulusan perguruan tinggi.

“Menganggur itu sangat tidak nyaman, dan bahkan bisa menjadi bahan olok-olok, bukan saja saat ketemu, mungkin juga sindiran sampai di media sosial (medsos),” tegas Prof Edy. (nun/ ted)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here