Home News Warga Dusun Babadan Melestarikan Lingkungan Melalui Proklim

Warga Dusun Babadan Melestarikan Lingkungan Melalui Proklim

161
0
Dusun Babadan, Desa Wedomartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman memiliki Program Kampung Iklim (Proklim) untuk melestarikan lingkungan melalui berbagai kegiatan produktif. Foto : Istimewa

BERNASNEWS.COM – Perubahan iklim/musm kini tak menentu. Sulit dipastikani kapan musim hujan dan kapan musim kemarau. Kondisi ini sangat berpengaruh pada pola tanam petani yang berdampak pada ketahanan pangan. Dan ini semua terjadi karena ulah dan keserakahan manusia yang mengubah hutan pohon jadi hutan beton, menguban lahan pertanian menjadi permukiman, mengubah sawah menjadi kafe dan sebagainya.

Menyadari hal itu, warga Dusun Babadan, Desa Wedomartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, DIY, membuat langkah kecil namun sangat berarti. Melalui Program Kampung Iklim (Proklim), mereka melakukan berbagai upaya untuk melestarikan lingkungan.

Pemanfaatan lahan sempit. Foto : Istimewa

Kepala Dusun Babadan Trisuci Triliyantuti SH mengatakan, warga Dusun Babadan berkomitmen untuk melestarikan lingkungan dengan berbagai cara seperti pengendalian kekeringan, banjir dan longsor. Beberapa komponen yang mendukung upaya tersebut antara lain pemanenan air hujan dengan membuat lubang penampung air.

“Saat ini ada 20 unit lubang penampung air dalam bentuk kolam ikan. Banyak warga yang memiliki kolam ikan sebagai penampung air,” kata Trisuci, Jumat (11/9/2020).

Bank sampah. Foto : Istimewa

Selain itu, dibuatkan peresapan air dengan biopori yang saat ini berjumlah 100 unit, porak 30 unit dan Saluran Pembuangan Air Hujan (SPAH) sepanjang 0,15 hektar. Hal ini dilakukan untuk menahan air hujan agar meresap ke dalam tanah dan tidak sekadar lewat karena sebagian besar permukaan tanah baik jalan maupun halaman/pekarangan rumah beraspal dan cor/konblok.

Pupuk cair dari sampah basah. Foto : Istimewa

“Lubang biobori banyak terdapat di halaman rumah warga dan di jalan-jalan lingkungan. Sementara porak dalam bentuk galian memanjang meresapkan air di beberapa bagian persawahan. Sedangkan SPAH di jalan-jalan lingkungan di seluruh wilayah Dusun Babadan,” kata Trisuci dalam laporan pendukung pengusulsan Proklim 2020 Dusun Babadan.

“Dengan adanya biopori, porak dan SPAH maka air hujan meresap ke dalam tanah sehingga sumur-sumur warga tidak kering meski pada musim kemarau,” katanya.

Saluran peresapan air hujan. Foto : Istimewa

Selain membuat peresapan air, melalui Proklim tersebut warga Babadan melakukan penghematan penggunaan air. Hal ini dilakukan dengan cara memanfaatkan kembali air yang sudah dipakai untuk keperluan tertentu dan pembatasan penggunaan air.

“Air hujan dan buangan dimanfaatkan kembali untuk kolam ikan dan penyiraman. Sementara pembatasan penggunaan air dilakukan warga dengan menggunakan shower dan ember di kamar mandi,” kata Kepala Dusun Babadan Trisuci.

Biopori untuk peresapan air hujan. Foto : Istimewa

Kemudian warga juga membuat terasering mencakup saluran peresapan, saluran pembuangan air dan tanaman penguat. Terasering di beberapa bagian persawahan dengan kontur lahan melereng di bagian tepi barat dan sebagian di wilayah timur dusun.

Sementara Petrus Garoko, salah satu aktivis dalam Proklim Dusun Babadan, mengatakan, Proklim merupakan upaya warga Dusun Babadan dalam melestarikan alam lingkungan. Untuk mendukung program tersebut, warga sepakat dan bergotong-royong melakukan kegiatan pelestarian lingkungan. Misalnya, warga sepakat tidak membakar sampah, termasuk jerami kering usai panen. Sampah-sampah diolah menjadi pupuk organik dan sampah yang bernilai ekonomi disetor ke bank sampah yang dikelola warga.

Ipal komunal. Foto : Istimewa

“Kebetulan saya sendiri mengolah sampah basah dan pupuk organtk/kompos seperti kulit buah atau buah-buah yang busuk, sisa sayur atau jenis sampah basah lainnya untuk diolah menjadi pupuk cair. Pupuk cair tersebut digunakan warga untuk memupuk tanaman hias di halaman/pekarangan rumah maupun tanaman pangan di lahan pertanian,” kata Petrus Garoko.

Sementara kotoran hewan, menurut Garoko, selain diolah untuk pupuk kompos juga menjadi sumber energi biogas. “Banyak kegiatan yang dilakukan warga melalui Proklim untuk melestarikan alam lingkungan agar tetap bersih, sehat, sejuk dan nyaman. Dan semua warga sangat kompak dan aktif mengikuti/melaksanakan program tersebut,” kata Petrus Garoko.

Kandang kelompok ternak. Foto : Istimewa

Dan upaya warga tersebut membuahkan hasil. Selain lingkungan Dusun Babadan kini bersih, sehat dan sejuk, air juga tetap melimpah meski pada musim kemarau sehingga warga bisa menanam apa saja sepanjang musim dengan pola tanam padi-padi-palawija, padi-palawija-padi serta penerapan pola tanam hortikultura tumpang sari/tumpang gilir. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here