Home News Wartawati Senior Hj Arie Giyarto Menginspirasi Wartawan Muda

Wartawati Senior Hj Arie Giyarto Menginspirasi Wartawan Muda

607
0
Penulis buku Catatan Kecil Seorang Jurnalis Hj Arie Giyarto (kiri) bersama Pemred Koranbernas Putut Wiryawan (tengah) dan peresensi buku Romo Kirjito (kanan) pada acara peluncuran buku di Hotel D'Senopati Yogyakarta, Jumat (6/3/2020). Foto: Tedy Kartyadi/Bernasnews.com

BERNASNEWS.COM – Wartawati senior yang juga mantan wartawan Harian Bernas Yogyakarta Hj Arie Giyarto menginspirasi wartawan muda dan generasi muda pada umumnya atau siapa pun agar terus berkarya meski dalam usia yang sudah tua. Hal itu dilakukan dengan meluncurkan buku karyanya sendiri dengan judul Catatan Kecil Seorang Jurnalis di Hotel D’Senopati Yogyakarta, Jumat (6/3/2020), bertepatan dengan hari ulang tahunnya yang ke-72.

Acara peluncuran buku berisi kumpulan tulisan atau karya jurnalistiknya khusus tahun 2017 hingga 2019 tersebut dihadiri sejumlah tokoh, antara lain mantan Bupati Sleman Drs Ibnu Subiyanto, anggota Paguyuban Wartawan Sepuh (PWS) Yogyakarta antara lain P Krisnam, Prof dr Ircham Mahfudz, Soeparno S Adi, Briyanto dan sejumlah mantan wartawan Harian Bernas seperti Bambang Sigap Sumantri, YB Margantoro, Agus Widartono, Sutirman Eka Ardhana, Putut Wiryawan, Suroso, Kris Wahyuni, Philipus Jehamun dan Tedy Kartyadi.

Hj Arie Giyarto (kiri) menyerahkan buku karyanya berjudul Catatan Kecil Seorang Jurnalis kepada cucunya disaksikan dua putri dan seorang menantunya pada peluncuran buku tersebut di D’Senopati Jalan P Senopati Yogyakarta, Jumat (6/3/2020). Penyerahan buku kepada sang cucu menandai peluncuran buku tersebut. Foto : Tedy Kartyadi/Bernasnews.com

Romo Kirjito yang tampil sebagai peresensi buku tersebut menilai sosok Hj Arie Giyarto sebagai seorang yang mampu memberi energi positif bagi siapa pun yang bertemu, bergaul dan mengenalnya. Karena Hj Arie Giyarto selalu rendah hati dan mudah bergaul dengan siapa pun.

“Setiap bertemu dengan Bu Ari saya selalu merasa nyaman. Karena ia sangat rendah hati dan mudah bergaul. Dan buku karyanya yang dihasilkan dalam usia 72 tahun menunjukkan bahwa Bu Arie selalu punya semangat dan memberi energi positif bagi siapa pun untuk selalu berkarya meski dalam usia yang tidak muda lagi,” kata Romo Kirjito.

Wakil Rektor III UWM Puji Qomariyah S.Sos MSi juga menilai Hj Arie Giyarto menginspirasi wartawan muda maupun para dosen agar terus berkarya. Karena meski dalam usia yang sudah tidak muda lagi, Hj Arie Giyarto masih bisa menulis dan menerbitkan buku. “Ini menjadi catatan penting bagi wartawan muda maupun kami para dosen agar terus menulis,” kata Puji.

Hj Arie Giyarto (kiri) menyerahkan buku karyanya kepada Wakil Rektor III UWM Puji Qomariyah S.Sos MSi (kanan). Foto : Tedy Kartyadi/Bernasnews.com

Sementara Bambang Sigap Sumantri, mantan Redaktur Pelaksana Harian Bernas ketika Harian Bernas di bawah manajemn Harian Kompas, menilai Hj Arie Giyarto termasuk wartawan yang memiliki sense of detail. Tulisan-tulisannya sangat detail dan rinci sehingga memenuhi rasa ingin tahu para pembaca.

Sense of detail sangat penting bagi jurnalis dan itu yang dilakukan Bu Ari, tapi tak dilakukan oleh wartawan masa kini,” kata Bambang Sigap Sumantri.

Hal yang hampir sama diungkapkan mantan wartawan KR yang juga mantan Anggota DPRD DIY Krisnam. Dikatakan, tulisan-tulisan Hj Arie Giyarto selalu memenuhi unsur 5W1H (What, Who, Where, When, Why dan How) dan sangat kuat menerapkan kaidah jurnalistik. “Dan hal ini tidak dilakukan oleh wartawan masa kini,” kata Krisnam.

Suroso, mantan Redaktur Harian Bernas yang sejak awal 2003 bergabung di Grup Tribun hingga pensiun 1 Desember 2019, mengaku Mbak Ari-demikian ia biasa menyapa Hj Arie Giyarto, adalah seniornya saat ia bergabung di Harian Berita Nasional Yogyakarta awal tahun 1984 sampai resign dari Harian Bernas awal tahun 2003 untuk memulai era baru di grup Tribun hingga pensiun per 1 Desember 2019.

Hj Arie Giyarto mengaku buku ini hanya merupakan bagian kecil dari perjalanan karir jurnalistiknya sejak tahun 1968. “Isi buku ini merupakan kumpulan tulisan feature saya sejak tahun 2017 hingga 2019. Buku ini jadi warisan monumental untuk dua putri saya dan semoga bisa menginspirasi wartawan-wartawan muda,” kata eyang dari seorang cucu ini.

Ia mengaku, profesi wartawan berbeda dengan profesi lain, terutama dalam hal waktu/jam kerja. Wartawan tidak mengenal jam kerja. Mereka bekerja 24 jam. Dan saking cintanya pada profesi wartawan, bisa dibilang ia menghabiskan waktunya di kantor.

“Dulu sampai anak saya yang kecil protes. Dia bilang, ‘Bu lama-lama saya nggak mau jadi anak ibu!’. Lho kenapa? tanya saya. ‘Habis ibu jarang di rumah’,” kisah Bu Arie yang disambut tepuk tangan hadirin. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here