Home News Warga Srandakan Minta GKR Hemas Hentikan Tambang Pasir di Kali Progo

Warga Srandakan Minta GKR Hemas Hentikan Tambang Pasir di Kali Progo

128
0
GKR Hemas turun dari mobil saat melihat truk bermuatan pasir melintas ketika ia melakukan inspeksi mendadak di lokasi penambangan pasir Sungai Progo di wilayah Desa Trimurti, Srandakan, Bantul, Yogyakarta, Senin (11/10/2021). Foto: Istimewa

BERNASNEWS.COM – Warga Padukuhan Nengahan, Desa Trimurti, Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul meminta GKR Hemas agar aktivitas penambangan pasir di sepanjang Kali Progo dihentikan. Sebab sejak tahun 1963 bantaran Kali Progo di wilayah padukuhan tersebut dimanfaatkan masyarakat untuk menanam rumput pakan ternak dan sayuran, namun sekarang dijadikan penambangan pasir.

Hal itu disampaikan warga saat GKR Hemas berkunjung ke padukuhan tersebut, Senin (11/10/2021), untuk merespon keluhan warga yang resah atas aktivitas penambangan pasir di Kali Progo tersebut.

Matur sembah nuwun Gusti Ratu kerso rawuh wonten mriki (Terima kasih Gusti Ratu bersedia datang ke sini). Warga sudah bingung harus mengadu kemana lagi. Harapan kami tinggal kepada Ngarsa Dalem dan keraton. Mohon dengan sangat ini (lokasi penambangan) segera ditutup,” kata Marsudi Harjono, warga Nengahan kepada GKR Hemas.

GKR Hemas berdialog dengan salah satu tokoh masyarakat Trimurti, Srandakan, Bantul terkait penolakan penambangan pasir Sungai Progo, Senin (11/10/2021). Foto: Istimewa

Menurut Marsudi, sejak tahun 1963 bantaran Kali Progo yang berada di padukuhannya dimanfaatkan masyarakat untuk menanam rumput pakan ternak dan sayuran. Selain itu, di sepanjang bantaran sungai dahulu juga banyak tumbuh pohon kelapa. “Tapi sekarang kondisinya jadi seperti apa, Gusti Ratu sudah pirsa (lihat) sendiri,” kata Marsudi.

Dikatakan, aktivitas penambangan pasir di padukuhan tempat tinggalnya itu sudah berlangsung beberapa tahun. Tidak tanggung-tanggung, lahan di tepi sungai seluas lebih dari 8 hektar itu menjadi rusak. Selain itu, para penambang mengambil pasir di Kali Progo hingga kedalaman 20 meter.

Menurut Marsudi, warga sekitar bukan tidak bereaksi atas aktivitas penambangan yang terjadi. Sebanyak 560 warga Padukuhan Nengahan dan Srandakan sudah melakukan penolakan dengan tanda tangan disertai fotokopi KTP di hadapan Dukuh Nengahan dan Kapolsek Srandakan.

GKR Hemas berdialog dengan pejabat Muspika Srandakan terkait penolakan penambangan pasir Sungai Progo. Tak hanya merusak sungai, penambangan juga telah merambah 8 hektare lebih tanah milik keraton yang selama ini ditanami rumput pakan ternak oleh warga. Foto: Istimewa

“Warga yang ikut nambang sebenarnya tidak banyak, Gusti. Hanya 49 orang. Itu pun sebagian besar dari luar Nengahan,” tambah Marsudi.

Marsudi pun memohon kepada GKR Hemas agar lahan di bantaran Kali Progo yang merupakan tanah Kasultanan (Sultan Ground) agar segera diberi surat kekancingan (semacam surat keputusan) dari keraton. “Kalau (lahan) sudah dikasih kekancingan, Gusti, warga sini jadi lebih manteb buat menjaganya,” tandas Marsudi.

Sementara Prayit, tokoh pemuda Padukuhan Nengahan, mengiyakan apa yang disampaikan Marsudi kepada GKR Hemas. Menurut Prayit, penolakan warga atas pembukaan penambangan pasir di daerahnya sudah dimulai sejak 2016 silam. “Waktu itu, ada pengusaha yang ingin menambang di sini dan warga menolak,” kata Prayit.

Selanjutnya, pada tahun 2017 warga juga sudah melaporkan keberatan aktivitas penambangan pasir tersebut kepada berbagai instansi terkait di Pemkab Bantul, namun tidak ada tanggapan hingga sekarang.

Merasa tidak ditanggapi, warga akhirnya menempuh proses hukum namun kalah saat masalah itu dibawa ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). “Sekarang dalam proses kasasi,” imbuh Prayit.

Setelah proses panjang yang tidak kunjung membuahkan hasil tersebut, warga akhirnya memutuskan mengadu kepada Keraton Yogyakarta. Usai menyaksikan langsung serta mendengarkan keluhan warga, GKR Hemas menyatakan dirinya akan langsung menyampaikan kepada Sultan HB X agar segera ditindaklanjuti.

“Saya sekarang sudah melihat sendiri. Untuk itu hal ini akan langsung saya sampaikan kepada Ngarsa Dalem agar bisa segera ditindaklanjuti,” kata GKR Hemas di depan warga yang berada di lokasi, seperti dikutip Bernasnews.com dari rilis yang diterima Senin, 11 Oktober 2021 malam.

Saat dikonfirmasi, Lurah Trimurti, Srandakan, Bantul, Agus Purwaka menegaskan, sebagian besar aktivitas penambangan berada di atas lahan yang berstatus Tanah Kasultanan Yogyakarta atau Sultan Ground. “Saya pastikan sebagian besar aktivitas penambangan berada di atas Sultan Ground. Selain itu, saya pastikan tidak ada satupun tanah SHM yang ditambang,” kata Agus.

Setelah mengunjungi Srandakan, GKR Hemas yang didampingi cucunya RM Gustilantika Marrel Suryokusumo juga mengunjungi dam di wilayah Poncosari, Srandakan. “Itu lihat sendiri, bawahnya dam sudah digrowongi, pasirnya disedot sampai jebol damnya,” ujar GKR Hemas dengan nada marah.

Rangkaian kunjungan GKR Hemas ke bantaran Kali Progo itu merupakan bagian dari agenda keraton untuk menghentikan dampak lingkungan akibat pertambangan yang dilakukan secara sembrono.

Sebelumnya, baik Sri Sultan HB X, GKR Hemas dan anak cucunya secara bergantian maupun bersama-sama sudah beberapa kali mendatangi lokasi tambang di lereng Gunung Merapi. Bahkan, kala itu Sultan sempat menitahkan : Gunung bali gunung, yang artinya kurang lebih meminta tidak ada lagi perusakan. (*/lip)


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here