Home News Wisata Alam Curug Sindaro Kebumen, Ibarat Gadis Cantik Masih Perlu Bersolek

Wisata Alam Curug Sindaro Kebumen, Ibarat Gadis Cantik Masih Perlu Bersolek

273
0
Curug Sindaro, di Dusun Sindaro, Desa Wadasmalang, Kecamatan Karangsambung, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. (Nuning Harginingsih/ Bernasnews.com)

BERNASNEWS.COM — Seperti telah diketahui Kabupaten Kebumen salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang cukup kaya dengan potensi wisata alam. Pantai, gua, pegunungan dan geopark semua itu ada di Kebumen. Ada satu lagi destinasi wisata alam bernama Curug Sindaro.

Wisata alami yang cantik berupa air terjun dengan ketinggian lebih kurang 17 meter yang terbagi dalam 4 sap atau berundak, sebagai hulu yang mengaliri sungai Kedung Somad di bawahnya. Lokasi obyek wisata yang masih relatif baru ini, berjarak 25 kilometer dari Kota Kebumen.

Tepatnya di Dusun Sindaro, Desa Wadasmalang, Kecamatan Karangsambung, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Akses jalan menuju Curug Sindaro merupakan bagian dari tanah pertanian milik warga setempat. Jalan yang menuju ke destinasi adalah jalan lingkar utara, jalan alternatif menuju ke Kabupaten Wonosobo.

Lanskap Curug Sindaro dengan hiasan air terjun yang menawan. (Nuning Harginingsih/ Bernasnews.com)

Sebagai destinasi wisata kekinian, Curug Sindaro diresmikan oleh Bupati Kebumen pada bulan Maret 2019, dengan biaya masuk tiket seharga Rp 5.000 per orang. Hanya sayang obyek wisata alam ini belum mendapat sentuhan yang serius dari pemerintah desa setempat maupun kabupaten dalam hal ini Dinas Pariwisata.

“Untuk pengelolaan obwis Curug Sindaro hanya mengandalkan dari BUMDes yang alokasi anggarannya pun belum cukup untuk membangun perlengkapan fasilitas umum sebagai obyek wisata. Air sungai masih kotor karena tercampur lumpur dari atas bukit yang merupakan otoritas Perhutani,” terang Margono, tokoh masyarakat setempat juga sebagai pengelola, Minggu (7/2/2021).

Salah satu akses jalan menuju Curug Sindaro yang dibangun oleh Pemkab Kebumen tahun 2019. (Nuning Harginingsih/ Bernasnews.com)

Menurut Margono, air yang mengalir dari atas perbukitan ke curug kotor bercampur lumpur yang disebabkan jenis tanamannya tidak mengikat tanah. Upaya mengajak kolaborasi bersama Perhutani juga sudah dilakukan namun terkendala perijinan.

“Kami telah berupaya mengajak kerjasama dengan pihak Perhutani agar bisa mengelola bersama Curug Sindaro bersama sebagai destinasi pariwisata namun terkendala beralasan belum ada ijin. Sedangkan Dinas Pariwisata hingga kini juga belum memberikan pembinaan atau pun  perhatian khusus,” ujar Margono.

Sementara itu, Anggota DPRD Kabupaten Kebumen Miftahul ‘Ulum yang berkesempatan berkunjung ke Curug Sindaro kepada Bernasnews.com mengatakan, bahwa di saat pandemi Covid-19 yang tidak menentu ini, kedepan pariwisata bisa menjadi alternatif dalam pemberdayaan masyarakat.

“Ada dua sisi manfaat yang diperoleh, pertama pemerintah desa mendapat pemasukan. Kedua, warga setempat berkesempatan turut berpartisipasi dalam pengelolaan yang berate mendapat penghasilan,” terang Anggota Dewan dari Fraksi PKB itu.

Anggota DPRD Kabupaten Kebumen Miftahul ‘Ulum yang berkesempatan berkunjung ke Curug Sindaro. (Nuning Harginingsih/ Bernasnews.com)

Miftahul ‘Ulum yang duduk dalam Komisi B DPRD Kabupaten Kebumen juga berharap agar destinasi wisata yang ada dan kebetulan area atau wilayahnya bersinggungan dengan asset milik Perhutani dapat dilakukan kerjasama yang baik.

Kekayaan wisata alam merupakan anugerah Tuhan yang harus kita kelola dan kita jaga bersama. Ia juga sedikit mengkritisi soal pembangunan jalan lingkar utara yang bersinggungan dengan kepentingan otoritas Perhutani Jawa Tengah.

“Semoga antara Pemerintah Kabupaten Kebumen dan Perhutani Jawa Tengah segera ada titik temu agar pembangunan yang telah direncanakan dapat berjalan baik. Toh semuanya untuk kepentingan negara serta masyarakat keseluruhan,” pungkas Miftahul ‘Ulum. (nun/ ted)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here