Home News Wartawan Sepuh Menatap Masa Depan Yogyakarta

Wartawan Sepuh Menatap Masa Depan Yogyakarta

131
0
Para wartawan senior yang tergabung dalam Paguyuban Wartawan Sepuh (PWS) Yogyakarta menulis buku “Yang Hilang di Yogya” (2020) dan “Yogya Masa Datang – Impian-impian Wartawan Sepuh” (2021). Kedua buku yang bicara tentang Yogya masa lalu dan masa datang itu diterbitkan ulang oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayaan) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Sebelumnya, buku diterbitkan oleh PWS Yogyakarta tahun 2018 dan 2020. Foto : Kiriman YB Margantoro

BERNASNEWS.COM – Wartawan itu bukan sejarawan, meski mungkin ada yang berlatar belakang pendidikan ilmu sejarah. Namun dengan latar belakang ilmu beragam dan sebagian otodikdak, karya tulis jurnalistik wartawan dapat menjadi bagian dari sejarah, baik sejarah kehidupan seseorang, masyarakat, bangsa, negara dan dunia.

Dari sisi waktu, kita mengenal ada kemarin atau yang lalu, sekarang dan masa depan. Bagi wartawan, peristiwa di masa lalu yang laten maupun kondisional, peristiwa faktual sekarang dan peristiwa teragenda yang akan datang dapat membuahkan karya jurnalistik. Peristiwa laten masa lalu, misalnya peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 9 Februari, akan menjadi momentum refleksi bagi jurnalis di tanah air. Refleksi tentang apa yang sudah dilakukan bagi bangsa dan Negara, serta apa yang harus terus dilakukan untuk Indonesia yang semakin tangguh dan tumbuh.

Kata “Now” (sekarang) yang aneh itu, menurut BJ Groeschel, CFR dan Bert Ghezzi (2014), adalah ekspresi paling singkat dan biasa dari saat sekarang. Sekarang atau “Now”  adalah ide paling misterius. Jangan pernah meremehkannya. Dia bergerak melalui waktu. Dia datang dari hari tanpa kemarin dan terus bergerak tanpa besok. Waktu lampau hanyalah sebuah kenangan. Kesignifikannya datang dari fakta bahwa ia memiliki efek abadi ke kata sekarang atau “Now”. Waktu akan datang hanyalah perkiraan atau dugaan. 

Para para wartawan sepuh kiranya percaya hal itu, setidaknya penulis sendiri. Namun yang penting adalah, wartawan sebagai penulis dan salah satu insan penoreh peradaban, mencoba menuliskan masa lalu itu, masa sekarang dan prakiraan masa depan. Tentang masa lalu yang dapat ditulis dan didokumantasikan adalah “sesuatu yang hilang” di sebuah kota bernama Yogyakarta. Wartawan menuliskan hal itu pada saat “sekarang” (waktu itu). Pada “saat sekarang” pun, mereka menuliskan masa depan itu.

Maka terbitlah buku bertajuk Yang Hilang di Yogya (tahun 2020) oleh 33 wartawan dan Yogya Masa Datang – Impian-impian Wartawan Sepuh (tahun 2021) oleh 34 wartawan yang tergabung dalam  Wartawan Sepuh (PWS) Yogyakarta. Buku diterbitkan ulang Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Sebelumnya, kedua buku itu diterbitkan oleh PWS Yogyakarta.

Apa saja yang sudah “hilang” di Yogyakarta? Tidak terasa antara lain : beberapa kampung, beberapa bioskup, Seni Sono, beberapa pasar, Bong Suwung, colt kampus, Balapan yang tidak ada lagi balapan, Asdrafi, perpustakaan Hatta, percetakan Radya Indria yang mencetak mata uang RI, toko buku Gunung Agung, dan sebagainya.

Sedangkan Yogya masa datang antara lain : Yogya ramah difabel, ramah lalu lintas, health tourism, menuju kampung dan kota literasi, Malioboro untuk pejalan kaki, gudangnya entrepreneur kreatif, perlunya gedung konser, tanpa koran (?), tanpa sampah visual, sampai Yogya sebagai kota buku. Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayaan) DIY Aris Eko Nugroho SP MSi dalam pengantar buku Yogya Masa Datang mengemukakan, kumpulan gagasan semacam ini bukan semata-mata sebagai impian namun dapat dimanfaatkan oleh kita bersama guna menentukan langkah optimis dan optimal dalam menatap masa depan yang lebih baik.

Ketua PWS Yogyakarta Drs Oka Kusumayudha mengemukakan, PWS adalah paguyuban sosial berbasis kekeluargaan, spontan dan bersifat manasuka, kerelawanan untuk menghimpun mempererat persaudaraan pada saat-saat intensitas kerja sebagai jurnalis yang terinstitusi dalam lembaga pers tidak lagi terhubung.

Buku Yogya Masa Datang adalah bagian dari cara warga PWS memaknai lingkungan hidupnya, lingkungan sosial, lingkungan kultural dan lingkungan piolitik kebudayaannya. Dengan kata lain, PWS berharap mampu terlibat dalam ekosistem kebudayaan masyarakat Yogya dengan memberi sumbangan pemikiran yang bermakna. Sebab utamanya, daya kekuatan warga PWS adalah pemikiran, termasuk impian-impiannya untuk masa depan yang lebih baik.

Menurut hemat penulis, setiap penerbitan buku oleh seseorang atau komunitas, apalagi untuk kota yang menjadi tempat kelahiran, belajar, berkarya dan mungkin menjalani masa tua seperti Yogyakarta, kiranya patut diapresiasi. Buku adalah mahkota wartawan, kata jurnalis senior Jakob Oetama (alm). Baik buku solo atau antologi, buku-buku karya wartawan Yogyakarta patut ditunggu masyarakat literasi, selain karya jurnalistik mereka. (YB Margantoro, Praktisi Media dan Pegiat Literasi).    

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here